Bagaimana Jika Biasa Adalah Luar Biasa yang Sebenarnya?

0
169

Di zaman yang mengutamakan pencapaian daripada proses, kehidupan yang biasa sering dianggap sebagai kegagalan. Kita merasa bersalah hanya karena hidup biasa saja, Seolah setiap hari menuntut adanya pembuktian bahwa eksistensi kita penting, dibutuhkan, atau bahkan menginspirasi orang lain. Padahal hidup itu tidak harus selalu menjadi luar biasa bukan? 

Barangkali justru di situlah masalahnya: kita takut dianggap biasa. Mengapa kita begitu takut terlihat biasa? Mungkin karena dunia hari ini terlalu bising dengan sorotan. Media sosial menjadikan hidup seperti panggung yang tak pernah gelap. Kita terus diajak tampil, membandingkan, dan mengukuhkan eksistensi lewat pengakuan orang lain dimana ketakutan bukan lagi soal eksistensi, melainkan nilai diri. 

Social Comparison Theory, istilah populer dalam ilmu Psikologi Sosial, yaitu kecenderungan manusia menilai diri berdasarkan standar orang lain. Akibatnya, standar “cukup” pun ikut naik. Menjadi cukup saja tidak lagi cukup. 

Saya pernah menonton film yang berjudul Dead Poets Society yang disutradarai oleh Peter Weir pada tahun 1989. Menurut saya, film ini menghadirkan kesan  ruang sunyi di tengah kebisingan mental. Menariknya film ini tidak menawarkan solusi, namun justru memunculkan pertanyaan:

“Apa artinya hidup yang bermakna, jika bukan sekadar menjadi hebat?”

Mr. Keating, guru eksentrik yang menjadi pusat cerita dalam film itu, tidak memaksa murid-muridnya untuk menjadi juara, pintar, atau terkenal. Ia justru mendorong mereka menjadi benar-benar hidup. Melalui puisi dan pertanyaan, ia mengajak murid-muridnya untuk bisa Mengemukakan pendapat dan berani tampil berbeda. Ungkapan carpe diem (seize the day) mengingatkan kita untuk merebut setiap kesempatan. Katanya: Rebut harimu! Bukan untuk memukau dunia, namun untuk berani menulis baitmu sendiri, sekecil apa pun. 

Saat ini, hidup kerap dianggap sebagai ajang pembuktian keberhasilan, bukan sebagai ajang menceritakan proses penuh tekanan untuk jadi luar biasa. Namun film ini tidak menuntut kita untuk menyelamatkan dunia. Ia memeluk sisi kita yang paling manusia, keinginan untuk hidup dengan jujur, meski sunyi. Film ini menawarkan jalan lain, bahwa luar biasa kadang lahir dari hal yang biasa-biasa saja, Misalnya: menulis puisi untuk diri sendiri, membaca buku yang kita suka, atau berdiri di atas meja hanya untuk melihat dunia dari sudut pandang berbeda.

Salah satu adegan yang membekas ketika para siswa mulai membaca puisi dengan suara mereka sendiri, bukan untuk nilai, bukan untuk lomba, melainkan untuk merayakan hidup. Di dunia yang terus mendorong kita untuk jadi spektakuler, itu terasa revolusioner. Dead Poets Society tidak memberi kita formula sukses. Ia tidak menjanjikan akhir bahagia. Tapi ia menyodorkan satu pertanyaan penting:

“Apakah kamu benar-benar menjalani hidup?”

Ketakutan untuk terlihat biasa membuat kita lupa bahwa “luar biasa” bukan tentang gemerlap, namun tentang keberanian untuk hidup menurut versi diri kita masing-masing. Film ini mengingatkan bahwa menjalani hidup secara utuh lebih bermakna, daripada sekadar menjadi hebat.

Tulisan ini bukan resensi film secara teknis. Melainkan sepotong refleksi setelah menonton film yang terasa terlalu dekat dengan kehidupan pribadi. Jika kamu sedang merasa tersesat, barangkali ini saatnya untuk membuka buku puisi, berdiri di atas meja, dan mulai menulis baitmu sendiri.

“Carpe diem. Seize the day. Make your lives extraordinary.” — Mr. Keating

Penulis: Ayuryn Sava 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here