Biru
“Ih, bagus banget gambarnya!” anak perempuan berambut pendek itu menatap lekat buku sketsaku. Manik mata bak batu topasnya berbinar seakan-akan sedang melihat sekarung emas.
Suaranya membuatku membeku. Tidak kusangka akan ada murid lain yang datang ke taman belakang kantin.
“Makasih,” balasku sambil tersenyum canggung.
“Yang ada di gambar itu kucing kamu, kah?”
“Oh, bukan. Itu kucing yang ada di bawah pohon sana,” jari telunjukku mengarah ke arah kucing yang dimaksud.
“Oalah, makin keren dong. Live drawing!”
“Hehe, makasih.”
“Dari tadi kamu makasih makasih doang, deh. Kenalan, dong! Kamu siapa?”
“Eh, iya, maaf-maaf. Aku Nala. Kamu?”
Namanya Biru, salah seorang murid kelas sebelah dan juga teman pertamaku di sini. Setiap pulang sekolah, kutemukan dirinya selalu berada di tempat yang sama, kolam air mancur di lobby seakan menjadi tempat menetapnya. Mungkin sudah kesepuluh kalinya aku berjalan pulang dengan Biru.
“Oiya, kau tahu, dulu di sini ada-”
“Ada toko roti yang enak banget, tapi sayangnya sudah tutup soalnya pemiliknya ikut anaknya pindah ke kota lain, itu kan? Kamu udah cerita itu kayaknya seribu kali, deh.”
Biru tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, ya maaf, aku kangen banget sama roti Bapaknya. Saking enaknya, aku jadi pengin semua orang itu tahu, dulu ada toko roti enak lho di sini!”
“Kamu jangan nyesel, ya, Nala. Kita baru dua minggu kenal, tapi aku udah oversharing aja ke kamu,” lanjutnya.
Parri, kota tempat tinggal baruku ini tak henti-hentinya keluar dari mulut Biru. Begitu cintanya dia dengan tanah kelahirannya. Berkali-kali ia bercerita padaku tentang sejarah Parri dan seisinya. Mungkin, dia memang berbakat di ilmu sejarah.
“Makasih lho udah oversharing, nanti nilai ujian sejarah Parri-ku bakal bagus gara-gara kamu, nih,” ucapku sambil tersenyum jail.
“Lho, malah memanfaatkan.” Biru menyikut lenganku.
“Kalau gitu, aku tambahin satu cerita lagi, ya. Pasti kamu belum pernah dengar yang satu ini wahai muridku.”
“Cerita apa itu Bu Guru?”
“Legenda danau angsa Parri.”
***
Sama seperti kemarin, hari ini pun Biru menjadi teman pulangku. Banyak sekali cerita yang kami tukar selama di perjalanan.
“Ngomong-ngomong, kabar buku sketsamu gimana, Nala? Masih suka ke tempat yang dulu itu, enggak? Ih iya, ya, aku terakhir lihat kamu ngegambar itu pas kita pertama kali ketemu itu, kan. Minggu kedua masuk sekolah, ih dah lama banget!”
“Hehe, kabarnya aku males ngegambar apapun.”
“Hah, kenapa?! Tugasmu banyak, kah?”
Aku menggelengkan kepalaku, “Enggak juga, sih. Apa, ya? Papaku nggak suka kalau aku jadi seniman. Jadinya, ya, males, deh.”
Langkahku terhenti, tersadar akan Biru yang masih mematung di tempat.
“Bi-”
“Padahal seniman itu keren tau! Mereka bisa membuat keabadian di setiap karyanya!” serunya dengan lantang.
Biru menatapku lekat-lekat, “Kalo bukan gara-gara patung Bu Ollie yang terpampang di lobby, mana tau kita kalau beliau itu pendiri sekolah ini. Pemahat patung Bu Ollie buat beliau abadi di sini. Bu Ollie akhirnya menjadi abadi.”
“Seni itu nggak ada yang salah, yang salah itu orang-orang yang nggak mau tau nilai seni itu sendiri,” sambungnya.
Hening menghampiri kami walaupun hanya sepersekian detik.
“Ahahaha! Wow, Biru! Keren banget, Bu Motivator!” tawaku pecah. Tidak kusangka, Biru bisa memikirkan kata-kata seperti itu. Petir apa yang telah menyambarnya, ya?
“Jangan diketawain, lah! Aku serius, lho!” wajahnya merengut sebal.
“Ahahaha! Maaf-maaf, aku nggak nyangka aja kamu bisa bikin kata-kata mutiara, ahahaha!”
Biru menyenggol lenganku, “Ih apaan, sih. Emang aku keliatan kayak orang nggak bijak, kah!”
“Maaf-maaf, hahaha! Sebenarnya, yang aku omongin tadi itu ada lanjutannya. Gimana bilangnya, ya. Papaku cuma nggak mau aku jadi seniman yang seniman.”
“Hah? Maksudnya?”
Aku berpikir bagaimana aku menyusun kata-kata yang pas, “Jujur, aku juga bingung jelasinnya gimana, tapi kalau jadi arsitek, desainer produk, dan pekerjaan lain yang mirip-mirip, aku masih dibolehin, selain itu, jangan dulu,” jelasku.
“Oh, paham. Itu yang gajinya gede semua, ya.”
“Waduh, jangan gitu nanti aku berharap.”
Biru tersenyum, “Nanti Nala bikin museum buat aku, ya, hehe.”
“Buset! Museum? Yang bener, aja! Minimal jadi orang berjasa dulu, Bu.”
“Ahahaha! Kan udah, tadi aku udah jadi motivator, lho, buat kamu!”
Sekarang giliranku yang menyenggol lengan Biru, “Apaan, belum ngaruh motivasinya ke aku.”
“Nah, makannya praktekin apa yang udah aku bilang tadi. Nala, ayo buat aku abadi!”
***
Mataku memperhatikan setiap sudut lobby, aneh, Biru dan rambut pendeknya itu tidak terlihat dimanapun.
Mungkin ada acara, pikirku.
Bergegaslah kakiku melangkah menuju rumah. Besok, akan kumarahi Biru karena membuatku berjalan kaki sendirian.
Besok berganti menjadi lusa, Biru masih menghilang dari lobby. Akhirnya, aku berinisiatif untuk pergi ke kelasnya.
Walaupun sama-sama kelas dua belas, jarak antar kelas kami bisa terbilang cukup jauh. Aku harus menaiki banyak anak tangga tua sekolahku ini demi bisa mencapai lantai empat. Murid-murid menyebutnya, Kelas Internasional. Para anak pintar dan yang mempunyai keluarga berpengaruh akan secara otomatis terdaftar di kelas ini.
Bersamaan dengan tibanya diriku di lantai empat, mataku menemukan ada seorang anak yang baru saja keluar dari kelas Biru. Tanpa membuang waktu, segera aku menghampirinya.
“Halo, permisi. Aku mau nanya, Biru ada di dalam kelas, nggak, ya?”
Anak laki-laki itu menatapku bingung, “Maaf, Biru siapa, ya?”
“Kalau nggak salah, nama lengkapnya Biru Berlian. Sudah pulang, kah, anaknya?”
Raut mukanya seperti berkata bahwa ia asing atau bahkan bingung dengan nama yang kusebutkan.
“Bentar, Biru Berlian, Kak Biru yang angkatan kemarin, itu? Bentar, deh kamu anak kelas berapa, sih”
Aku mengernyitkan dahiku, “Aku kelas 12-1. Maksudnya angkatan kemarin itu gimana, ya? Aku baru pindah tahun ini soalnya.”
Matanya terbelalak kaget, “Maaf, kamu tahu Kak Biru dari mana, lho?”
“Lho, bentar, Kak Biru ini tuh maksudnya dia kakak kelas kita gitu?”
“Iya dan beliau itu udah meninggal tahun kemarin.”
***
Namanya Biru, salah seorang murid kelas sebelah dan juga teman pertamaku di sini. Cinta pertamanya adalah Parri, khususnya danau angsa yang selalu ia percayai keberadaannya. Dia suka menari. Impiannya adalah menari di atas danau angsa Parri untuk selama-lamanya. Nahas, hidupnya harus berhenti di ulang tahun ke delapan belasnya. Pesawat yang sedang ia tumpangi kala itu jatuh ke dalam lautan biru.
Sudah tak terhitung sudah berapa banyak jalan yang kutelusuri. Aku memutar otak, mengingat-ingat jalan apa saja yang biasanya kami lewati. Mengunjungi kios-kios yang sering disebutkan oleh Biru. Andai saja aku memiliki sebuah motor, akan ku kelilingi Parri demi mencari sahabatku itu.
Hantu? Arwah? Roh? Biru, kamu siapa?
Matahari mulai turun dari tahtanya. Kakiku terasa perih, sudah tidak kuat dibuat untuk berjalan lagi. Alangkah beruntungnya diriku, di depan sebuah danau, ada sebuah bangku taman kosong yang bisa menjadi tempat istirahatku. Dengan segera mungkin kubuat tubuhku bersandar di bangku kayu itu. Kepalaku terasa pusing terus memikirkan kemana lagi tempat yang harus kudatangi. Aku ingin menyerah, tetapi Biru itu temanku.
Aku bergumam, “Minimal kasih salam perpisahan, kek.”
Di saat itu lah, entah bagaimana secara tiba-tiba Biru sudah berada di hadapanku. Mataku terbelalak melihatnya. Bibir Biru tersenyum tipis. Raut mukanya seakan tahu apa yang sudah terjadi. Kaki-kakinya mulai bergerak, menari. Aku lalu tersadar bahwa ia tidak sedang menapak di atas tanah, tetapi di atas air danau taman ini. Ia membuat permukaan air danau menjadi lantai dansanya.
Malam itu, Biru sedang menari dengan menawan di atas air danau. Itu bukanlah danau yang dicari-carinya, tetapi aku bisa melihat angsa-angsa yang bercahaya bak bintang menemani Biru di dalam tariannya. Dengan irama yang lambat, tarian itu seakan menyimpan seribu duka si penari.
Sampai di penghujung tarian, Biru pun menunduk. Ia memberi hormat kepada penonton, aku dan taman ini.
Sehabis itu, Biru menatapku dan berkata, “Nala, apa kau tahu, di jaman dahulu ada seorang gadis yang tiba-tiba menari di tengah kota Parri. Orang-orang terhipnotis oleh tariannya. Lalu, satu-persatu warga kota mulai ikut menari. Akhirnya, seluruh kota menarikan tarian yang sama dengan gadis itu.”
“Mereka menari, menari, dan menari. Tanpa makan dan minum, mereka terus menari tanpa jeda. Tanpa mereka sadari, satu persatu dari mereka mulai gugur. Gadis dan orang-orang kota itu telah menari sampai mereka mati. Inilah tarian mereka, Nala.”
Aku tertegun mendengar apa yang telah dijelaskan oleh Biru, Tak satupun kata mampu keluar dari mulutku.
“Biru itu identik sama langit dan lautan. Haha, ironis ya, ternyata dua hal itu juga yang merenggut nyawaku.”
“Biru-”
“Nala, terimakasih atas setengah tahunnya, ya, hehe. Ternyata sekolah nggak seburuk itu, ya. Aku pas masih hidup aja yang lebay, sampai pernah bolos seminggu segala,” senyum kecil itu masih tak turut lepas dari wajah Biru.
“Ternyata dunia ini nggak seburuk itu. Ah, harusnya aku masih hidup. Eh, tapi kalo aku masih hidup, nggak ketemu kamu, tapi aku ingin hidup, Nala! Jelek banget jadi hantu begini, tapi kalau aku pergi, aku nggak mau dilupakan! Aku mau seluruh Parri tahu keberadaanku untuk selamanya!” Biru mulai berjalan ke mendekatiku yang masih mematung.
“Nala, tolong buat aku abadi, boleh?”
***
Beruntungnya jika menjadi seorang seniman, orang-orang di sekitarnya akan abadi di setiap karyanya, katanya
Cat warna-warni sudah menghiasi setiap sudut baju dan celanaku. Kanvas yang kubeli sebulan yang lalu itu, akhirnya bisa berpisah dengan warna putih polosnya. Nampak seorang gadis berambut pendek sedang menari di atas air dengan angsa-angsa cantik yang mengelilinginya sudah terlukis indah di kanvas ini.
Aku tersenyum bangga. Projek lukisan Biru akhirnya selesai juga. Biru akan menjadi hal yang paling menakjubkan dan menarik perhatian di pameran sekolah nanti.
“Guk!”
Terhentak kaget diriku. Aku menoleh ke arah sumber suara. Pompom, anjing putih itu ternyata sudah bangun dari tidur siangnya.
Tubuh Pompom yang mungil membuatku dengan mudah menggendongnya, “Hei-hei, lihat apa yang telah kubuat!”
“Guk! Guk!”
“Bagus, kan!”
Pompom terus menggonggong, “Guk! Guk!”
“Suka banget ya kamu sama lukisanku, haha! Ini nanti bakal kuberi judul, Biru yang Abadi.”
Penulis: Hasna Salsabila Prameswari





