Tentang Kepemimpinan dan Rasa Gundah di Hati

0
183

Aku terbaring di sofa panjang ruang tamu kala itu, memandang langit-langit sambil menghela nafas panjang. Dalam otakku terpikir berbagai macam kejadian yang terjadi dalam beberapa minggu ini. Cukup gila memang, hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja sudah banyak yang terjadi di tanah kelahiran ini. Masa depan terasa gelap, jangankan satu atau dua tahun ke depan, hanya untuk melihat hari esok saja sudah cukup berkabut.

Di situlah mulai muncul dalam benakku akan pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab. “Bagaimana menjadi pemimpin yang benar?”  Bagaimana kualitas pemimpin yang dapat membuat seluruh anggota dan mungkin rakyatnya sejahtera tanpa ada yang dirugikan. Pertanyaan itulah yang menimbulkan banyak ide dan dilema yang makin mendalam.

Apakah kualitas pemimpin diukur dari kepintarannya? Kalau begitu kenapa orang pintar lebih memilih diam, sedangkan mereka yang bermodalkan kepercayaan diri maju di barisan terdepan dalam pemilihan umum?

Apakah seorang pemimpin diukur dari kemampuannya dalam menyelesaikan masalahnya? Kalau begitu kenapa orang-orang yang hanya dapat diam dan menyerahkan semua ke bawahannya yang duduk di kursi hierarki tertinggi? Kenapa tidak bawahannya saja yang duduk di kursi itu?

Apakah mereka yang berani mengambil risikolah yang harusnya menjadi pemimpin? Kalau begitu bukankah akan hancur berkeping-keping tempat itu hanya karena kenekatan satu orang pemimpin yang tak mendengarkan peringatan yang lain.

Apakah pemimpin yang baik harus dapat menerima kritik dan masukan dari dalam maupun khalayak luas? Kalau begitu kenapa ego mereka tak membiarkan mereka untuk diam dan memikirkan apakah perkataan yang mereka lontarkan kepada para pengkritik adalah benar dan mencerminkan seorang pemimpin?

Semakin dipikirkan semakin terlihat pertanyaan awalku tak akan terjawab, kuraih wadah berisi kue lebaran yang berada di depan sofa panjang tempatku membaringkan diri. Serta meminum segelas air putih yang kubawa sebelum aku memutuskan untuk berbaring di sofa panjang tersebut.

Pertanyaan yang awalnya muncul karena kilas balik yang kulakukan masih belum terjawab, namun tangan sudah sampai pada dasar wadah kue lebaran tersebut menandakan kue dalam wadah tersebut telah kuhabiskan. Mungkin, ibu akan marah saat tahu kue lebaran yang beliau siapkan untuk tamu tersebut habis kumakan karena pikiran mendalamku ini.

Apakah sebenarnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memenuhi janjinya pada saat mereka meminta suara? Pada saat mereka mengiklankan diri mereka untuk membawa perubahan? Mereka yang memberi harapan akan masa depan yang cerah?

Namun sepertinya pemikiran itu juga salah, karena sepertinya terlalu optimis hal tersebut dapat terjadi dan menimbulkan kenyataan pahit.

Akhirnya aku memutuskan untuk menutup wadah itu, mengambil gelas kosong yang sebelumnya sempat terisi air itu, bangkit dari sofa lalu pergi dari tempat kejadian sebelum ibu tahu. Dari sinilah aku mendapatkan sedikit pencerahan. “Mungkin aku juga tidak cocok menjadi pemimpin” sambil tertawa lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.

Penulis : Athalla Bayanaka Maheswara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here