“Perjuangan itu kita tidak mencari keuntungan apa-apa, kita berjuang untuk bangsa dan negara. Karena kita peduli dengan orang-orang yang hutannya dibabat, yang UKT -nya mahal, yang berjualan tetapi kesulitan. Kita peduli dengan orang-orang seperti itu dan tidak mencari keuntungan karena kita tidak berbisnis. Kita berjuang,” ujar Valleri, salah orator dalam aksi Senin lalu.
Kalimat tersebut berdengung di telinga massa aksi yang berkumpul di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. Senin (15/6/2026), cuaca sore itu seolah turut menyemangati para massa aksi yang sedang berkumpul di pelataran Taman Apsari. Matahari tidak terlalu terik, sementara angin berembus pelan, seakan meniup gelembung semangat para massa aksi.
Aksi bertajuk Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat diikuti oleh berbagai elemen masyarakat seperti mahasiswa, dosen, dan komunitas kolektif. Sore itu, massa dipenuhi keresahan terhadap kondisi perekonomian yang dinilai semakin mencekik. Koordinator lapangan aksi, Ichsan, menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi saat ini merupakan masalah yang krusial.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut dirangkum dalam delapan poin tuntutan yang dianggap konkret dan dapat diidentifikasi sebagai akar permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat.

Delapan tuntutan tersebut meliputi pencabutan RUU Polri 2026, pencabutan UU TNI 2025, pengembalian militer ke barak, penghentian program Makanan Bergizi Gratis (MBG), penghentian Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), penurunan harga BBM, stabilisasi nilai rupiah, serta penghentian eksploitasi sumber daya alam.
“Menurut kami, delapan poin tuntutan tadi merupakan permasalahan poin yang konkret dan bisa diidentifikasi sebagai akar masalah yang sangat krusial hari ini, dan harusnya segera dituntaskan dalam waktu yang cepat.” ujar Ichsan.

Ichsan juga menyoroti kenaikan harga bahan pokok yang terjadi hampir di seluruh sektor kebutuhan masyarakat. Selain itu, ia juga menyoroti penggunaan anggaran negara untuk program MBG yang dinilai menyerap alokasi dari berbagai sektor penting, termasuk pendidikan dan kesehatan.
“Hampir harga seluruh bahan pokok sudah melonjak, dan kita tak bisa memprediksi sampai kapan pemerintah mampu memberikan subsidi BBM, yang selama ini kita cemaskan suatu saat nanti bisa saja menjadi krisis. Dan tentunya, itu bisa berdampak ke segala sektor. Satu sisi juga pemborosan pada anggaran APBN yang dari MBG, tentunya MBG ini menginvasi hampir semua lini anggaran; mulai dari pendidikan dan kesehatan, dan juga segala proses pelaksanaan dan perencanaan daripada MBG ini tidak mengalami proses yang matang dan riset akademik”
Aksi berlangsung dengan kondusif hingga selesai. Ichsan menjelaskan bahwa aksi kali ini disiapkan dengan mengedepankan keamanan. Hal tersebut disiapkan untuk menghindari chaos dan mengedepankan kondusifitas.
Meski demikian, ia menilai gelombang aksi serupa akan terus bermunculan selama negara belum hadir untuk menyelesaikan kondisi yang dinilai multikrisis pada hari ini. Hal tersebut terbukti dengan ada banyaknya titik aksi demonstrasi yang tersebar di penjuru kota-kota besar.
Kondisi yang disebut sebagai multikrisis tersebut juga dirasakan oleh Dendi, ia merupakan salah satu peserta aksi yang datang seorang diri dengan keberaniannya. Ia mengaku resah terhadap kondisi negara saat ini dan menilai masih banyak sektor yang perlu diperbaiki.
Melalui aksi-aksi seperti hari ini, Dendi berharap agar tercipta banyak aksi lanjutan, setidaknya untuk menyadarkan dan mendorong terjadinya sebuah reformasi.
“kita butuh aksi seperti ini untuk menyadarkan atau mendorong sebuah reformasi…, aku juga berharap aksi seperti ini lebih banyak lagi”, tegas Dendi.
Tidak hanya keresahan, kemarahan juga dirasakan oleh sebagian peserta aksi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang mereka anggap tidak berpihak kepada rakyat. Valleri, salah satu orator yang berorasi pada aksi tersebut, menilai bahwa kondisi sekarang terdapat begitu banyak permasalahan, dan ia marah karena itu.
“Kita semua sudah marah. Entah kita tahu sumber masalah kita atau tidak, kita tetap marah. Pemerintah memecah belah kita menggunakan kemarahan yang kita punya dengan buzzer-buzzer yang mereka kerahkan,” ujarnya.

Menurut Valleri, apabila tuntutan dirumuskan dengan sebenar-benarnya, maka tidak akan cukup untuk menulisnya hanya dari beberapa lembar kertas saja.
“Tuntutan itu banyak. Mungkin kalau misalnya dituliskan dalam satu kertas, bisa jadi perlu berkertas-kertas,” katanya.
Valeri menilai bahwa kebijakan pemerintah saat ini lebih banyak merugikan masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis terhadap berbagai narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Pesan saya, jangan mau kita dipecah belah. Karena kita yang rugi dan dirugikan oleh pemerintah yang dzalim; yang melakukan eksploitasi, yang melakukan penggiringan opini, yang memahalkan UKT, yang memahalkan bensin, dan sebagainya sebagainya sebagainya. Kita dirugikan oleh itu dan itulah yang harus kita lawan,” tegasnya.
Ichsan menegaskan kembali, bahwa ketidakadilan hari ini disebabkan oleh banyaknya masalah lain yang harus segera diatasi. Dan yang nampak hari ini adalah masalah-masalah yang kita rasakan, masalah ketidakadilan ketika rakyat-rakyat yang sebetulnya ingin bersuara, namun terbantahkan oleh buzzer yang bekerja.
Penulis : Ahmad Abby Yusuf Firdaus





