Intelektual Masa Kini: Sosok Eksklusif yang Tidak Membumi

0
235

Di tengah gejolak konflik yang kerap terdengar—perusakan hutan—kebijakan ngawur—ancaman AI—kita mesti mempertanyakan, di mana sosok para intelektual? Apa yang seharusnya mereka lakukan?

Menurut Antonio Gramsci, seorang Marxis berkebangsaan Italia, wartawan, aktivis, dan kerap mengorganisir gerakan kelas-pekerja,  pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Prison Notebooks, “Orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual”.  

Kita perlu menilik dan merenungkan, di Indonesia, udahkah banyak orang benar-benar menjalankan fungsi intelektual, terutama mereka yang bekerja di perguruan tinggi sebagai peneliti—seorang guru besar atau profesor. Apakah mereka sudah berhasil membuka mata masyarakat atas semua kepelikan yang sedang terjadi? Atau sebaliknya, para profesor kita masih nyaman berbicara dalam bahasa yang eksklusif dan tidak eksoterik, tidak membumi.

Edward W. Said pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Representations of the Intellectual, “Salah satu tugas dari intelektual adalah upaya menembus kategori-kategori stereotip dan reduktif yang membatasi pikiran dan komunikasi manusia.” Ungkapan Said tersebut bernada sinis untuk para akademisi, profesor, dan guru besar kita. Kita cenderung jarang melihat mereka pasang badan di hadapan permasalahan-permasalahan di negeri ini. Bahkan, akhir-akhir ini, eksistensi dan suara mereka kalah dengan para influencer yang kurang kredibel. Namun, kita juga mesti menyadari, bahwa intelektual tidak hanya berasal dari perguruan tinggi. Bukan hanya para profesor dan guru besar. Intelektual juga ada yang berupa non-akademisi.

Menurut pengamatan Russel Jacoby, di Amerika, intelektual non-akademisi cenderung menyusut. Nama-nama seperti Edmund Wilson, Jane Jacobs, Lewis Mumford, dan Dwight McDonald, sudah tidak banyak yang meneruskan. Penyusutan intelektual non-akademisi ini, menurut Jacoby, akibat berbagai kekuatan sosial dan politik pasca perang. Akibatnya, intelektual lebih merupakan profesor yang tertutup dengan penghasilan terjamin.

Keadaannya lebih memprihatinkan di Indonesia. Kita cenderung tak pernah punya intelektual non-akademisi. Hal ini dikarenakan tidak memungkinkannya mereka bisa hidup hanya dari tulisan-tulisannya. Koran-koran belum mampu untuk membuat mereka sejahtera.

Oleh sebab itu, kita, selaku masyarakat awam, sangat berharap pada para profesor. Kaum intelektual yang sejahtera dan punya penghasilan tetap. Kita terus berharap, semoga mereka bisa berpaling dari urusan administrasi dan akreditasi, dan mulai membuka matanya pada urusan di luar kelas kampus. Kita selalu berharap. Hanya berharap.

 

Penulis: Satria Al-Fauzi Ramadhan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here