Sengkuni 7: Menggugat Harmony dan Makna Pahlawan lewat Ratusan Karya

0
225
Pemotongan pita oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni UNESA, Didik Nurhadi, M.Pd., M.A., Ph.D.

persgema.com, SURABAYA – Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, resmi membuka Sengkuni: International Art Exhibition ke 7 pada Kamis (13/11/25) di gedung T3. Kegiatan ini akan berlangsung mulai dari tanggal 13 November hingga 17 November 2025. Membawa tema Harmony, kegiatan ini ingin menyorot keseimbangan dalam dinamika kehidupan sosial, politik dan budaya, serta memaknai gelar pahlawan.

Pemotongan pita oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni UNESA,
Didik Nurhadi, M.Pd., M.A., Ph.D.

“Kita ingin membuat ruang kontemplatif. Sebenarnya yang pantas disebut pahlawan ini siapa sih? Siapa yang memulai kehidupan kita, siapa yang mengisi hari ini, siapa yang mengisi masa depan. Itu adalah tokoh atau sosok yang kita sebut pahlawan.” ujar Dimas Tri Pamungkas, kurator Sengkuni 7.

Serangkaian Ungkapan Karya Seni atau disingkat dengan Sengkuni, adalah kegiatan tahunan yang diinisiasi oleh mahasiswa dari Program Studi Seni Rupa Murni dan Pendidikan Seni Rupa. Di balik makna Harmony, pameran ini juga dijadikan sebagai wadah berproses bagi mahasiswa Seni Rupa untuk meningkatkan keterampilan problem-solving, manajemen waktu serta pengorganisasian sebuah event pameran. 

Dra. Indah Chrysanti Angge, M.Sn, selaku Kaprodi Seni Rupa Murni menggarisbawahi perjalanan panjang Sengkuni sejak awal muncul pada 2017 yang bermula dari acara Buffalo Gathering yang di tahun berikutnya yakni 2018 Sengkuni pertama kali berhasil diselenggarakan. Ia menjelaskan bahwa setelah UNESA menjadi PTNBH, kegiatan seni diarahkan menjadi internasional dan Sengkuni kemudian naik kelas menjadi agenda tahunan berskala internasional. 

Chrysanti juga menyoroti peran Sengkuni sebagai ruang belajar mahasiswa. “Saya salut pada adik-adik semuanya karena di tengah perkuliahan mereka menyempatkan menyiapkan acara ini. Ini latihan bagaimana memecahkan masalah hingga selesai,” ujarnya saat jumpa pers. 

Potret deretan karya yang dipamerkan dalam Sengkuni 7: International Art Exhibition.

Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya, Sengkuni International Art Exhibition menampilkan lebih dari 170 karya, termasuk 14 karya dari Eropa dan Asia, 38 karya kategori anak-anak, serta sejumlah karya dari kategori dewasa dan umum. Dimas menyebut proses kuratorial dilakukan melalui open call yang menerima hampir 300 karya, ditambah undangan seniman established Indonesia. Karya anak-anak juga melalui open call tersendiri. 

“Untuk pengorganisasian karya, kita campur. Kita nggak tematik, tapi kita melihat per-coraknya dan size-nya. Karena bagaimanapun kurator harus melihat ukuran ruang,” ujarnya. 

Untuk kategori umum, penilaian fokus pada perspektif seniman terhadap isu harmony, sementara untuk anak-anak dilihat dari imajinasi dan eksplorasi media mereka. “Semua karya berdasarkan tema. Interpretasi mereka bagaimana soal tema itu,” tambahnya.

Serangkaian pameran dimulai dengan ceremonial sekaligus pembukaan di hari pertama, kemudian di hari kedua akan diadakan sesi art discussion, dilanjut hari ketiga dengan penyelenggaraan workshop art management, lalu workshop craft di hari ke empat, dan diakhiri dengan acara penutupan pada hari kelima. 

 

Penulis: Adinda Trisaeni Nur Sabrina, Fatimah Raudhatul Jannah, Ahsana Nadhifa Nur Amalia, Lauzah Hawa Era Jauhari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here