Cerpen “Black Knife” Karya Kharisma Mayresti Wijaya

0
233

BLACK KNIFE

Sesuatu yang segar mengalir membasahi lantai yang mulanya berwarna putih. Lantai dengan nuansa yang sangat mewah itu kini tertutupi oleh cairan merah. Cairan itu mengalir diiringi suara tangisan dari sosok perempuan yang tengah terbaring lemas di lantai yang tak jauh dari asal cairan itu. Bukan mungkin, memang benar, cairan itu adalah darah.

*** 

Sirine mobil polisi terdengar nyaring di telinga segerombolan wartawan yang berkumpul di depan sebuah rumah dengan nuansa putih megah. Selain mobil polisi, di sana juga terdapat beberapa mobil ambulance, itu berarti korban kecelakaan yang terjadi di rumah itu tidak hanya satu. Segerombolan orang yang bertugas untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di rumah itu berteriak mempertanyakan keadaan kepada beberapa polisi yang berjaga. Menunggu perwakilan polisi yang datang untuk diberikan berbagai pertanyaan seolah-olah waktu lebih lambat. Berbagai teriakan terdengar dari para wartawan.

“Apa yang sudah terjadi?”

“Kenapa bisa terjadi?”

“Bagaimana kronologi kejadiannya?”

“Apakah pemilik rumah terlibat dalam kecelakaan tersebut?” Berbagai macam pertanyaan muncul, tidak hanya oleh para pembuat berita, tetapi semua orang yang ada di wilayah tersebut mempertanyakan pertanyaan yang sama. Para wartawan itu sangat mewakili pertanyaan dari masyarakat. Hal ini perlu jawaban pasti, pasalnya pemilik rumah itu adalah seseorang yang mencalonkan diri sebagai wali kota. Tentu saja masyarakat memerlukan jawaban, agar mereka bisa menentukan siapa yang akan mereka pilih, dan siapa yang pantas menduduki kursi kepemimpinan.

Pemilihan wali kota kurang beberapa minggu lagi. Saat ini kepercayaan masyarakat terhadap Zion menurun. Tentu saja karena kejadian penyerangan di rumahnya. Polisi sudah memberikan keterangan kepada masyarakat. Berdasarkan bukti-bukti yang didapatkan, dua tersangka yang melakukan penyerangan ternyata memiliki catatan kriminal sebelumnya. Dan mereka mengaku bahwa Zion lah yang telah membayar mereka untuk mengeksekusi beberapa orang yang mengacau dalam pencalonannya sebagai walikota. Sementara itu, Zion sendiri seolah membisu, sampai beberapa minggu sebelum pemilihan, ia masih belum muncul dan berbicara di hadapan masyarakat. Sebagian besar masyarakat sudah memastikan, bahwa Zion sudah tidak dapat dipercaya untuk menduduki posisi pemimpin di kota mereka. Namun, masih ada sebagian pula yang berharap keterangan dari Zion bahwa semua yang diberitakan itu tidaklah benar.

*** 

“Ayah nggak mau mengatakan yang sebenarnya? Masih banyak yang menunggu keterangan dari Ayah,” ujar Andi, putra sulung Zion.

“Iya, Yah. Kalau Ayah memberikan keterangan yang sebenarnya, pasti masih ada yang akan mendukung Ayah. Perjuangan Ayah selama ini untuk menjadi wali kota juga nggak akan sia-sia. Tapi, kalau Ayah hanya diam begini, semua akan benar-benar menganggap Ayah sebagai pembunuh, Yah,” lanjut Ami, putri bungsu Zion.

“Jumlah orang yang mendukung Ayah saat ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang membenci Ayah. Beberapa bukti yang diterima polisi juga sudah mengarah kepada Ayah. Sementara, satu bukti kuat atas kejahatan seseorang mungkin berhasil diambil saat kejadian itu. Saat ini Ayah hanya bisa bersembunyi dari semua orang termasuk polisi yang tengah gencar mencari Ayah,” ujar Zion memberi penjelasan kepada anak-anaknya. “Sebelum Ayah keluar dan berbicara kepada semua orang, kita harus berhasil menemukan bukti itu. Yang tahu mengenai bukti kuat itu hanya Ayah dan Ibu. Ayah yakin mereka pasti menargetkan salah satu dari kami sebagai kambing hitam. Jika pisau itu menusuk Ibu, maka Ayah akan dibiarkan hidup untuk bertanggung jawab atas kejahatan yang tidak Ayah lakukan.” 

Mereka kini berada di sebuah rumah sederhana yang tidak diketahui oleh banyak orang bahwa rumah itu milik keluarga Zion. Dara, istri Zion, menjadi salah satu korban penusukan yang terjadi di rumahnya sendiri. Saat itu, ia berusaha mengambil bukti kuat dari suatu kejahatan. Namun, naasnya ia malah tertusuk pisau dari salah satu orang yang merebut barang tersebut. Sekarang, Dara tengah terbaring di ranjang rumah sakit tanpa satupun anggota keluarga yang menemani. Tentu karena keluarganya sedang bersembunyi. Namun, Dara akan lebih aman jika berada di rumah sakit karena ada polisi yang berjaga untuk menunggu Dara kembali tersadar.

“Bukti seperti apa itu, Yah?” tanya Andi.

“Pisau Hitam.”

*** 

“Pisau itu sudah ditemukan?” tanya seseorang di tengah kegelapan.

“Mohon maaf Tuan, kami gagal mengambilnya,” jawab seseorang mewakili tiga orang yang ada di belakangnya.

“Argh, kalian ini sangat tidak bisa diandalkan! Kalau seperti ini, bagaimana jika pisau itu ditemukan polisi?! Atau bagaimana jika pisau itu ditemukan kembali oleh Zion?! Kalian mau tanggung jawab?! Dimana kalian meninggalkan pisau itu?!”

“Seingat kami, ketika saya memastikan bahwa Bu Dara benar-benar tidak sadarkan diri, Pak Zion dengan kedua anaknya muncul dari lantai atas. Sesuai dengan perintah Tuan, jika salah satu dari pasangan itu sudah kami habisi, maka kami harus pergi. Tapi saya terjatuh dan saya tidak sadar kalau pisau hitam itu juga terlepas dari saku saya. Saya sungguh meminta maaf, Tuan.”

“Sekarang bagaimanapun caranya, kalian harus berhasil mengambil kembali pisau hitam itu! Cepat kerjakan!”

“Baik, Tuan.”

*** 

Di belakang rumah megah yang sebelumnya menjadi TKP dari penusukan itu terdapat enam orang yang sedang mengawasi keberadaan polisi yang menjaga rumah tersebut. Tampaknya setelah pukul 9 malam, seluruh penjagaan sudah tidak diperketat. Andi dan Ami bergegas masuk melalui pintu belakang rumah tersebut. Sesuai dengan penjelasan Ayah mereka, jika pihak yang bersangkutan belum melakukan langkah apapun, maka barang bukti penting itu tidak berhasil didapatkan. Dan jika pihak kepolisian juga belum melakukan tindakan yang seharusnya, maka barang bukti itu masih ada dalam lokasi kejadian penusukan. Pada akhirnya, Andi dan Ami berusaha mencari pisau hitam yang menjadi barang berharga itu karena belum ada pergerakan dari pihak yang bersangkutan maupun dari pihak kepolisian.

“Kak, Ayah bilang kalau pisau itu sebelumnya diletakkan di dalam laci di ruang tengah, lokasi kecelakaan Ibu kemarin juga di sana, berarti kemungkinan besar pisau itu ada di dekat laci, Kak,” ujar Ami dengan sedikit berbisik.

“Iya, kita cari aja di sekitar situ, pasti hilangnya nggak jauh kok,” balas Andi. Setelah kurang lebih 20 menit mereka mencari, Ami menemukan satu barang kecil yang terhimpit di antara kaki meja yang satu dengan kaki meja di sebelahnya. Pisau itu memang dari luar tidak terlihat, tetapi jika benar-benar teliti, maka siapapun akan menemukannya. Beruntunglah Ami menemukannya terlebih dahulu.

“Astaga, itu kak, di antara kaki meja. Ajaib banget nggak ketahuan sama polisi.”

“Udah, ayo ambil, terus kita bawa ke Ayah.” Mereka bergegas keluar dari rumah itu dan kembali melalui pintu belakang. Saat keluar, mereka tiba-tiba dihadang oleh empat orang berbadan tinggi tetapi tidak terlalu besar. Mereka memaksa adik-kakak itu untuk menyerahkan pisau yang mereka bawa. Perkelahian akhirnya terjadi antara Andi dengan keempat orang tanpa identitas itu.

“Tolong! Tolong! Ada maling! Tolong!” teriak Ami yang berhasil mengalihkan perhatian preman-preman itu dan mengundang atensi beberapa polisi yang sedang berjaga. Ketika semua teralihkan, kesempatan emas bagi dua bersaudara itu untuk segera kabur dan kembali pada sang ayah untuk menyerahkan pisau tersebut. Sedangkan empat orang yang berusaha mengambil pisau hitam berhasil ditangkap oleh polisi dan akan dilakukan investigasi. Sementara itu, di rumah persembunyian keluarga Zion, Andi dan Ami terus bertanya-tanya, hal istimewa apa yang diperebutkan dari pisau hitam itu.

“Yah, kenapa pisau itu bisa jadi barang bukti yang penting dan kuat?” tanya Ami.

“Iya, emangnya ada apa dengan pisau itu? Ayah juga nggak minta aku sama Ami buat pakai sarung tangan waktu mengambil pisau itu, bahkan sekarang ayah pegang pisau itu tanpa pakai sarung tangan, itu berarti tidak ada hubungannya dengan sidik jari atau DNA,” ujar Andi melanjutkan.

“Memang tidak ada.” Setelah mengucapkan tiga kata singkat, Zion mengambil sesuatu yang diselipkan di bagian bawah gagang pisau. Ternyata ada sebuah tempat untuk menyimpan sebuah barang yang berukuran sangat kecil di pisau hitam. Zion mengeluarkan sebuah kartu memori kecil dan memasangnya pada smartphone yang ia miliki. Kartu memori itu ternyata berisi foto, video, dan dokumen-dokumen pembuktian atas kejahatan Bisma selama menjabat sebagai wakil wali kota pada periode sebelumnya. Bahkan bukti bahwa ia yang telah merencanakan pembunuhan terhadap wali kota yang sedang menjabat saat ini.

Bisma. Seseorang yang sangat terobsesi dengan kekuasaan. Seolah tidak peduli bahwa ia menjadi seorang pembunuh. Yang terpenting baginya hanyalah uang dan kekuasaan. Ialah yang merencanakan kecelakaan yang terjadi pada Wali Kota demi menggantikan kepemimpinan seluruh kota. Ia juga yang melakukan penusukan terhadap Dara, kemudian menjadikan Zion kambing hitam atas semua yang telah ia lakukan. Semua hal itu ia lakukan tidak lain karena ia tahu bahwa bukti kejahatannya ada di tangan Zion dan Dara, serta ia tidak mau kekuasaannya direbut oleh Zion karena sebagian besar warga kota lebih mendukung Zion dari dua calon lainnya. Beberapa orang yang terluka di rumah Zion saat itu yakni Dara, satu pembantu, dan satu satpam. Syukurlah mereka bertiga berhasil diselamatkan.

Pada akhirnya, Zion berhasil menyerahkan bukti-bukti itu kepada pihak kepolisian. Bisma berhasil ditangkap dan diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya selama ini. Begitu juga dengan enam anak buah Bisma, dua dari mereka telah ditangkap sejak awal, yang mengaku atas perintah Bisma bahwa Zion yang telah memerintah mereka. Empat anak buah lainnya berhasil tertangkap ketika bertemu dengan Andi dan Ami di rumah Zion untuk mengambil pisau hitam yang berharga. Pemilihan wali kota tetap dilanjutkan dengan dua calon, dan Zion memenangkan kursi kepemimpinan kota tersebut. Sedangkan Dara, keadaannya mulai membaik. Ia sudah sadar, tetapi belum diperbolehkan melakukan banyak aktivitas. Begitu juga pak satpam dan pembantu yang menjadi korban.

Penulis: Kharisma Mayresti Wijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here