Pengaruh Konten Media Sosial Terhadap Keterlibatan Publik dalam Tingkat Penyebaran Informasi

0
215

Seiring dengan berkembangnya era digitalisasi, media sosial telah hidup berdampingan dan menjadi bagian dari aspek penting kebutuhan manusia. Berperan sebagai wadah atau media yang dapat menjembatani interaksi satu sama lain secara langsung tanpa terbatas ruang dan waktu melalui jaringan internet (online), media sosial dinilai memberikan banyak keuntungan sehingga popularitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 

Per Januari 2024, Hootsuite (We Are Social), agensi kreatif global yang berfokus pada media sosial, mencatat bahwa pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 139 Juta. Media sosial tersebut terbagi ke dalam berbagai platform populer, seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, X (Twitter), dan masih banyak lagi. Platform-platform tersebut dipenuhi oleh unggahan konten baik berupa foto, video, teks, dan lain sebagainya yang bertujuan dalam penyebaran informasi. Semakin banyaknya pengguna media sosial, maka berdampak signifikan juga pada tingkat penyebaran informasi dalam menjangkau audiens secara lebih luas. 

Konten media sosial sering kali dikemas secara menarik untuk meningkatkan minat audiens dalam membaca atau menerima informasi yang diberikan si pemroduksi konten. Informasi tersebut diharapkan dapat dipahami oleh audiens dengan baik. Individu atau pengguna sosial media biasanya menemukan konten-konten ini melalui feed, notifikasi, atau bahkan rekomendasi dari algoritma platform sosial media. Sebagai makhluk sosial, konten yang beredar melalui media sosial kerap sekali mampu menyentuh emosi para audiens, seperti rasa marah, sedih, kecewa, atau turut senang dalam melihat visualisasi yang ditampilkan pada konten. Terutama pada konten-konten yang menggambarkan situasi relevan atau menyinggung suatu masalah yang dialami oleh seseorang, selalu berhasil dalam mengambil rasa empati dan kepedulian publik atau para pengguna media sosial.

Dengan adanya faktor-faktor seperti perbedaan latar belakang dan kondisi, keyakinan dan pengetahuan, kepribadian, hingga konteks sosial budaya, menjadikan setiap individu memiliki pandangan atau perspektifnya masing-masing dalam menanggapi suatu peristiwa atau isu. Sedangkan, informasi yang beredar pada sosial media sangat beragam dan mencakup berbagai bidang, baik mengenai isu-isu politik, sosial, budaya, ekonomi, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu memicu setiap pengguna sosial media menyatakan pendapatnya masing-masing atas informasi yang beredar melalui konten sosial media, baik setuju maupun tidak setuju. Semakin banyak informasi tersebut dijangkau dan melibatkan publik, tingkat viralitas konten menjadi tidak terhindarkan. Akibatnya, konten tersebut berujung menarik publik terlibat dalam menyatakan perspektifnya masing-masing. 

Keterlibatan publik yang dimaksud di sini adalah partisipasi aktif individu dalam menindaklanjuti konten atau informasi yang beredar melalui diskusi online, turut menyebarkan informasi, hingga terlibat dalam aktivitas kampanye sosial ataupun politik. Misalnya, gerakan “All Eyes on Papua” yang viral melalui media sosial pada awal Juni 2024. Aktivis dan masyarakat papua yang mengetahui isu penting atau kejadian mengenai perjuangan suku Awyu dalam mempertahankan hutan mereka seluas 36.094 hektare dari rencana ekspansi perusahaan kelapa sawit PT. Indo Asiana Lestari menggunakan platform sosial media untuk menyebarkan video, gambar, dan cerita mengenai kondisi tersebut. Hal tersebut tentu memicu perspektif publik yang menganggap bahwa isu ini penting untuk diketahui dan harus disuarakan agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dengan tepat. Apalagi dengan adanya informasi bahwa hal ini bukan hanya dapat merugikan masyarakat Papua, tetapi juga seluruh dunia akibat dari kehilangan hutan sebagai  paru-paru dunia sekaligus dapat menyumbangkan emisi sebesar 25 juta ton CO2. Ditambah adanya tagar #AllEyesOnPapua, konten-konten ini dengan mudah mampu menggerakkan publik untuk terlibat dan menjadi viral hanya dalam waktu singkat. 

Tercatat hanya dalam jangka waktu kurang lebih satu minggu, seruan All Eyes On Papua telah dibagikan lebih dari 2,8 juta kali di Instagram Story. Hal tersebut dilakukan oleh para pengguna instagram sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan hutan adat Papua.

Bahkan, penulis telah melihat melalui laman media sosial saya sendiri bahwa lebih dari 15 kali postingan tersebut dibagikan oleh akun yang berbeda-beda. Menurut mereka, konten informatif sekaligus persuasif yang memuat narasi tersebut dinilai penting untuk diketahui seluruh masyarakat Indonesia agar memiliki kesadaran terhadap isu lingkungan yang sedang terjadi. Apalagi dengan adanya fitur Instagram yang memudahkan pengguna membuat rantai konten Instagram Stories sehingga mampu men-trigger orang lain untuk turut membagikan postingan. 

Viralitas konten di media sosial dapat menjadi alternatif jitu untuk memberikan dampak pada kehidupan nyata. Namun, hal ini dapat berdampak baik maupun buruk. Apalagi dengan adanya kebebasan setiap pengguna media sosial dalam membagikan kontennya masing-masing, sehingga informasi yang disebarkan belum tentu tepat atau sesuai fakta yang terjadi. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak buruk yang mungkin terjadi, kita sebagai pengguna media sosial harus bijak dalam menanggapi suatu isu dengan memastikan kebenaran informasi. Apabila kita tidak menelitinya terlebih dahulu, maka dapat berbalik merusak reputasi individu bahkan memicu konflik di ruang digital. Setiap pengguna sosial media harus bijak dalam menentukan perannya dalam memanfaatkan media digital dengan tepat agar tindakan yang dilakukan tidak disalahartikan untuk andil dalam hal tidak baik yang berujung pada konflik tertentu. Namun, sebaliknya dapat mengundang keterlibatan dalam menebar kebaikan, mengedukasi sesama, hingga memperjuangkan dan melindungi bangsanya.

Penulis: Alya Nasyanur Fauzia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here