Cahaya matahari pagi menyinari wajah gadis yang tertidur lelap semalaman lamanya. “Bangun, Hayza! Sudah waktunya berangkat sekolah! Sekali-kali kamu rajin dong berangkat pagi, sudah kelas 12 loh ….” Sudah bisa ditebak bukan suara itu asalnya dari mana? yupp!! Umi Hayza.
Hayza yang merasa risih dengan omelan Uminya pun berusaha mengumpulkan nyawa untuk bangun dan menggotong seperangkat alat mandinya menuju kamar mandi.
“Hmm … males banget ,sih, sekolah. Coba aja ada cowo ganteng yang bisa bikin semangat sekolah. Jefri Nichol, misalnya,” gumam Hayza.
“Hayza cepat! Sudah ditunggu pak supir di bawah!” teriak Umi Hayza yang membuat Hayza terburu-buru untuk mempercepat persiapannya menuju sekolah.
“Iyaa Umi, tinggal pake parfum bentar biar ga bau bacem!” saut Hayza.
Setelah memakai parfum kesukaannya itu, Hayza bergegas untuk menuju sekolah dengan diantar Pak Supir yang telah mengabdi 10 tahun lamanya.
Sesampainya di sekolah, tampak tidak ada perbedaan yang signifikan dari perpindahan kelas 11 ke kelas 12. Siswa-siswi masuk ke kelas masing masing seperti biasanya, begitu pula dengan Hayza. Sampai akhirnya,
“Selamat pagi anak anak, sebelum memulai pembelajaran pada pagi hari ini, Ibu ingin memperkenalkan teman baru kalian di kelas 12 ini.” ucap Ibu Guru Hayza.
“Fathir, silahkan perkenalkan diri kamu kepada teman-teman.”
“Hai, aku Fathir siswa pindahan dari SMA Angkasa. Di sini aku pindah karena orang tuaku dipindahtugaskan ke daerah dekat sini, salam kenal semuanya ….”
“Bejirrr, cakep banget kata gua teh, mirip Cha Eun Wo bejirr“
“Andai jodoh gua kaya dia, kalo disuruh mandi lumpur pun gua mau asal dia seneng!”
“Ganteng banget gilee … itu mukanya ngga ada pori-pori apa gimana?”
Ya, begitulah suara bibit-bibit pemegang akun gosip 5 tahun mendatang.
Deggg…
“Bukannya Fathir yang dulu suka gua itu ya? Kok bisa disini sih.” gumam Hayza dalam hati keheranan.
***
Rutinitas belajar mengajarpun berjalan dengan semestinya hingga bel pulang sekolah terdengar nyaring ke seluruh penghujung sekolah.
“Baik anak-anak, sampai di sini pertemuan kita kali ini. Saya akhiri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Siswa-siswi pun bergegas membawa tasnya untuk pulang ke rumah masing masing, rasanya sudah capek mendengar celotehan guru dan ingin berbaring di kasur yang empuk untuk meregangkan otot-otot punggung.
Namun, beda cerita dengan Fathir dan Hayza. Fathir mengikuti langkah pergi Hayza dengan sangat cepat hingga dia bisa meraih tangan kanan Hayza.
“Hayza!” panggil Fathir. Hayza yang merasa tangannya dipegang oleh seseorang pun berbalik badan.
“Eummm … kenapa Fa?” jawab Hayza gugup.
“Aku masih suka kamu, Za. Aku masih nunggu kamu!”
Hati Hayza bergejolak. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di dalam pikirannya kini teringat masa-masa mereka berdua dulu. Sedih, senang, dan bimbang bercampur aduk menjadi satu. Memang jika diingat masa lalu Fathir dan Hayza tidak cukup baik kala itu.
Hubungan mereka hanya berputar pada fase yang sama. Terkadang sesekali mereka menjauh satu sama lain karena tidak ingin terjebak pada fase itu-itu saja.
Mereka sebenarnya ingin berjalan lebih jauh daripada itu. Namun, ada suatu hal yang tidak bisa membuat mereka bersama. Fathir dengan sejuta love language-nya dan Hayza dengan sejuta traumanya. Pikiran Hayza yang selalu denial dengan perlakuan romantis dari Fathir.
Kini Hayza sadar, bahwa Fathir bukan seperti laki-laki lain. Dia merupakan laki-laki yang tulus mencintai Hayza 4 tahun lamanya. Meskipun mereka berpisah, Fathir sama sekali tidak berminat pada wanita lain. Dia dengan sabar menunggu dan sebenarnya dia sengaja mencari dimana keberadaan Hayza saat ini.
“Jika pertemuan ini adalah takdir, maka aku tidak ingin membuatmu menunggu saat ini.” jawab Hayza
“Maksudmu tidak ingin membuatku menunggu saat ini apa, Za?” tanya Fathir memastikan.
“Aku juga suka kamu, Fa.”
Penulis: Tsania Syahriatul Fadhliyah





