Sebagai penikmat karya sastra, saya menyadari bahwa dengan terselipnya kritik yang tertuang dalam kata-kata merupakan salah satu pemicu terbesar untuk merubah seseorang yang apatis menjadi peduli. Menurut saya, kritik dalam karya sastra adalah perlawanan halus yang paling mematikan. Hidup dalam negara yang serba menyusahkan rakyatnya membuat kita terus berusaha merubah situasi menjadi lebih baik. Mendorong kita untuk menagih lebih keras implementasi dari sila ke-lima dalam Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketimpangan sosial terjadi di mana-mana dan bagi saya sastra masih menjadi salah satu media paling efektif untuk menyampaikan suara. Tentu tujuannya agar menyentuh hati para pembaca untuk bergerak. Bergerak untuk memahami isu sosial yang sedang atau pernah dialami. Satu orang tergerak, menjadi pelopor untuk lainnya. Memaksa penguasa untuk mendengar, menyadari, dan memperbaiki. Namun, jika kritik itu sendiri tidak digubris, apakah kita harus anarkis?
Terdapat pola perlawanan melalui sastra yang saya temukan setelah membaca sebagian kecil buku dari berbagai penulis hebat, Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Pram menerbitkan Tetralogi Buru sebagai bentuk kritik terhadap kolonialisme. Dalam Tetralogi Buru, Pram selalu menyelipkan kritik akan kentalnya diskriminasi terhadap Minke, seorang pribumi yang hidup dalam era Kolonial. Karakter yang dibuat oleh Pram mengulik bagaimana seorang pribumi mengalami ketimpangan sosial pada masa itu, dibatasi hak-haknya diatas tanah kelahiran mereka sendiri. Sebagian besar karya Pram, terutama Tetralogi Buru selalu menekankan bentuk perlawanan. Perlawanan itu banyak mengambil unsur jurnalisme, dimana Minke sendiri adalah sosok jurnalis dalam karya yang dibuatnya. Bahkan dalam novel tersebut, saya menyadari bahwa kata-kata menjadi citra perlawanan dan cara menyampaikan kritik terhadap penguasa.
Kritik yang terselip dalam sastra tidak cukup terhenti sampai masa Pram, kita tahu bahwa era Orde Baru melahirkan banyak aktivis. Dalam era tersebut terdapat seorang penyair sekaligus aktivis yang keras menyeruakan kritik terhadap pemerintah Orde Baru, yaitu Widji Thukul. Sekumpulan puisi menjadi senjatanya dalam menekan kepemerintahan pada jaman itu. Kata-katanya yang lugas berhasil menekan penguasa di atas. Widji Thukul bukan hanya penyair, namun sesosok simbol bahwa kata-kata dapat ditakuti bahkan lebih dari senjata.
Kritik pemerintah dan mengikuti aksi unjuk rasa? Tangkap!
Mungkin begitu rasanya pikiran para penguasa, mereka takut kata-kata dapat membunuh mereka, menurunkan yang berkuasa dari takhtanya. Kritik yang disampaikan bukan diterima lalu sadar dan berbenah, namun justru orang yang memberikan kritik itu yang dilabeli buronan negara. Saya sendiri merasa kagum dengan penulis yang berani menyelipkan kritik dalam karya mereka yang menjadikannya bukan sekedar kata-kata, tetapi senjata. Senjata sosial untuk menyerukan perubahan, agar menumbuhkan rasa yang ‘sama’ dalam masyarakat.
Jika pada masa yang telah lalu kritik dalam sastra dibungkam melalui kekerasan, hari ini pembungkaman terjadi melalui pengabaian. Tentang bagaimana sejarah hendak dihilangkan, terbukti dalam pelajaran sekolah, kita tidak akan menemukan disinggungnya peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998. Tentang bagaimana penculikan terhadap aktivis tidak terungkap siapa dalangnya hingga sekarang.
Saya baru mengetahui kejadian kelam di Indonesia setelah membaca novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Saat membacanya, baru saya sadar pentingnya catatan akan sejarah yang dileburkan dalam sastra. Selamanya kita akan buta jika tidak ada satu orang yang memutuskan untuk menuliskannya kembali, terutama dalam bentuk sastra yang dapat dijangkau oleh kebanyakan orang.
Saya yakin beberapa karya yang telah saya sebutkan telah populer sampai hari ini, dari situlah generasi muda, termasuk saya, akan mengetahui sejarah negaranya sendiri. Kita akan berani untuk tidak tunduk pada kekuasaan yang otoriter, berani untuk memperjuangkan hak serta memiliki kesadaran sosial.
Kritik yang dibungkam tidak akan pernah bertahan lama, ia akan terus muncul dan menemukan jalannya untuk kembali. Mungkin sejarah bisa dimanipulasi, namun selipan kritik yang tertuang dalam karya sastra akan menjadi pemicu agar masyarakat terus mengingat. Itulah mengapa perlawanan melalui sastra akan terus relevan meski zaman terus berubah dan generasi baru terus muncul, sebab ia tidak mengenal batas waktu.
Saya percaya bahwa sekali saja terselip perlawanan dalam satu kalimat, maka ia akan terus abadi. Bagi saya, sastra adalah senjata yang tidak dapat dibungkam, dan dengan menyelipkan kritik di dalamnya, maka perlawanan akan terus bergema.
“Orde Baru,” kata sang penyair, “telah menjadi kerajaan absolut. Kita tak bisa tidak melakukan apa-apa, meski melalui sastra atau teater atau kesenian lainnya.” — Laut Bercerita, hlm. 83
Penulis: An Nisaa Rohmatul Gawe





