‘Sampah’ dan ‘Agen Perubahan’: Siapa yang Bertanggung Jawab di Lingkungan Kampus?

0
35

Surabaya (21/08/2026) — Agustus ini menjadi pintu awal siswa untuk beranjak dan melihat lebih luas cakrawala pendidikan di universitas. Dimulai dari hari Senin (17/08/2026) hingga puncaknya pada Jumat (21/08/2026), sitivitas akademika Universitas Negeri Surabaya menempuh rangkaian kegiatan panjang untuk menyambut para mahasiswa baru yang akan memulai pendidikan di perguruan tinggi.

Generasi Ekonomi Loyalitas Membara (GELORA) FEB menjadi salah satu penyelenggara kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang ditujukan bagi mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dari tahun ke tahun, GELORA FEB merancang kegiatan tersebut untuk mengenalkan budaya mahasiswa sekaligus sikap yang seharusnya dimiliki sebagai seorang mahasiswa.

Namun, di balik masa penerimaan mahasiswa baru yang seharusnya menjadi gerbang awal untuk mengenal budaya dan sikap mahasiswa yang seharusnya, Nuha, seorang mahasiswa baru dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (nama disamarkan karena permintaan narasumber), justru merasakan kekecewaan dan memandang ironis kegiatan tersebut. Nuha menyayangkan sampah yang berserak pada akhir pelaksanaan PKKMB. Menurutnya, sampah yang berserakan di tengah lapangan dapat menjadi sumber ketidaknyamanan dan berpotensi mencederai seseorang karena terpeleset oleh sampah yang berserakan.

“Merasa ironis banget, kenapa sampahnya ga dikumpulin menjadi satu dulu di kresek? Terus nanti salah satu dari mereka membuangnya di tempat sampah. Daripada ga nyaman dan semisal mereka lagi lari atau apa, mereka nanti kepeleset botol kan kita juga tidak tahu,” keluh Nuha saat proses wawancara.

Dokumentasi Pribadi

Bukan hanya Nuha, perasaan serupa juga dialami oleh Kaka (nama disamarkan karena permintaan narasumber), mahasiswa baru yang baru memulai jalan pendidikan tingkat tingginya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ia merasa tidak nyaman akibat sampah yang tercecer di berbagai tempat. Menurutnya, kurang maksimalnya tata kelola sampah di kegiatan tersebut menjadi cikal bakal keresahan akibat sampah yang berserakan.

“Di rangkaian kegiatan ospek ini, memang sedikit kurang maksimal untuk pengelolaan sampah. Apalagi di hari terakhir ini, tempat sampahnya cukup sedikit dan kurang banyak. Sampai-sampai terjadi banyak sampah berserakan,” ujar Kaka.

Kaka menilai perlu adanya tata kelola sampah dengan memperbanyak tong sampah atau kantong sampah di titik-titik keramaian agar mahasiswa dapat lebih mudah membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, Kaka juga berpendapat bahwa pihak yang paling bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan sampah adalah setiap mahasiswa. Menurutnya, jika setiap mahasiswa tidak memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, panitia juga akan kesulitan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Dokumentasi Pribadi

Kurangnya tata kelola sampah dari pihak panitia dan kurangnya kesadaran terkait permasalahan lingkungan juga dirasakan langsung oleh Andika. Andika, selaku penjaga stan di sekitar acara, turut merasakan kurangnya titik-titik pembuangan sampah yang memadai. Di sekitar stan yang menjadi produksi limbah makanan, tidak disediakan kantong sampah yang mampu untuk menampung sisa-sisa produksi makanan.

Andika berharap pada permasalahan seperti ini, penyelenggara acara dapat terus melakukan evaluasi, terutama dalam hal tata kelola sampah.

“Dari FEB memang kurang tempat sampah, namun dari kesiapan panitia, mungkin bisa menjadi evaluasi. Harusnya ada lah titik-titik sampah  di sekitar venue,” ucap Andika.

Andika juga turut menyayangkan mahasiswa dan anak muda sekarang kurang peduli terhadap permasalahan sampah.

Devi Permatasari, ketua pelaksana acara tersebut, merasakan kekecewaan karena lingkungan yang sebelumnya bersih menjadi dipenuhi sampah. Devi mengatakan bahwa dirinya bersama panitia telah merancang tata kelola sampah dengan menempatkan sejumlah kantong sampah pada titik keramaian yang telah diperkirakan. Namun, pada hari terakhir sekaligus puncak acara PKKMB, jumlah sampah melebihi perkiraan sehingga menyebabkan sampah berserakan di berbagai tempat. Hal tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bagi Devi dan rekan-rekannya ketika hendak mengadakan acara di masa mendatang.

“Dari saya dan teman-teman sudah berusaha menentukan titik strategis untuk menempatkan trash bag, dan mungkin titik strategis menurut maba tidak sesuai dengan kami. Itu merupakan evaluasi untuk saya dan seluruh jajaran panitia untuk lebih aware di event ke depannya,” ucap Devi kepada tim pewawancara.

Permasalahan sampah di lingkungan universitas hendaknya menjadi bahan refleksi bagi seluruh elemen universitas. Para narasumber kami menyetujui bahwa mengatasi permasalahan lingkungan tidak dapat diatasi oleh satu atau dua pihak saja. Kesadaran terhadap lingkungan perlu ditumbuhkan pada setiap mahasiswa agar setiap tindakan mereka tidak berbanding terbalik dengan citra mahasiswa sebagai ‘agen perubahan’.

Penulis: Abby Yusuf Firdaus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here