Menilik Kembali Kriteria Wisudawan Terbaik di Unesa

0
309

Di tengah riuhnya tepuk tangan wisuda pada periode 111 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), terbersit sebuah pertanyaan, “Mengapa kriteria wisudawan hanya dihitung dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)?”. Unesa memiliki julukan “Kampus Para Juara”, tetapi sepertinya, makna “juara” tersebut belum terakomodasi dalam menentukan wisudawan terbaiknya.

“Secara pribadi, kecewa dengan bagaimana Unesa menentukan mahasiswa berprestasi hanya berdasarkan IPK, mengingat Unesa selalu mengagungkan motto “Kampus Para Juara”, tetapi nyatanya apa? Para juara hanya diapresiasi dengan insentif. Menurutku, itu kurang cukup memberikan apresiasi,” ungkap X, salah satu alumni Unesa.

Fenomena ini sangat terasa seraya para mahasiswa yang lulus dengan IPK tertinggi dipanggil ke depan panggung. Padahal, ada banyak mahasiswa yang telah mengharumkan nama kampus dengan peraihan prestasi non-akademik, tetapi tidak mendapatkan pengakuan serupa.

Rupanya, kekecewaan ini bukanlah hal baru. Alumni lainnya, Y, turut membagikan pengalamannya. “Dulu, saat aku wisuda, aku berbarengan dengan seorang mahasiswa yang memiliki segudang prestasi. Namun, ia tidak begitu disorot untuk dijadikan wisudawan terbaik,” ungkapnya. Y menambahkan bahwa dulu pernah ada janji bahwa kriteria penilaian mahasiswa berprestasi tidak hanya berpatok kepada IPK saja, tetapi juga prestasi yang pernah diraih. Namun, kenyataannya? Hingga wisuda terakhir pun masih sama saja.

“Banyak mahasiswa yang rela membagi waktu, pikiran, dan badan mereka demi keseimbangan antara kehidupan kelas dan luar kelasnya agar berdampak lebih luas. Aku kenal dengan beberapa mahasiswa yang selama berjuang, ia rela tidur dua hari sekali,” tutur X.

Intinya, IPK memanglah salah satu kriteria penting, tetapi bukan berarti harus menjadi satu-satunya kriteria penentu wisudawan berprestasi. Angka IPK mampu menunjukkan ketajaman akademik, tetapi tidak cukup merekam kerja keras dan keuletan yang tak terlihat di dalam transkrip. Subjektivitasnya juga jelas — nilai sering bervariasi tergantung dosen, prodi, atau fakultas, sehingga kerap tak konsisten. Mengandalkan IPK secara semata-mata ibarat menilai laut dari tetes air, ada benarnya, tapi jauh dari menyeluruh.

Penilaian wisudawan terbaik sejatinya memerlukan pendekatan holistik, bukan hanya terpaku pada angka sempit seperti IPK. Prestasi nasional dan internasional, riwayat publikasi dan penelitian, jejak kepemimpinan dalam organisasi, dan kontribusi dalam pengabdian masyarakat menawarkan gambaran yang lebih lengkap tentang keunggulan. Mengabaikan aspek-aspek ini berisiko mereduksi makna “juara” menjadi sekadar kecakapan akademik. Padahal, nilai sejati seorang mahasiswa sering kali terletak pada pengaruh mereka di luar ruang kelas.

Menariknya,  Unesa sebenarnya sudah memiliki sistem penghitungan yang lebih holistik melalui SIPENA, namun sistem ini tidak digunakan untuk menentukan wisudawan terbaik. Upaya mendorong perubahan sudah dilakukan, mulai dari BEM Universitas yang bersurat ke Wakil Rektor, hingga mahasiswa yang mengirim email ke dekan fakultas. Pernah ada wacana bahwa sistem tersebut akan diganti, tetapi hingga wisuda periode 111, belum ada perubahan yang signifikan. Padahal, Unesa sendiri telah memiliki sistem yang lebih komprehensif.

Harapan untuk merubah sistem penghargaan wisudawan di Unesa terus berlanjut. Jika memang IPK tetap menjadi dasar utama, mungkin sebaiknya gelar yang diberikan pun disesuaikan menjadi “mahasiswa terpintar”, bukan “wisudawan terbaik” yang seharusnya mencerminkan keunggulan yang lebih luas. Lebih ideal lagi jika Unesa mengembangkan kategori khusus bagi mahasiswa berprestasi di luar akademik, sehingga panggung kehormatan wisuda benar-benar mencerminkan berbagai keunggulan.

Sebagai “Kampus Para Juara”, Unesa memiliki peluang untuk mendefinisikan ulang makna juara. Bukan sekadar juara kelas, tetapi juga juara kompetisi, juara penelitian, juara organisasi, dan juara pengabdian. Dengan begitu, julukan “Kampus Para Juara” bukan hanya omong kosong, tetapi terwujud dalam sistem pengakuan dan penghargaan yang adil dan komprehensif.

Semoga wisuda periode mendatang menjadi momentum perubahan, di mana panggung kehormatan tidak lagi ekslusif milik mereka dengan IPK sempurna, tetapi juga para juara sejati yang telah mengharumkan nama Unesa di berbagai bidang. Karena sejatinya, ada banyak jenis keunggulan yang membentuk kualitas lulusan Unesa yang sesungguhnya, dan semua layak mendapat pengakuan yang setara.

Penulis : Rendy Maulana Yaqin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here