persgema.com, SURABAYA – Isu diskriminasi gender masih menjadi permasalahan sosial yang banyak digaungkan melalui berbagai kegiatan kolektif dan karya sastra. Salah satunya tercermin dalam karya-karya Djenar Maesa Ayu yang menjadi sorotan utama dalam diskusi talkshow Jika Puan Tak Ada (JIPTA) 2025. Kegiatan yang digelar di Amphitheater Kampus B Universitas Airlangga pada Selasa (04/11/2025) ini menjadi wadah refleksi terhadap perjuangan perempuan dalam melawan batas sosial dan sistem patriarki.
Karya-karya Djenar Maesa Ayu dikenal berani dalam menyingkap realitas perempuan yang kerap dibungkam oleh konstruksi sosial. Melalui antologi cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! dan novel Nayla, Djenar menyoroti bagaimana tubuh dan pengalaman perempuan sering menjadi objek moralitas masyarakat. Dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan simbolik, karya-karya tersebut dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap batas-batas sosial yang mengekang perempuan. Atas dasar itu, karya Djenar menjadi landasan utama pembahasan dalam forum JIPTA 2025 sebagai refleksi atas perjuangan kesetaraan yang masih berlangsung.
Salah satu pembicara, Alexei, menyinggung film terbaru Djenar berjudul Pangku yang dinilai masih sejalan dengan semangat karya-karya terdahulunya. “Mungkin film ini terinspirasi dari narasi-narasi Djenar sebelumnya. Sekarang, bentuk penyajiannya lebih mudah diterima masyarakat, seperti lewat medium film,” ujarnya.
Pembicara lainnya, Aqila Putri Damayanti, menjelaskan bahwa Djenar merupakan ikon perempuan yang berani bersuara lewat sastra pada masa ketika representasi perempuan masih terbatas. Ia menyebut bahwa pada era 1990–2000-an, jarang sekali perempuan yang berani menulis tentang pengalaman dan realitas perempuan secara terbuka. “Djenar menghadirkan realitas bagaimana perempuan diperlakukan di dunia nyata melalui tulisan-tulisannya,” ujarnya.
Ia menilai bahwa Djenar juga berhasil membongkar isu-isu personal dan sosial yang kerap dianggap tabu, seperti kekerasan seksual, pelecehan, dan batas moral perempuan. “Dia mengangkat hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga dan menuliskannya dengan cara yang terasa nyata. Saat membaca karyanya, kita seolah ikut merasakan apa yang dialami tokoh-tokohnya,” lanjutnya. Kedekatan emosional inilah yang kemudian menjadi daya tarik utama dalam karya-karya Djenar.
Lebih lanjut, Aqila menyoroti masih adanya kesalahpahaman masyarakat tentang makna kesetaraan gender. “Orang-orang masih menganggap kesetaraan gender itu sama. Padahal kalau kita memaknai ‘setara’ itu tidak berarti sama. Setara itu bagaimana orang itu bisa melakukan atau mendapatkan sesuatu sesuai dengan porsi mereka masing-masing. Gak harus selalu 50:50—tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan konteksnya, kalau saya butuhnya 30 ya dapat 30, sementara orang lain butuh 70 ya dapatnya 70,” jelasnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Tama, selaku moderator diskusi, yang menilai karya Djenar sebagai medium pembelajaran reflektif. Ia menyebut bahwa karya Djenar memberi ruang bagi pembaca untuk reading between the lines dan memahami makna di balik teks. “Kalau dibilang seberapa besar peluangnya, saya rasa karya Djenar cukup besar bagi individu untuk melatih diri membaca di antara baris. Tidak hanya memahami cerita, tetapi juga perasaan di baliknya, refleksi yang muncul, dan makna di luar teks,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa unsur alegoris seperti penggunaan simbol hewan dan kisah non realis dalam karya Djenar justru memperkuat pesan sosial di balik teks. “Karya-karyanya memantik pembaca untuk membaca lebih jauh dari apa yang disajikan. Potensinya besar, tergantung bagaimana pembaca mau menafsirkan dan meresponsnya,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Hafid selaku penanggung jawab acara berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga aksi berkelanjutan yang mampu menumbuhkan kesadaran sosial. Ia menuturkan bahwa lingkungan kampus dapat menjadi ruang awal untuk menyuarakan isu-isu kesetaraan. “Kita kan menganggap bahwa dimensi kebenaran itu kan seringkali dipegang oleh para akademisi. Apa yang dikatakan oleh akademisi itu selalu diikuti oleh masyarakat. Karena kita di ruang lingkup kampus, maka dari ruang inilah kami ingin membawa isu kesetaraan ke ranah yang lebih nyata, bahkan dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga,” pungkasnya.
Penulis: Aisya Rabbanea Zahra, Fawazul Ammar, Firna Dwi Agustina, Alya Nasyanur Fauzia





