Resensi Film All The Bright Places

0
41

All the Bright Places merupakan film drama remaja original Netflix berdurasi 108 menit yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jennifer Niven. Film ini tidak hanya menampilkan kisah romansa, tetapi juga menggambarkan kehilangan, rasa bersalah, dan upaya seorang remaja dalam menemukan harapan setelah masa sulit.

Sejak adegan pembuka, film ini langsung membangun emosi penonton melalui sosok Violet Markey (Elle Fanning) yang berdiri di tepi jembatan dengan niat mengakhiri hidupnya karena dihantui rasa bersalah yang mendalam atas  kematian sang kakak. Namun, takdir berkata lain ketika Theodore Finch (Justice Smith), seorang siswa yang kerap dicap “aneh” dan bermasalah, tidak sengaja lewat dan menyelamatkannya. Pertemuan itu menjadi titik awal hubungan keduanya, sekaligus pembuka dari cerita tentang dua remaja yang sama-sama menyimpan luka. Violet hidup dalam bayang-bayang kematian kakaknya dan terus dihantui rasa bersalah, sementara Finch yang dikenal sebagai sosok ceria dan spontan ternyata menyimpan pergulatan emosional yang tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Violet perlahan mulai membuka diri. Dengan segala keunikannya, Finch selalu memiliki cara untuk menghibur Violet. Ia mengajaknya berkeliling menjelajahi berbagai tempat indah yang tersembunyi di sudut kota Indiana, tempat tinggalnya. Melalui perjalanan kecil itu, Violet mulai berani menghadapi kehilangan, membuka kembali dirinya pada dunia, dan menemukan kembali serpihan harapan untuk menatap masa depan.

Dari sisi akting, performa para pemain terasa kuat dan meyakinkan. Mimik wajah, tatapan, hingga dialog yang disampaikan mampu membangun suasana emosional dengan baik. Chemistry antara Violet dan Finch juga terasa natural. Romansa antara keduanya dibangun dengan porsi yang seimbang. Tidak ada adegan romantis yang cheesy atau berlebihan, interaksi mereka justru lebih terasa seperti dua sahabat yang saling peduli, mendukung, dan menjadi “tempat aman” bagi satu sama lain.

Secara visual, film ini dieksekusi dengan nuansa layaknya film drama indie yang tenang, dengan pemandangan alam yang mendukung emosi cerita. Salah satu keunggulan utamanya terletak  pada sinematografi yang rapi, bernuansa hangat dan sangat memanjakan mata. Keindahan visual yang ditampilkan menjadi penyeimbang dari tema berat yang diangkat, sehingga film tetap terasa nyaman untuk diikuti.

Selain itu, film ini juga berani menyentuh isu sosial yang kerap dialami remaja, termasuk isu perundungan dan rasisme. Sebagai siswa berkulit hitam, Finch juga menghadapi perundungan dan diskriminasi di lingkungan sekolahnya yang semakin memperburuk mentalnya. Penggambaran ini terasa realistis dan relevan bagi penonton remaja saat ini.

Meski begitu, film ini tetap memiliki kekurangan. Alur cerita terasa berjalan cukup cepat dan terkesan  terburu-buru. Eksekusi konflik di pertengahan hingga akhir film terasa agak dipaksakan dan kurang digali lebih dalam. Penonton seolah dipaksa untuk masuk ke dalam emosi yang menyedihkan secara tiba-tiba. Kesannya, film ini terlalu berusaha keras untuk membuat penonton menangis melalui akhir cerita yang tragis, namun lupa untuk membangun kedalaman cerita untuk memvalidasi kesedihan tersebut.

Film ini juga kurang fokus pada aspek pencegahan atau solusi nyata terkait isu kesehatan mental karena terlalu banyak menghabiskan durasi pada dramatisasi kesedihan dan belum memberikan pembahasan yang dalam tentang risiko bunuh diri.

Meski demikian, sebagai sebuah karya yang mengangkat isu sensitif di kalangan remaja, film ini berhasil membuat penonton memahami rasa “sakit” para pemeran. Sayangnya, film ini masih kurang dalam pendalaman isu mental dan penutup cerita yang terasa terlalu mendadak. Meski begitu, All the Bright Places tetap layak diapresiasi sebagai film yang mencoba membicarakan luka, harapan, dan masa depan dari sudut pandang remaja.

Penulis: Marianne Christabel Kimiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here