Diskusi Film Dirty Vote: Melihat Politik Melalui Layar

0
376
dokumentasi pribadi

Persgema.com – Menilik film Dirty Vote yang sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial, Dandhy Laksono selaku sutradara angkat bicara dalam forum diskusi dan nobar yang bertempat di Auditorium Benediktus, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Rabu (21/2).

Selain Dandhy, Feri Amsari selaku aktor sekaligus ahli hukum tata negara juga turut menyuarakan perspektifnya terkait fakta-fakta keculasan partai politik.
Dalam diskusi tersebut, Feri mengutarakan kegeramannya terhadap situasi politik Indonesia yang kurang ideal. Feri menilai partai politik (parpol) kurang berpihak kepada masyarakat. Ia mengibaratkan parpol layaknya kongsi dagang keluarga.

“Perpolitikan kita kacau, yang ada di Indonesia adalah perusahaan keluarga yang diberi nama partai politik. Seharusnya, partai menjadi wadah bagi publik untuk menyalurkan aspirasi,” ungkap Feri.

“Parpol lebih mirip perusahaan karena begitulah cara kerja perusahaan. Ketua partainya adalah CEO dan kader-kader mereka harus taat kepada perintah CEO,” sambungnya.

Di tengah diskusi, ada salah satu audience bertanya perihal indikator keberhasilan film Dirty Vote. Dandhy selaku sutradara pun menjelaskan bahwa ia sendiri tidak memiliki tolok ukur keberhasilan yang pakem untuk film Dirty Vote. Ia merasa senang dan bangga ada masyarakat yang mengapresiasi eksistensi film ini.

“Sebenarnya jika ditanya begitu aja, menurutku udah pujian dan sebuah kehormatan banget. Coba Anda bayangkan sebuah film dianggap setara dengan mesin politik dan partai politik. Karena film Dirty Vote yang akun Youtube-nya mulai 0 subscribers dibandingkannya dengan serangkaian kegiatan 75 hari kampanye,” kata Dandhy.

Dandhy juga menambahkan tiga faktor yang membuatnya percaya diri untuk mempublikasikan film Dirty Vote. Faktor pertama, ia memiliki materi, penelitian, informasi, serta data yang solid. Kedua, terlibatnya tiga ahli hukum tata negara, yaitu Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari sebagai pemeran utama yang kredibel dan berintegritas. Faktor terakhir ialah adanya dukungan dari para crew yang militan.

Pada akhir perbincangan forum, Dandhy Laksono menyebut bahwa penonton merupakan bagian dari kekuatan serta faktor penunjang dalam keberhasilan film Dirty Vote.
“Lalu, faktor kekuatan yang keempat adalah penonton,” pungkas Dandhy Laksono. (sf/fp).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here