persgema.com, SURABAYA – Aksi Kamisan Surabaya kembali digelar di halaman Taman Apsari pada Kamis (25/9/2025) dengan rangkaian peringatan September Hitam. Kegiatan bertajuk “Rantai Impunitas yang Tak Pernah Tuntas” ini menghadirkan pameran karya, mimbar bebas, serta lapak baca yang melibatkan berbagai komunitas, organisasi mahasiswa, hingga lembaga bantuan hukum.
Koordinator Aksi Kamisan Surabaya, Mohamad Ihsan Aditya, menyampaikan bahwa peringatan September Hitam bukanlah sebuah perayaan, melainkan suara perlawanan untuk menolak lupa terhadap pelanggaran HAM berat yang hingga kini belum terselesaikan. Ia menambahkan, atas landasan itulah Aksi Kamisan terus digelar, bahkan ketika hanya dihadiri segelintir orang.
“Kita menolak lupa bahwa negara pernah melakukan pelanggaran HAM berat. Korban hingga kini belum mendapatkan keadilan. Bahkan kalau hanya dihadiri dua sampai tiga orang sekalipun, Aksi Kamisan tetap berjalan. Selama keadilan belum ditegakkan, kami akan terus melawan,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Ihsan sekaligus menyoroti rantai impunitas (bebas dari tuntutan, hukuman, atau konsekuensi atas suatu perbuatan) yang masih kuat melekat pada institusi kekuasaan. Sejak tragedi 1965, Semanggi, Tanjung Priok, Trisakti, Reformasi Dikorupsi, hingga kasus Kanjuruhan, negara dinilai gagal menuntaskan pelanggaran HAM berat. Aparat yang terbukti bersalah justru mendapat hukuman ringan, sementara korban dan keluarganya belum memperoleh keadilan.
“Selama pelaku pelanggaran HAM masih kebal hukum, rantai impunitas itu tetap ada. Inilah yang kami lawan. Aksi Kamisan adalah perlawanan damai untuk menuntut negara bertanggung jawab,” tegasnya.
Semangat perlawanan damai itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai rangkaian kegiatan peringatan September Hitam. Peserta dapat melihat pameran poster dan puisi bertema pelanggaran HAM, serta mengikuti mimbar bebas yang terbuka untuk orasi maupun pembacaan karya sastra. Selain itu, terdapat lapak baca yang digelar dari hasil kolaborasi dengan Komunitas Rabo Sore yang turut menambah ruang refleksi melalui literasi. Menurut perwakilan komunitas tersebut, keterlibatan mereka menjadi kesempatan penting untuk mengaitkan sastra dengan peristiwa politik.
“Kami percaya sastra tidak terpisah dari politik. September Hitam ini jadi pengingat bahwa melalui novel, puisi, dan orasi, kita bisa memahami kekerasan negara dan sejarah kelam bangsa. Harapannya, anak-anak muda makin dekat dengan literasi,” jelas salah satu anggota Rabo Sore.
Selain komunitas literasi, aksi ini juga diwarnai partisipasi mahasiswa dari berbagai kampus. Salah satunya, Bintang dari Universitas Airlangga, yang turut menyampaikan orasi dan membacakan puisi. Ia menuturkan bahwa keterlibatannya dilatarbelakangi pengalaman pribadi dan kedekatan dengan salah satu korban pelanggaran HAM.
“Saya merasa ada panggilan untuk bersuara. Apalagi saya punya kawan, Gama, yang ditembak polisi. Dari situ saya belajar bahwa seni, seperti puisi, bisa jadi medium untuk menyadarkan masyarakat. Kita tidak boleh membiarkan pelanggaran HAM ini tenggelam dalam sejarah,” ungkapnya.
Kesaksian dan ekspresi melalui seni inilah yang kemudian berpadu dalam konsistensi Aksi Kamisan Surabaya. Selama korban pelanggaran HAM belum mendapatkan haknya dan keadilan belum ditegakkan, maka aksi yang digelar setiap Kamis ini terus menjadi ruang pengingat bagi publik untuk menyuarakan lewat aksi serupa.
Reporter: Livia Aulora, Firna Dwi Agustina, Alexza Putrie





