Di bawah langit remaja yang kian menyempit,
Aku mengais remah potensi di antara himpitan pelik.
Memburu bakat yang konon tertanam dalam dada,
namun yang kutemui hanyalah ruang hampa tiada tanda.
Setiap aksen telah coba kurajut jadi jembatan,
setiap ambisi kupaksa menyatu dengan ketekunan.
Namun panggung demi panggung runtuh sebelum sempat kupijak.
Meninggalkan tanya yang merongrong waras secara acak.
Di mana letak pilar yang harus kutegakkan?
Logika berbisik untuk lekas angkat kaki,
menyerah tampak rasional saat asa tak lagi berisi.
Tubuh ini letih ditampar kegagalan yang berulang,
memaksa ego bersiap mengibarkan bendera usang.
Namun, kronologi kehidupan tak mengenal jeda abadi.
Detik jam terus berdetak, mendikte raga untuk tetap berdiri.
Ada fajar masa depan yang menagih tebusan,
dan sepasang netra yang menaruh harap pada setiap keputusan.
Mereka yang mencinta, tak menuntutku jadi pemenang utama.
Mereka hanya ingin melihatku selamat dari badai yang sama.
Maka, meski bakat itu masih bersembunyi di balik kabut,
langkah kaki ini menolak untuk layu dan bertekuk lutut.
Sehingga semuanya harus terus berjalan, mengarungi alur yang tersisa.
Bukan lagi demi validasi sebuah talenta,
melainkan demi hidup yang harus diselesaikan dengan semestinya.
Penulis : Su’da Nailil Muna





