Kampus sejatinya merupakan representasi harapan tertinggi sebuah bangsa, tempat dimana lahirnya calon pemimpin dan intelektual masa depan. Namun, menjadi sebuah ironi ketika institusi yang menjanjikan kebebasan berpikir justru tercemar oleh praktik perundungan yang dilakukan oleh penghuninya sendiri. Saat senior mengintimidasi junior, atau sesama mahasiswa saling menekan, citra kampus sebagai ruang aman dan egaliter runtuh seketika. Fenomena ini bukan lagi sekadar insiden tunggal, melainkan telah berkembang menjadi budaya terstruktur yang merusak fondasi etika akademik mahasiswa.
Akar masalah terletak pada penyalahgunaan struktur kekuasaan dalam skala kecil. Senioritas sering disalahartikan sebagai otoritas mutlak, sementara kegiatan orientasi maupun kaderisasi dijadikan ajang pemaksaan dan show of force. Alih-alih membentuk karakter dan mental tangguh bagi mahasiswa baru, praktik ini justru menumbuhkan ketakutan serta melatih mereka menjadi korban atau bahkan pelaku intimidasi berikutnya. Siklus kekerasan psikologis semacam ini melahirkan generasi mahasiswa yang tertekan dan apatis, jauh dari citra pemuda idealis yang berani berpikir kritis dan menyuarakan kebenaran.
Dampak buruk perundungan tidak terbatas pada luka emosional individual. Secara makro, perundungan menciptakan iklim ketakutan yang mencekik kreativitas dan nalar kritis. Mahasiswa yang berpotensi cemerlang dipaksa untuk fokus pada upaya bertahan dan menyesuaikan diri, bukan pada pengembangan gagasan inovatif. Kampus, yang seharusnya menjadi medan perdebatan bebas, berubah menjadi tempat di mana budaya bungkam dan kepatuhan absolut lebih dihargai daripada keberanian untuk menentang. Ini merupakan kerugian intelektual terbesar bagi institusi pendidikan.
Dengan demikian, urgensi untuk melakukan perubahan total tidak dapat ditunda. Pihak kampus harus memberlakukan kebijakan tanpa toleransi (zero tolerance) secara mutlak, didukung oleh sistem pengawasan independen dan sanksi yang ditegakkan tanpa pandang bulu. Namun, perubahan sejati harus dimulai dari mahasiswa sendiri. Mereka harus berani memutus rantai trauma senioritas yang diwariskan, serta menegaskan bahwa kepemimpinan sejati dibangun atas dasar rasa hormat, empati, dan meritokrasi, bukan intimidasi. Kampus harus direbut kembali sebagai ruang milik semua, di mana setiap suara dihargai.
Pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi ada di tangan mahasiswa sendiri. Mereka harus berani memutus rantai senioritas toxic yang telah diwariskan. Mengganti budaya command and control dengan kolaborasi, hormat, dan meritokrasi adalah kunci untuk merekonstruksi kampus. Hanya dengan membangun etika yang berakar kuat pada empati, kampus dapat kembali menjadi tempat bernaung yang sejati, di mana setiap individu dapat tumbuh dan mencapai potensi maksimalnya.
Penulis : Devina Eka Salsabilla





