Sebuah Ilusi Bahwa Kita Punya Kendali

0
176

We believed we had ‘the control’, until we found out we never were. 

Kita selalu berpikir bahwa kita memiliki kendali penuh atas informasi yang kita terima di media sosial. Sampai akhirnya kita menggunakan media sosial dengan sesuka hati hingga menyelam dalam arus informasi. Tanpa disadari, setiap ‘klik’ yang kita lakukan dapat menghasilkan sistem yang bekerja secara kompleks dalam menyaring, mengarahkan, dan membentuk bagaimana cara kita berpikir. 

Sumber foto: tangkapan layar film The Social Dilemma.

Media sosial menawarkan berbagai konten yang menarik. Dengan aksesnya yang sangat mudah dan gratis, media sosial membuat kita dengan mudah mengakses informasi yang berguna untuk memperluas minat dan pandangan kita terhadap dunia luar. Kita menerima, menggunakan, dan memanfaatkan fitur yang ada di media sosial tanpa beban. Kita merasa seperti kitalah yang punya “kuasa”. Yet, in fact, they sell our attention.

Perusahaan-perusahaan teknologi dibayar oleh pengiklan supaya bisa tetap beroperasi, bagaimanapun mendesain sebuah platform adalah bisnis bagi mereka. Setiap perusahaan teknologi sering kali mempunyai tiga tujuan utama, yaitu yang pertama adalah engagement — tujuan yang berhubungan dengan keterlibatan penggunaan. Kedua, tujuan pertumbuhan — yang mana membuat pengguna kembali, menambah waktu layar, serta agar pengguna mengundang banyak teman. yang ketiga adalah revenue — untuk memastikan bahwa dua tujuan sebelumnya berjalan dengan sesuai keinginan, perusahaan teknologi dapat menghasilkan uang sebanyak mungkin dari iklan. Ketiga tujuan ini beroperasi dengan sistem yang sering kita sebut sebagai algoritma yang mana memiliki tugas untuk mencari tahu apa yang harus ditunjukkan dan direkomendasikan pada pengguna, sehingga tujuan-tujuan tersebut terus meningkat.

Tak hanya menyesuaikan konten berdasarkan pola perilaku pengguna, algoritma juga secara aktif mengondisikan perilaku pengguna supaya tetap terlibat dalam ekosistem digital. Contohnya fitur notifikasi, yang mana notifikasi dirancang bukan hanya untuk memberitahu kita tentang aktivitas terbaru tetapi juga untuk menarik perhatian dan mendorong kita kembali ke platform. Setiap kata, bunyi, warna, dan angka yang muncul pada ikon aplikasi bukan sekedar pemberitahuan, melainkan strategi psikologis yang memanfaatkan rasa ingin tahu dan fear of missing out (FOMO) yang dimiliki oleh setiap orang.

Sistem algoritma mengendalikan informasi yang kita lihat. Konten yang muncul pada linimasa kita adalah hasil dari bagaimana algoritma mengolah aktivitas dan data kita di media sosial melalui tombol suka, riwayat pencarian, dan juga lokasi GPS. Algoritma membuat model semakin akurat dalam memprediksi langkah kita selanjutnya dan memunculkan konten-konten dengan dalih ‘recommended for you’. Kalau bukan kita sendiri yang membuka peluang untuk masuknya pandangan lain, maka kita yang akan terjebak. 

Tentu saja kita tidak mau terjebak dalam algoritma media sosial, bukan? Solusinya adalah dengan memastikan bahwa notifikasi tidak terlalu merayu kita untuk terus-menerus membuka notifikasi. Pastikan juga  kita membuka peluang untuk informasi baru dengan sudut pandang yang berbeda dan yang paling penting adalah kita tidak dalam kontrol media sosial. Jadi, apakah kamu masih ingin menjadi sekadar produk dalam ekosistem digital ini atau kamu yang akan menentukan arah masa depanmu sendiri?

 

Fatimah Raudhatul Jannah (Opini)
Sekretaris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here