persgema.com, SURABAYA – Office of International Affairs (OIA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) gelar International Culture Festival (ICF) 2025 di Graha Sawunggaling, Kampus Lidah Wetan Unesa pada Jumat (3/10/2025). Berbeda dengan tahun sebelumnya, gelaran tahun ketiga ini menghadirkan konsep baru sekaligus mencatat peningkatan partisipasi mahasiswa asing hingga 80 persen.
Ketua Pelaksana ICF 2025, Cindya, menjelaskan bahwa adanya perubahan lokasi dari Lapangan Rektorat ke Gedung Graha Sawunggaling menjadi langkah besar bagi pelaksanaan ICF tahun ini. Ia juga menambahkan, konsep baru dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui pembagian area indoor dan outdoor.
“Kalau yang di tahun ini, kita lebih mengutamakan kenyamanan pengunjung. Kita memang ingin pengunjung bisa fokus ke penampilan, tapi mereka juga bisa tetap menikmati outdoor, maka dari itu kita menyediakan piknik di tempat outdoor,” ujarnya.
Selain adanya perubahan konsep tersebut, ICF 2025 juga mencatat peningkatan partisipasi mahasiswa asing. Lebih dari 50 mahasiswa internasional dari berbagai universitas di Pulau Jawa turut serta, mulai dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, hingga universitas di Bandung dan Surakarta.
Banyaknya partisipan dalam acara ini juga didukung dengan antusiasme terhadap beragam aktivitas yang diselenggarakan. Tak hanya menampilkan pertunjukan budaya, ICF 2025 juga menghadirkan kompetisi Cultural Quest yang terbuka bagi seluruh mahasiswa asing tanpa batasan institusi. Peningkatan ini menjadi perubahan signifikan dari tahun sebelumnya yang masih didominasi oleh mahasiswa lokal dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) internal Unesa.
“Di tahun ini, bisa dibilang 80% pengisi acaranya itu mahasiswa asing. Jadi, berbagai negara turut hadir dalam acara ICF ini,” tambah Cindya.
Menurut Cindya, sejak dimulainya persiapan acara pada April 2025, tantangan yang paling terasa adalah mencari partisipan internasional. Ia menyebutkan bahwa jarak tempuh dan kendala transportasi menjadi hambatan utama bagi beberapa mahasiswa asing untuk hadir. Meski begitu, panitia terus berupaya menyediakan fasilitas dan dukungan agar partisipasi dapat lebih maksimal.
Salah satu mahasiswa internasional asal India, Mansi, yang sudah tiga kali berpartisipasi dalam ICF, menilai acara ini sebagai salah satu event terbaik di Surabaya.
“I think this is quite unique and a very energetic event. We get a chance to show out own cultures and represent our countries, but at the same time, we get to know Indonesia much better. I think this is one of the best events that happens in Surabaya,” ungkap Mansi.
Ia juga menilai bahwa konsep tahun ini dengan area indoor dan suasana santai terasa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang sepenuhnya outdoor. Menurutnya, ICF memiliki ciri khas tersendiri karena berfokus pada penampilan budaya seperti cultural parade, kompetisi kuis, hingga perform dengan bernyanyi atau menari dalam suasana yang santai, berbeda dari festival internasional lain yang berlangsung lebih lama dan menitikberatkan pada kegiatan volunteering.
Tidak hanya itu, antusiasme terhadap acara ini juga datang dari mahasiswa lokal. Salah satu mahasiswa Unesa angkatan 2024 yang telah berpartisipasi dalam ICF selama dua tahun terakhir juga turut membagikan pandangannya. Ia menilai bahwa ICF tahun lalu memiliki area yang lebih luas karena digelar di lapangan rektorat, namun pengalaman menonton kali ini terasa lebih nyaman berkat penampilan yang dipusatkan di dalam ruangan. Lebih lanjut, ia menyarankan agar jumlah booth di area dalam dan luar diperbanyak karena setiap booth dinilai menawarkan permainan menarik dengan hadiah.
Dengan berbagai pembaruan dan peningkatan partisipasi, Cindya menilai ICF 2025 hadir sebagai ruang interaksi alami antara mahasiswa asing dan lokal dan telah mencapai tujuan tersebut hingga sekitar 70 persen.
Penulis: Age Islahiani Rufaidah, Fawazul ‘Ammar
Editor: Alya





