Kalimat live action mungkin sudah tidak asing lagi di dunia layar lebar. Pasalnya, di tengah gempuran digital yang tak kunjung habis dengan inovasi terbaru demi menarik minat para konsumen, sebuah terobosan kini sedang naik daun di kalangan masyarakat pecinta seni sinematik. Live action, atau yang kerap disebut adaptasi nyata, merupakan bentuk perubahan karya dua dimensi menjadi film tiga dimensi. Adapun karya yang sering digunakan adalah manhwa, manga, atau manhua, meski tidak jarang juga adaptasi berasal dari bentuk karya tulis seperti novel atau cerpen.
Sebagai salah satu seri webtoon terpopuler yang diadaptasi dari novel Korea Selatan, Omniscient Reader’s Viewpoint tak pernah luput dari perhatian publik, terutama pecinta genre aksi dan fantasi. Karya yang ditulis oleh Singshong ini berhasil memikat perhatian pembaca lewat alur cerita yang kuat, karakter yang emosional dan berkesan, serta world-building yang rumit namun berhasil memikat pembaca dalam dunia penuh aksi dan fantasi. Maka tidak heran jika banyak pihak tertarik memanfaatkan popularitas seri ini untuk menjangkau platform yang lebih luas, termasuk melalui adaptasi live action yang diberi tajuk Omniscient Reader: The Prophecy.
I. Awal Tayang dan Antusiasme Penonton
Kabar mengenai film adaptasi webtoon Omniscient Reader pertama kali mencuat lewat trailer yang diunggah di laman YouTube. Video pendek berdurasi 1 menit 30 detik tersebut langsung menarik perhatian khalayak ramai. Namun, tak lama setelah perilisan, reaksi di media sosial terpecah menjadi dua: tanggapan negatif dari para penggemar seri asli dan antusiasme dari penggemar para aktor serta aktris yang terlibat.
Sedari awal, adaptasi ini menuai perhatian karena diketahui bahwa film bertema survival apocalypse yang dirilis pada 23 Juli dengan durasi 1 jam 57 menit ini disutradarai oleh sutradara terkenal Kim Byung Woo, yang merupakan sosok di balik film The Terror Live dan The Great Flood.
Selain itu, minat publik juga semakin meningkat ketika jajaran pemeran film ini diketahui merupakan sosok-sosok ternama seperti Jisoo BLACKPINK, Lee Min Ho, dan Ahn Hyo Seop, yang masing-masing memerankan Lee Ji Hye, Yoo Jung Hyeok, dan Kim Dok Ja. Namun, berbeda dengan webtoon dan web novel aslinya yang meraih popularitas tinggi, versi live action ini justru berujung pada kekecewaan. Banyak penggemar menyuarakan ketidakpuasan mereka atas bagaimana film ini merusak makna dan tidak menghargai arti cerita asli.
II. Kontroversi Usai Penayangan Live Action
Bertentangan dengan ekspektasi dari kalangan pecinta film yang menanti karya terbaru dari aktor dan aktris favorit mereka, mayoritas pembaca novel maupun webtoon Omniscient Reader tidak menaruh ekspektasi apapun sejak awal. Hal ini karena adanya citra bahwa karya yang diangkat ke layar lebar akan berbeda jauh dari cerita aslinya. Kondisi tersebut membuat respons penggemar menjadi hangat-hangat kuku, tidak antusias, dan bahkan beberapa tidak menaruh perhatian sama sekali. Ironisnya, perilisan film adaptasi ini justru menjadi bukti nyata bahwa stereotip tersebut bukan sekadar omong kosong belaka.
-
-
- Kritik Tajam Terhadap Sinematografi dan Penyutradaraan.
-
Visualisasi yang jauh dari ekspektasi menjadi sorotan utama dalam kritik terhadap Omniscient Reader: The Prophecy. Banyak warganet menyayangkan bagaimana adaptasi ini gagal menangkap esensi visual maupun emosi dari cerita aslinya. Salah satu keluhan terbesar adalah chemistry antarkarakter yang dinilai hambar dan tidak sesuai dengan kepribadian asli mereka. Netizen berpendapat bahwa karakter yang selama ini mereka kenal terasa seperti orang asing dan kehilangan identitas.
Tentunya, sutradara Kim Byung Woo juga tak luput dari kritik tajam, terutama terkait gaya pengambilan gambar yang dianggap tidak profesional. Dalam sebuah cuitan dari akun X @serynxi, disebutkan bahwa film ini terlihat seperti karya seorang amatir, bahkan menyerupai iklan atau sketsa komedi alih-alih film aksi. Kritik tersebut juga menyoroti penggunaan CGI yang dinilai buruk serta sinematografi yang terasa “mati rasa”. Cuitan itu viral dengan 5,6 juta tayangan dan 42 ribu likes, mencerminkan kekecewaan yang dirasakan mayoritas penggemar.
Tak hanya di media sosial, ulasan pedas juga muncul di situs mydramalist.com. Salah satu pengguna dengan nama cinnamonroll123 menyatakan:
“ORV adalah surat cinta untuk para pembacanya, tetapi film ini meludahi surat itu, mencabiknya dengan mesin penghancur kertas, menginjak-injaknya, membakarnya, lalu membuang abunya ke lautan.”
Ulasan ini mendapat dukungan dari komentar lain dengan nada serupa, yang makin memperkuat kekecewaan penggemar atas adaptasi tersebut.
2. Hilangnya Makna dan Ketidaksesuaian dengan Cerita Asli
Setelah banyaknya kontroversi dan kecaman publik, tim produksi merilis pernyataan resmi menjelaskan bahwa para sutradara dan tim produksi ingin membawa cerita ke “arah baru”. Keputusan ini seketika menuai amarah publik karena dinilai sebagai keputusan yang tidak masuk akal, lantaran tindakan ini bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap jalan cerita asli.
Salah satu perbedaan paling mencolok terlihat pada penggambaran karakter utama. Dalam novel aslinya, Kim Dok Ja adalah sosok yang mencintai karya tls123 dengan sepenuh hati, ia bahkan menganggap novel TWSA sebagai penyelamat hidupnya selama 10 tahun belakangan. Namun, dalam versi live action, Kim Dok Ja justru menyebut novel itu sebagai “yang terburuk”, yang terlihat sangat out of character.
Tak hanya itu, adaptasi film ini juga menyiratkan bahwa tls123 membuat Kim Dok Ja percaya bahwa ia bisa menulis ulang akhir cerita. Padahal dalam versi asli, Kim Dok Ja dengan tegas menyatakan bahwa dirinya bukan seorang penulis, melainkan pembaca. Peran penulis ada pada karakter Han Soo Young, dengan Yoo Jung Hyeok sebagai protagonis cerita. Ketiganya membentuk segitiga naratif yang sempurna, sebuah keseimbangan yang sayangnya diacuhkan dalam versi adaptasi ini dan berujung mengecewakan banyak pembaca.
3. Penghapusan dan Perubahan Adegan Penting dalam Cerita
Salah satu sorotan utama lainnya dari kekecewaan terhadap Omniscient Reader: The Prophecy adalah penghilangan berbagai adegan krusial yang mendefinisikan jalan cerita dalam versi webtoon maupun novelnya. Adegan seperti penayangan misi pertama di sekolah Lee Ji Hye dan penjelasan mengenai sistem dukungan dari konstelasi, yang sangat penting untuk memahami dunia dan logika cerita ORV tidak dimasukkan dalam versi film. Hal ini mengejutkan banyak penggemar karena adegan-adegan tersebut merupakan pondasi penting untuk alur cerita kedepannya.
Tidak hanya dihapus, beberapa adegan yang tetap dimasukkan pun mengalami perubahan besar yang menghilangkan identitas karakter. Salah satu contoh paling mencolok adalah penggantian senjata yang digunakan. Dalam cerita asli, senjata utama para protagonis seperti Kim Dok Ja, Yoo Jung Hyeok, Lee Ji Hye, dan Jung Hee Won adalah pedang, yang memiliki peran penting karena terhubung langsung dengan latar belakang tiap karakter. Perubahan ini berdampak besar pada Lee Ji Hye yang di cerita asli berperan sebagai inkarnasi dewa maritim dengan narasi yang menggunakan pedang.
Dalam versi adaptasi, senjata-senjata ini diganti menjadi senjata api. Perubahan drastis juga terus bertambah seiring jalannya cerita, di antaranya adalah penghapusan elemen fantasi dengan tidak adanya status window dan skill ikonik seperti Bookmark, serta perubahan dalam gelar King of No Killing yang dimiliki Kim Dok Ja. Hal ini diperparah dengan dihapusnya Theatre Dungeon Arc dan pengubahan karakter yang awalnya manusia menjadi monster demi mempersingkat jalan cerita.
Perubahan inilah yang membuat penggemar yakin bahwa adaptasi ini akan melenceng jauh dari cerita aslinya. Banyak yang merasa bahwa keputusan tersebut tidak hanya meremehkan cerita asli, tetapi juga merupakan bentuk penghinaan terhadap cerita yang dikenal dan dicintai oleh khalayak luas.
III. Penilaian Akhir dan Respons Publik
Banyak penggemar menggambarkan adaptasi ini sebagai “fanfiksi buruk yang tidak memiliki arah”, di mana mereka melihat adaptasi ini sebagai sebuah narasi buatan yang hanya menggunakan nama-nama karakter namun sama sekali tidak menggambarkan cerita aslinya. Oleh karena itu, tak mengherankan bila film ini menerima ulasan negatif secara signifikan dan merosot ke peringkat terbawah di berbagai platform streaming, termasuk Netflix.
Faktor besar yang mempengaruhi gagalnya adaptasi dengan anggaran kurang lebih Rp354 miliar ini di antaranya adalah perubahan besar dalam plot, pemilihan pemain, sinematografi atau arah pengambilan gambar, dan penyutradaraan secara keseluruhan. Hal-hal inilah yang membuat Omniscient Reader: The Prophecy menjadi contoh bagaimana adaptasi yang gagal memahami esensi cerita dapat berbalik menjadi bumerang.
Resensi oleh:
Puteri Maya Aulia Hasan
Redaktur Artistik





