“Tidak Ingin Belajar, Hanya Khawatir Ketinggalan”

0
224

Apa sebenarnya fungsi pendidikan itu? Apakah hanya sebatas lulus dengan gelar? Bukankah ini sebuah tuntutan yang harus dijalankan, atau hanya sebagai tolok ukur kesuksesan?

Setiap pagi, kita menyaksikan jutaan pelajar Indonesia mengenakan seragam, bergegas menuju sekolah. Namun, di balik pemandangan penuh antusias ini, tidak semua di antara mereka benar-benar hadir untuk belajar. Bagi banyak pelajar, pendidikan bukanlah kebutuhan yang tumbuh dari kesadaran diri, melainkan sebagai tuntutan sosial yang dirasa wajib dijalani. 

Banyak yang merasa malu jika terlambat datang ke sekolah atau harus mengambil jeda pendidikan (gap year). Bukan karena mereka ingin belajar, tetapi karena takut dianggap tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya.

Fenomena ‘dianggap tertinggal’ adalah kondisi di mana seseorang merasa bahwa pendidikan adalah tuntutan lingkungan sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa pendidikan masih dilihat sebagai sekadar formalitas oleh tekanan sosial dan rasa malu jika tidak memenuhi standar keberhasilan masyarakat. Akibatnya, yang terjadi bukanlah proses belajar yang mendalam, melainkan perlombaan diam-diam: siapa yang cepat lulus, siapa yang memiliki nilai tertinggi, siapa yang tampak “berhasil” atau bahkan sebagai kegiatan yang dijalankan atas standar sosial. 

Kurangnya motivasi yang tumbuh dalam individu membuat pendidikan tidak bernilai lebih dari sekadar hadir membawa buku, lalu pulang ketika waktunya telah tiba. Siklus ini berlanjut hari demi hari, tidak ada perubahan maupun perkembangan yang signifikan. Ini karena pendidikan belum dijadikan sebagai tujuan dan alasan individu untuk bersekolah.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Ketika kesadaran akan pentingnya pendidikan memudar dan pendidikan dianggap sebagai rutinitas kosong yang hanya diwajibkan tanpa kesiapan jiwa dan pikiran, hal ini berisiko terhadap penurunan kualitas generasi ke generasi.

Dikutip dari salah satu tokoh dunia, Albert Einstein pernah berkata: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” (Pendidikan bukanlah tentang menghafal fakta, melainkan melatih pikiran untuk berpikir). Dalam kajian Dinamika Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Filsafat yang ditulis oleh Wilujeng, Syamsuddin, dan Murtiningsih dari Universitas Gadjah Mada, dinyatakan bahwa sistem pendidikan Indonesia saat ini masih sangat dipengaruhi oleh pendekatan formalistik. Fokus utama pendidikan lebih diarahkan pada struktur, jadwal, dan angka, dibandingkan pembangunan karakter, pemikiran kritis, dan kesadaran diri.

Fakta penguat lainnya adalah fenomena joki tugas yang mulai dinormalisasikan oleh mayoritas pelajar, karena dianggap satu-satunya jalan ninja untuk meringankan kewajibannya. Sementara tujuan dari tugas adalah melatih dan mempersiapkan SDM untuk menguasai sebuah bidang. Bukankah hal ini juga menguatkan pernyataan bahwa pendidikan hanya sebatas memperoleh gelar, walaupun isinya kosong?

Saat ini, arti pendidikan telah bergeser menjadi sebuah sistem yang dijalankan tanpa tumbuhnya keinginan diri untuk memperoleh pengetahuan baru ataupun pengalaman. Di lain sisi, negara ini memerlukan kondisi SDM yang sudah siap dan matang untuk mengembangkan potensi secara menyeluruh.

Sebuah perubahan yang bisa mulai dilakukan ini membutuhkan peran bersama. Sudah saatnya kita mengubah paradigma bahwa pendidikan seharusnya bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan kebutuhan jiwa dan akal. Pendidikan yang sejati adalah proses pengembangan potensi serta perjalanan menuju kesadaran akan kebutuhan sebagai bekal di masa mendatang, yang lebih dari sekadar mengisi menjadi yang terbaik dan lulus hanya dengan gelar tanpa pengetahuan. 

“Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.” – John Dewey.

Jika bukan diri kita yang memulai perubahan, maka siapa yang akan dicontoh generasi selanjutnya, akankah pandangan terhadap pendidikan ini semakin jauh dari arti sesungguhnya? Pilihannya hanya 2, kita yang memulai atau hilang selamanya.

 

Penulis: Davina Olga Salsabila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here