Beberapa waktu yang lalu, di tengah perjalanan menuju Banyuwangi, naik motor Vario butut yang karburatornya sudah uzur, aku terjebak macet di jalur Pantura. Bersama ratusan truk raksasa yang entah memuat apa, aku terpanggang panas dan tertelan debu siang itu. Jalur Pantura yang katanya urat nadi perekonomian bangsa, kok bisa macet begini? Batinku.
Kemacetan berlangsung berjam-jam, membuat semua orang geram tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di depan sana. Maklum, macet itu kan menjalar seperti ular, melingkar panjang tanpa ujung yang jelas. Dan sialnya, aku ada di buntutnya. Mulailah muncul spekulasi dari para sopir truk, ada yang bilang ada kecelakaan, ada yang bilang mobil pejabat kejeblos di lubang jalan. Banyak teori konspirasi siang itu.
Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, layaknya pesan berantai, terdengar kabar bahwa biang kerok macet ini adalah demo buruh. Spontan, suasana berubah. Bukan lagi bingung, tapi lebih ke sebal. Kini sumber kekesalan para “buntut ular” bergeser dari macet ke para buruh.
“Wo alah, onok ae,” gerutu seorang sopir.
“Kerjo, kari kerjo ae kok ngerepoti ae! Opo sih njaluke?” teriak sopir lain.
Mendengar itu, aku kaget. Kok bisa mereka langsung menyalahkan para buruh? Apa buruh salah karena mogok kerja dan menyebabkan macet?
Siang yang sudah panas kini makin panas oleh pikiranku sendiri. Aku penasaran, lalu bertanya pada seorang sopir di dekatku, “Kok bisa macet gini gimana ceritanya, Pak?”
“Gak ngerti, Mas. Katanya sih ada yang demo. Mereka iki lo, ngerepoti ae kerjo e. Dikit-dikit demo, dikit-dikit demo! Wong ya gak ada hasil e, tapi seneng banget demo. Mbok ya diomongin baik-baik, ngapain demo? Ngerepoti orang lain aja. Kalo gini kan saya telat, emang mereka mau tanggung jawab?” katanya, diiringi anggukan si kernet di sampingnya.
Aku, yang dari tadi gerah di bawah matahari, ikut gerah mendengar ucapan itu. Panas, debu, dan macet berjam-jam sukses mengubah batinku. Tanpa pikir panjang, aku ikut menyalahkan para buruh di depan sana. Bagaimana bisa mereka bersikap arogan dan melupakan orang-orang di sekitar mereka?
Singkat cerita, kemacetan mulai terurai. Kendaraan perlahan bergerak, dan aku pun kembali menggeber motorku yang ngos-ngosan. Entah bagaimana situasi demo itu berakhir. Apakah tuntutan buruh dikabulkan? Apakah mereka ditangkap? Kemungkinannya kecil, lebih masuk akal kalau mereka bubar karena lapar.
Saat mulai keluar dari buntut kemacetan, aku melihat pabrik besar di sisi jalan. Di depannya, ada sisa- sisa demonstrasi. Spanduk penuh coretan, aparat, demonstran yang berpencar, satpam dengan wajah seram, dan—entah darimana datangnya—pedagang kaki lima.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada seorang lelaki tua yang duduk di warung bakso. Terlihat lelah sambil menyendok kuah panas, aku langsung menepikan motor dan menghampiri. Jujur saja aku langsung ingin nyemprot bapak itu, “Gara-gara lu, gue macet berjam-jam!” dengan nada seperti yang di sinetron sinetron, Tapi sebagai warga negara yang (katanya) baik dan Pancasilais, aku menahan diri. Lebih baik melakukan pendekatan humanis.
Aku memesan bakso dan duduk di sampingnya. Dengan begini, percakapan bakal terjadi natural, dan resiko kena jotos bisa diminimalisir.
Tanpa basa-basi, aku langsung bertanya, “Habis demo ya, Pak?” “Iya, Mas,” jawabnya.
Terjawab sudah rumusan masalah pertamaku. Langsung lanjut ke yang kedua, “Gimana hasilnya, Pak?” Bapak itu meletakkan sendoknya, menatapku, lalu berkata, “Yowes ngunu kui, Mas.”
Aku bingung. Maksudnya apa? Apakah bapak ini mengira aku dan dia punya ikatan batin sampai aku harus paham maksudnya tanpa penjelasan?
Tak puas, aku ulang pertanyaanku. Kali ini dia menjawab lebih jelas, “Yowes begitu, Mas. Mau minta apa? Mereka-mereka itu, sampai mati pun nggak bakal denger kami. Kami ini buruh, udah kayak apa aja.”
Ada sorot pasrah di matanya. Tapi di balik itu, aku melihat api yang belum benar-benar padam.
Aku menelan ludah. Lalu dengan agak sok tahu, aku bertanya lagi, “Kalau udah tahu gitu, kenapa masih demo aja, Pak? Kenapa gak diomongin baik-baik? Bikin macet, tapi nggak dapet apa-apa?”
Mungkin pertanyaanku kelewatan. Bapak itu kelihatan agak tersinggung.
“Sampeyan iki aneh-aneh, Mas. Wong udah demo kayak gini aja mereka nggak denger, apalagi cuma diomongin baik-baik! Yang ada kami diakali. Wong kami ini SMA aja gak tamat, sementara bos kami orang-orang pinter. Sebenernya kami juga nggak mau, Mas, panas-panasan begini, bikin macet. Tapi ya gimana lagi?”
Aku terdiam. Bakso yang tadi wangi kini terlupakan. Di kepalaku, terjadi pertempuran moral. Supir dan demonstran, siapa yang benar? Siapa yang salah?
Lalu aku sadar satu hal. Jika saja buruh mendapatkan haknya, tak akan ada demo, tak akan ada macet, tak akan ada umpatan di jalan. Buruh pun pasti lebih memilih bekerja ketimbang teriak-teriak di bawah matahari. Tapi kenyataannya, mereka tetap harus turun ke jalan.
Jadi, siapa yang sebenarnya salah?
Sebenarnya, tak ada yang suka demo. Tak ada yang suka teriak di jalan. Tapi jika sistem membuat dialog mustahil, jika musyawarah hanya jadi formalitas, maka apa lagi yang bisa mereka lakukan?
Lalu muncul pertanyaan lain, “Apakah buruh ini benar-benar terlalu “bodoh” untuk melakukan negosiasi yang lebih elegan? Atau justru ada yang sengaja membuat mereka tetap bodoh, supaya terus bisa dieksploitasi?”
Jika memang ada pihak yang sengaja membiarkan buruh tetap dalam keadaan lemah, maka demokrasi dan musyawarah seakan-akan hanyalah ilusi. Karena semua itu butuh satu syarat mutlak, kejujuran. Dan kalau itu tak ada, apapun yang dikatakan tentang dialog hanyalah basa-basi.
Tapi, mungkin aku terlalu berpikiran buruk? Negara ini kan berlandaskan Pancasila. Mana mungkin ada sistem yang sengaja membiarkan buruh tetap bodoh?
Kan… gak mungkin, kan?
Penulis: Priyo Jatmiko





