persgema.com, SURABAYA — Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali gelar diskusi dan pertunjukan seni di Joglo FBS (30/9/2025) dalam rangka memperingati September Hitam. Kegiatan tahunan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk merawat ingatan terhadap berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang pernah terjadi di Indonesia.
Salah satu Kolektif Lingkar Studi Bahasa dan Seni, menjelaskan bahwa kegiatan di tahun ini dikaitkan dengan tema “17 + 8” sebagai simbol perjuangan dan harapan agar masyarakat Indonesia terus berproses menuju kebaikan.
Dengan bentuk pelaksanaan yang bervariasi tergantung pada inisiatif mahasiswa, kegiatan kali ini diisi dengan diskusi, pementasan seni, dan penampilan musik oleh mahasiswa lintas jurusan sebagai bentuk ekspresi dan solidaritas terhadap korban pelanggaran HAM.
Dibuka dengan doa bersama bagi para korban dan saksi kejamnya sejarah bangsa, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang mengulas peristiwa 1965, yang dipicu oleh peristiwa G30/S dan menjadi titik awal terjadinya pelanggaran HAM besar-besaran di Indonesia. Para pemantik mengajak peserta membaca ulang sejarah tersebut dengan perspektif kemanusiaan, bukan sekadar peristiwa politik.
Salah satu pemantik, Safir, menjelaskan bahwa pasca-1965, masyarakat mengalami represi besar, termasuk dalam bidang bahasa dan kebudayaan. “Buku-buku dilarang beredar, ide-ide ditekan, dan masyarakat kehilangan ruang untuk berpikir bebas,” ujarnya.
Selain tragedi G30/S, diskusi menyinggung tragedi lain seperti Tanjung Priok, Talangsari 1989, serta Trisakti dan Semanggi 1998. Para peserta menyoroti benang merah di antara semua tragedi tersebut, yaitu ketidakadilan dan kekerasan terhadap rakyat, khususnya tragedi 1998 yang menjadi sorotan penting karena merupakan titik balik perjuangan mahasiswa menegakkan demokrasi dan menolak kekuasaan otoriter.
Walaupun reformasi telah berjalan lebih dari dua dekade, pola kekerasan negara terhadap masyarakat dinilai belum sepenuhnya hilang apabila mengingat situasi sosial dan politik terkini, seperti demonstrasi mahasiswa pada Februari dan Agustus 2025. Salah satu peserta forum, menilai bahwa pola kekerasan aparat terhadap masyarakat masih berulang. “Baru-baru ini terjadi penculikan aktivis dan aksi represifitas dari aparatur negara kepada demonstrasi yang hanya ingin menyuarakan suaranya. Bukannya disambut dengan terbuka, namun justru dilindas mobil rantis dan lain-lainnya,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa memahami sejarah dan mengenang korban masa lalu juga merupakan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan hari ini.
Lebih lanjut, diskusi ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya menjaga kesadaran dan solidaritas antar sesama untuk saling mendukung serta melindungi satu sama lain agar tragedi kemanusiaan tidak terulang, sekaligus mendorong perubahan demi kemajuan Indonesia.
Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni dari mahasiswa yang menjadi bagian penting dari acara. Mahasiswa Sastra Indonesia dan Sastra Inggris menampilkan karya berupa pembacaan puisi, drama, serta musikalisasi puisi yang menggugah emosi penonton.
“Lewat seni, kami menyuarakan ingatan dan menyampaikan pesan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan,” ungkap salah satu peserta.
Refleksi sejarah melalui diskusi dan seni diharapkan menumbuhkan kesadaran baru di kalangan generasi muda agar lebih peka terhadap isu kemanusiaan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus dilanjutkan melalui berbagai bentuk ekspresi dan tindakan.
Bagi mahasiswa FBS, seni dan sastra bukan hanya sarana ekspresi, tetapi juga medium untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Melalui karya dan ruang diskusi, mereka berupaya memastikan pemikiran kritis tetap hidup di tengah situasi sosial yang terus diuji oleh kekuasaan.
Penulis: Aisya Rabbanea Zahra, Lailatul Fajriyah, dan Nada Syaqilah
Editor: Alya Nasyanur F.





