Di bawah langit yang kadang tak ramah,
mereka berdiri tanpa banyak kisah.
Tangan-tangan kasar penuh luka,
namun tetap bekerja tanpa jeda.
Pagi buta sebelum mentari datang,
langkah mereka telah lebih dahulu berjuang,
menggenggam harap di sela lelah,
meski upah tak selalu sepadan dengan jerih payah.
Keringat jatuh seperti hujan yang diam,
tak terdengar, tak selalu dipandang.
Padahal dari sanalah roda berputar,
membangun dunia yang terus bergetar.
Hari Buruh bukan sekadar tanggal,
bukan hanya seruan yang menggema dangkal.
Ia adalah cerita tentang hak dan martabat,
tentang manusia yang ingin dihargai setara dan bermartabat.
Wahai tangan yang tak pernah diam,
suaramu kini tak lagi tenggelam,
karena setiap kerja yang kau beri
adalah nyawa bagi negeri ini.
Penulis: Nada Syaqilah





