Sinar mentari pagi merayap masuk melalui celah jendela, tetapi seorang gadis berambut ikal masih terpaku di meja belajarnya. Matanya menatap kosong ke arah buku-buku yang terbuka di depannya, sementara pikirannya melayang jauh.
Jihan Anindya, seorang siswi kelas sebelas yang pendiam dan gemar membaca, sedang bergulat dengan kegelisahannya. Ia bercita-cita menjadi seorang presenter berita, namun ia kerap merasa suaranya tidak cukup bagus dan pengucapannya masih sering salah. Itu sebabnya, ketika dua hari lalu Bu Henny, wali kelasnya, mengusulkan agar ia mengikuti lomba yang berhubungan dengan cita-citanya, rasa takut langsung menghantui pikirannya.
Kemarin malam, gurunya mengirim pesan tentang lomba yang akan diadakan sebulan lagi dan itu semakin membuatnya gelisah. Ingatan akan kesalahannya saat presentasi di kelas, suara yang kurang lantang, dan gestur tubuh yang kaku terus berputar di kepalanya. Padahal, ia sudah rutin berlatih berbicara di depan cermin, menonton video para presenter berita di YouTube, bahkan mencoba meniru cara mereka berbicara. Namun, saat harus tampil di depan orang banyak semuanya terasa berantakan.
Jihan menghela napas panjang. Tangannya membolak-balik halaman buku yang tidak benar-benar ia baca. Lamunannya buyar ketika suara ibunya terdengar dari luar kamar, menyuruhnya mandi. Ia baru menyadari bahwa hari sudah pagi dan ia belum tidur sama sekali. Dengan langkah yang lesu, ia bangkit mengambil handuk, dan bersiap berangkat ke sekolah.
Di depan gerbang sekolah, ia berpapasan dengan Bu Henny. “Bagaimana, Jihan? Sudah dipikirkan soal lomba kemarin?”
Jihan ragu sejenak. Namun, melihat senyum penuh harapan di wajah wali kelasnya, ia akhirnya mengangguk pelan. Senyuman bangga langsung terpancar dari wajah Bu Henny.
Di dalam kelas, sahabatnya, Diva, langsung menyambut dengan antusias. “Serius? Kamu ikut lombanya?”
Jihan mengangguk lagi, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Diva, yang selalu percaya diri dan suportif, langsung menepuk pundaknya. “Tenang aja, aku bakal bantu kamu latihan. Pokoknya kita persiapkan ini sebaik mungkin!”
Setelah jam sekolah usai, mereka berjalan pulang bersama. Jihan menghela napas. “Aku takut, Div. Aku belum menguasai banyak hal.”
Diva tersenyum dan mengangkat kepalan tangan ke atas. “Nggak perlu takut. Ini pengalaman pertama kamu, kan? Kalah itu urusan belakangan. Yang penting, kamu berani mencoba!”
Jihan tidak langsung menjawab. Namun, melihat semangat sahabatnya, ia akhirnya tersenyum dan merangkul Diva. Mereka pun pulang sambil bersenandung kecil.
Seminggu berlalu, dan Jihan mulai berlatih lebih keras. Ia mencoba berbicara di depan keluarganya, di hadapan teman-temannya, bahkan saat presentasi di kelas. Setiap hari, ia berlatih setelah pulang sekolah hingga malam. Rasa takutnya perlahan berkurang, tergantikan dengan semangat yang mulai tumbuh. Teman-temannya, gurunya, dan tentu saja Diva terus memberikan semangat dan kritik membangun.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Lomba diadakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Oktober. Pagi itu, Jihan datang ditemani orang tuanya, Bu Henny, dan tentu saja Diva. Begitu tiba di lokasi, ia mendapati banyak peserta lain yang tampak percaya diri. Rasa gugup mulai menyergapnya lagi.
Melihat itu, ayahnya menepuk bahunya pelan. “Santai saja, Nak. Lakukan yang terbaik.”
Ibunya tersenyum. “Kami semua ada di sini untuk mendukungmu.”
Jihan mengangguk. Ia menguatkan dirinya dan berjalan menuju tenda panitia bersama Bu Henny untuk mengambil nomor antrean. Sembari menunggu giliran, ia terus berlatih dalam hati dan berdoa agar semuanya berjalan lancar.
Saat namanya dipanggil, ia naik ke panggung. Suara tepuk tangan terdengar dari bangku penonton. Ia melihat senyum kedua orang tuanya, guru, dan sahabatnya. Mengambil napas dalam, ia menggenggam mikrofon erat dan mulai berbicara, menampilkan hasil latihan yang ia jalani selama sebulan terakhir
Pengumuman pemenang pun tiba. Jihan tidak masuk dalam daftar juara. Rasa kecewa sempat menyelinap dalam dirinya, tapi sebelum ia sempat tenggelam dalam perasaan itu, ibunya sudah memeluknya erat.
“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting, kamu sudah berani mencoba.”
Ayahnya mengusap kepalanya dengan lembut. “Berani mencoba dan memberikan yang terbaik jauh lebih berharga daripada tidak mencoba sama sekali.”
Bu Henny pun tersenyum dan berkata, “Nanti kalau ada lomba lagi, kita coba lagi ya? Dari kegagalan, kita belajar untuk menang.”
Jihan menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum. Diva, yang sedari tadi diam, tiba-tiba memeluknya erat. “Sumpah, aku tadi sempat nggak percaya kalau itu kamu di panggung! Kamu keren banget, Jihan!”
Mereka tertawa bersama. Dalam perjalanan pulang, Jihan terus tersenyum. Bukan karena ia kalah, tetapi karena ia telah melampaui ketakutannya sendiri. Hari ini, ia berhasil berbicara di depan banyak orang. Ia telah menantang dirinya sendiri dan bertumbuh.
Malam harinya, ia duduk di balkon, mencatat pengalamannya dalam buku diarinya sambil menatap langit berbintang. Ia bersyukur atas orang-orang yang selalu mendukungnya. Hari ini, ia telah melangkah maju.
Dulu, ia takut pada impiannya sendiri. Tapi sekarang, ia tahu bahwa dunia mendukungnya selangkah demi selangkah menuju mimpinya. Malam ini, senyumnya bersinar seterang bintang di langit.
TAMAT
Oleh: Livia Aulora





