Pada hari itu, setelah acara kelulusan SMA, Bu Yuli menghampiri Rahmat yang masih berkumpul dengan teman-temannya. Bu Yuli membawa rapor Rahmat yang sempat diambilnya dari Bu Sri, ibu Rahmat, yang sudah pulang lebih dulu.
“Rahmat! Kebanggaan Ibu!” Bu Yuli menepuk bahunya. “Ibu sudah cerita ke semua kelas, lho. Ibu bilang, kalau kalian mau tahu hasil kerja keras itu seperti apa, lihat Rahmat.”
“Bu Yuli terlalu memuji,” kata Rahmat sambil tersenyum kaku.
“Nggak, ini kenyataan.” Bu Yuli menariknya duduk. “Kamu daftar kuliah keguruan, kan? Ibu sudah bilang ke kepala sekolah, kita butuh guru muda kayak kamu.”
Rahmat menunduk sambil memandangi bayangannya sendiri. “Aku… belum tahu, Bu. Masih mikir-mikir.”
“Mikir apa lagi? Bakatmu udah jelas. Sayang kalau nggak dipakai.” Bu Yuli menepuk pundaknya dengan mata penuh keyakinan yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.
Setiap kali ada yang membahas masa depannya, Rahmat hanya bisa mengangguk, seakan terhipnotis, sementara isi pikirannya menerawang jauh.
Andri, satu-satunya teman yang tahu betul apa yang dirasakan Rahmat, hanya bisa memandanginya dengan iba.
Saat sampai rumah, Rahmat melihat Pak Darto (Pak RT-nya) sedang berbincang dengan ibunya. Senyum dan mata berbinar Pak Darto begitu melihatnya masuk sudah menjadi jawaban bahwa ia sedang menunggu Rahmat.
“Duduk sini, Rahmat,” kata Pak Darto sambil merangkulnya. “Kamu sudah lulus sekolah, kan? Habis ini langsung daftar kedinasan, yo, biar nanti jadi PNS, supoyo kampung ini ada nama,” ucapnya sambil tersenyum sumringah.
Rahmat hanya menunduk dan mengangguk, sedangkan Bu Sri di seberang hanya tersenyum dengan pikiran yang menerawang jauh. Pak Darto pamit pulang dengan senyum bangganya sambil menepuk bahu Rahmat.
Malam harinya, ketika Bu Sri dan Rahmat makan berdua karena ayahnya sedang keluar kota, Bu Sri memandang anaknya yang murung. Ia ingin bertanya, tapi rasanya berat sekali.
“Nak?”panggilnya lirih.
“Ada apa, Bu?” jawab Rahmat.
“Kamu setuju sama omongan Pak RT tadi siang? Kalau iya, ibu bilang ke ayahmu. Ibu ikut kamu aja. Ibu yakin sama anak kebanggaan ibu ini, bahkan seluruh kampung kita, jadi lulusan terbaik sekecamatan.” Bu Sri tersenyum teduh.
Rahmat terdiam lama. Ia juga bingung apa yang ia mau karena selama ini ia hanya menyetujui pendapat orang lain tanpa tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, dan harapan ibunya barusan menambah beban itu.
“Ya udah, ibu cuci piring dulu, sudah malam.” Bu sri beranjak, meninggalkan Rahmat yang masih termenung.
Malam harinya, Rahmat termenung di atas kasurnya sambil memandangi langit-langit kamarnya. Ia bertanya pada dirinya, apa yang sebenarnya ia inginkan.
Banyak orang menitipkan harapan mereka satu per satu tanpa pernah bertanya. Bu Yuli dengan mimpinya agar aku menjadi guru. Pak Darto dengan mimpinya agar aku menjadi PNS supaya kampung punya nama yang harum. Budhe Ani yang paling terngiang: “Kamu kan lebih pinter dari Deni dulu waktu SD, sekarang dia sudah magang di perusahaan gedhe di kota. Jangan sampai kalah, yo.”
Kalah. Kata itu menempel seperti duri kecil yang tak bisa dicabut. Budhe Ani tidak pernah sadar bahwa setiap kali ia membicarakan Deni, Rahmat diam-diam membatin, “Kenapa hidupku harus dibandingkan supaya dianggap berarti?”
Ia menghela napas panjang, lalu memandangi dinding kamarnya. Di dinding itu tertempel piagam-piagam lomba dan tulisan tangan Bu Yuli di bawah salah satu piagam: “Untuk murid kebanggaan Ibu.” Dulu tulisan itu membuatnya bangga. Malam ini, entah kenapa, itu terasa berat.
Siang harinya, Andri main ke rumah Rahmat yang sedang melamun di bangku teras depan rumah.
“Muka lo kayak abis kena marah RT tiga kali,” kata Andri sambil terkekeh.
“Gue capek, Ndri.” Rahmat menghela napas panjang. “Capek denger orang-orang ngomongin masa depan gue kayak mereka yang punya.”
“Ya emang lo terkenal di sini. Anak kampung paling pinter.”
“Itu masalahnya.” Rahmat mengepalkan tangannya. “Bu Yuli mau gue jadi guru. Pak Darto mau gue jadi PNS biar kampung punya nama. Budhe Ani bandingin gue sama anak sepupunya yang magang di kantor gede.”
“Terus lo maunya jadi apa?”
Rahmat terdiam cukup lama, seperti baru pertama kali ada yang benar-benar bertanya.
“Gue… nggak tahu, Ndri. Jujur.” Bahunya turun. “Gue kepikiran mau kerja dulu, cari tahu gue sebenernya suka apa. Tapi kalau gue bilang gitu, mereka bakal bilang gue nyia-nyiain kesempatan.”
“Terus kenapa nggak lo omongin aja?”
“Karena semua orang udah nitip harapan mereka ke gue tanpa pernah nanya gue maunya apa.”
Andri diam sebentar, lalu menepuk pundak sahabatnya. “Lo nggak wajib ikutin mau mereka, Mat. Lo boleh nolak.”
“Gampang diomongin,” kata Rahmat pelan. “Semua orang di kampung ini udah nunggu gue jadi ‘sesuatu’ selama bertahun-tahun. Kalau gue bilang gue belum tahu, atau gue mau jalan yang beda, rasanya kayak ngecewain semua orang sekaligus.”
“Atau…,” kata Andri, “lo cuma takut ngecewain diri lo sendiri, karena lo juga nggak pernah nanya diri lo sendiri.”
Kalimat itu menghantam Rahmat lebih keras dan membuatnya terdiam.
Sore harinya, ketika Rahmat baru saja mengantar Andri pulang, langkahnya pelan dan kepalanya masih penuh dengan kalimat Andri tadi. Saat kepalanya sibuk mempertanyakan kapan ia benar-benar memilih, langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menunggunya di depan rumah.
Bu Yuli datang membawa formulir pendaftaran kuliah keguruan, sementara Pak Darto membawa selebaran informasi tes kedinasan, dan Budhe Ani berdiri di pagar sambil bersedekap.
“Rahmat! Pas banget kamu pulang,” seru Bu Yuli sambil melambaikan formulir itu. “Ibu bawa formulir kuliahnya, kamu isi, ya. Nanti ibu bantu buat keperluan lainnya,” ucap Bu Yuli lagi dengan nada gembira.
“Lha kok formulir kuliah?” sela Pak Darto, sedikit tersinggung. “Rahmat kan mau daftar kedinasan.”
“Kata siapa ya pak? Ibu mau Rahmat jadi guru, jadi ya harus kuliah,” kata Bu Yuli dengan nada tidak terima.
“Halah, jadi guru gajinya kecil,” sahut Budhe Ani, tiba-tiba ada diantara mereka, “mendingan kayak Deni, magang aja gajinya udah gede. Rahmat harusnya kerja kantoran, biar nggak kalah.”
Ketiganya terus bicara, saling menimpali, seolah Rahmat hanya berdiri di tengah sebagai pajangan yang boleh diperebutkan. Rasanya kepala begitu berat ketika mendengar mereka bicara soal masa depannya, sementara ia sendiri masih bingung dengan apa yang ia inginkan.
“Sudah, sudah!” Suaranya agak meninggi. Ia tidak pernah membentak seperti itu sebelumnya. Ketiga orang tersebut terkejut dan terdiam.
“Saya… belum tahu saya mau apa,” kata Rahmat dengan suara bergetar tapi tidak lagi tertahan. “Bu Yuli mau saya jadi guru. Pak Darto mau saya jadi PNS. Budhe mau saya kayak Deni. Tapi belum ada satu pun yang nanya saya sendiri maunya apa.”
Tidak ada yang menjawab, seolah kalimat itu menyadarkan mereka. Pada akhirnya, Rahmat masuk ke rumah tanpa menunggu, meninggalkan ketiganya di halaman.
Bu Sri, yang sejak tadi ada di balik pintu, mendengar semuanya. Dari sini, Bu Sri sadar bahwa ia tidak pernah tahu apa yang betul-betul diinginkan anaknya. Selama ini ia hanya berpikir bahwa Rahmat akan setuju dengan usulan yang diberikan Pak RT.
Saat Rahmat masuk ke rumah, ia langsung terkejut melihat ibunya duduk termenung dengan raut wajah sedih di kursi tamu.
“Ibu…,” panggil Rahmat, mengagetkan Bu Sri.
“Ibu nggak tahu kamu ada di posisi itu. Ibu cuma tahu kamu selalu setuju sama Pak RT,” katanya pelan.
“Aku takut ngerusak harapan orang-orang, Bu,” jawab Rahmat dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu juga salah. Ibu nggak pernah nanya kamu maunya apa.” Bu Sri menatap anaknya lama. “Ibu cuma seneng kamu pinter, jadi Ibu pikir itu udah cukup.”
Rahmat tersenyum kecil, ada yang hangat di dadanya, bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena akhirnya ada yang mendengarkan, bukan menitipkan.
“Kamu udah tahu mau kemana?”
“Belum,” jawab Rahmat jujur. “Tapi buat pertama kalinya, aku nggak apa-apa belum tahu.”
Bu Sri mengangguk. Akhirnya, Rahmat bisa merasa bahwa beban yang dipikulnya akibat titipan orang-orang itu hilang.
Tamat~
Sekilas Informasi:
Tokoh utama: Rahmat (18 tahun, lulusan SMA, anak kampung yang dikenal pintar)
Tokoh pendukung:
- Bu Yuli – guru SMA yang selalu membanggakan Rahmat di depan murid lain
- Pak RT / Pak Darto – tetangga yang sering menyebut Rahmat “contoh anak kampung ini”
- Budhe Ani – tetangga julid yang sering membandingkan Rahmat dengan anak sepupunya di kota.
- Andri – teman sebaya yang justru menjadi tempat Rahmat jujur soal keresahannya
- Bu Sri – ibu Rahmat, sosok yang diam-diam juga menjadi lensa untuk menunjukkan bahwa bahkan orang terdekat pun tidak pernah benar-benar bertanya.
Penulis : Anis Dwi Ariyanti





