Kita tentu tak asing dengan istilah kampus adalah sebuah miniatur dari suatu negara. Hal itu dikarenakan struktur organisasi kampus yang memang mirip dengan struktur negara, mulai dari BEM U sampai himpunan. Jika negara punya trias politika, kampus pun demikian. Eksekutif dipegang oleh BEM, legislatif oleh DPM atau MPM, dan yudikatif oleh MM (ada di sebagian kampus). Dengan demikian, semua lidah akan mengamini bahwa kampus memang miniatur negara.
Untuk lebih menguatkan pendapat tersebut, tulisan ini akan menawarkan sesuatu yang manis, seperti kue lebaran buatan nenek yang dibungkus toples dan disajikan di meja tamu.
Ini sajiannya, silahkan dinikmati bersama secangkir kopi:
Tidak hanya struktur, kampus juga punya persamaan yang sangat mirip dengan negara. Persamaan tersebut adalah masalah yang dihasilkan kampus, maaf, organisasi kampus.
Sama dengan negara, kampus juga sering memberikan kabar konyol yang membuat daftar pikiran siswa yang sedang sumpek semakin panjang, entah karena tugas atau cinta.
Jika negara sering korupsi, kampus pun demikian. Jika negara nepotisme, kampus pun demikian. Jika negara anti kritik, kampus pun demikian.
Ada sebuah sampel kecil yang terjadi di salah satu kampus beberapa waktu lalu, yakni Unesa, tepatnya di Fakultas Bahasa dan Seni.
Pada (19/8/25) BEM FBS Unesa menyiarkan press release tentang donasi fungsionaris BEM FBS melalui akun instagram @bemfbsunesa. Lebih spesifik, pemberhentian pada S yang menjabat sebagai Wakil Ketua BEM.
Yang menjadi kontroversi adalah tidak adanya alasan yang jelas mengapa penghentian tersebut dilakukan. Dalam siaran pers hanya disebutkan perihal aspek kinerja dan profesionalitas. Hingga saat ini, belum ada kronologi yang jelas atau klarifikasi dari BEM FBS.
Jika memang hanya perihal aspek kinerja dan profesionalitas, kita langsung teringat dengan permasalahan negara beberapa waktu lalu, yakni perihal Tom Lembong, meski agak mendalam. Tom Lembong bermaksud melakukan kasus korupsi dan diancam pidana karena kebijakannya dianggap merugikan negara. Namun, pada kenyataannya, banyak pejabat-pejabat lain yang bahkan lebih merugikan negara, namun mereka masih bisa haha-hihi di Senayan. Tidak adanya kejelasan dari negara inilah yang membuat kasus Tom Lembong menuai kontroversi publik.
Teruntuk yang bersangkutan, entah BEM FBS dan yang lain, tulisan ini tidak ingin menyudutkan siapa pun. Kasus tersebut hanya dijadikan contoh untuk memperkuat argumen bahwa kampus memang miniatur negara.
Jika ingin menampilkan seluruh kasus di kampus, tidak hanya di Unesa, mungkin tulisan ini akan begitu panjang seperti novel tebal yang berkelanjutan. Dengan demikian, mungkin cukup hanya dengan menampilkan satu kasus yang sedang hangat.
Bagaimana pun, semirip-miripnya kampus dengan negara, ada satu hal yang tak dimiliki kampus. Yakni demonstrasi rakyat. Hal itulah yang menjadikan permasalahan kampus lebih abadi dan lebih kuno dari negara. Oleh karena itu, ada satu pesan yang mungkin bermanfaat bagi para pejabat organisasi kampus:
Jika kursimu terlalu nyaman, kepalamu akan terlalu keras.
Penulis: Satria Al-fauzi Ramadhan





