Cerpen “Hilang” Karya Chika Dian Nurcahyani

0
304

Hilang

Di suatu hari yang cerah, dua sahabat bernama Nina dan Hana, memutuskan untuk menjelajahi hutan tua di pinggiran kota mereka. Ada banyak cerita mistis tentang hutan tersebut. Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa takut mereka. Setelah berjam-jam berjalan, mereka menemukan sebuah gerbang tua yang berkarat tersembunyi di balik pepohonan lebat. Tanpa pikir panjang, mereka membuka gerbang itu dan melangkah masuk.

Begitu melewati gerbang, mereka merasa dunia di sekitarnya berubah. Hutan yang semula rimbun dan hijau berubah menjadi desa tua  dengan rumah-rumah kayu yang hampir semua dipenuhi bunga dan ladang rumput yang luas. Mereka mendengar bisikan-bisikan aneh dan melihat bayangan-bayangan misterius di sudut mata mereka.

Nina dan Hana mencoba mencari jalan keluar, tetapi desa itu seolah-olah berubah bentuk setiap kali mereka berbelok. Mereka bertemu dengan penduduk desa yang aneh, yang tampak seperti bayangan dari masa lalu. Wajah mereka kosong, mata mereka kosong, dan mereka berbicara dengan nada datar tentang seorang ratu yang memimpin desa tersebut.

Setelah berjam-jam berkeliling tanpa hasil, mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang mengenakan jubah putih dengan penutup wajah . “Kalian tidak bisa pergi,” katanya dengan suara serak. “Desa ini memilih siapa yang bisa keluar dan siapa yang harus tinggal”.

Hana tidak ingin menyerah. Dia terus berusaha menemukan jalan keluar, sementara Nina merasa ada sesuatu yang menariknya untuk tetap tinggal. Nina mulai mendengar suara-suara yang memanggil namanya, suara-suara yang membuatnya merasa diterima dan diinginkan di desa itu. Tiba-tiba, Nina hilang tanpa jejak.

Hana panik dan terus mencari Nina, hingga akhirnya ia menemukan sebuah cermin tua di tengah desa. Ketika ia melihat ke dalam cermin itu, ia melihat Nina. Namun, bukan Nina yang ia kenal. Nina duduk di atas takhta, mengenakan mahkota, dan di sekelilingnya, para penduduk desa bersujud kepadanya. Mata Nina kosong, namun ada kekuatan misterius yang memancar dari dirinya.

“Nina!” teriak Hana. Namun, Nina hanya menatapnya dengan dingin dan berkata, “pergi”.

Hana merasa putus asa, tetapi ia tahu ia harus keluar. Ia terus berlari melalui desa, mencari tanda-tanda jalan keluar. Setelah banyak usaha, ia menemukan gerbang yang sama tempat mereka masuk. Dengan hati yang berat, ia meninggalkan desa itu dan melangkah keluar.

Begitu ia kembali ke hutan tadi, Hana merasa lega. Namun, ia juga merasa sedih karena telah kehilangan sahabatnya. Ia berjanji akan mencari cara untuk menyelamatkan Nina. Sementara itu, di desa misterius itu, Nina telah menyatu, mengendalikan desa dengan kekuatan yang tidak dimengerti oleh Hana.

Hari-hari berlalu dan Hana terus mencari cara untuk kembali dan menyelamatkan Nina, berharap suatu hari mereka bisa bersama lagi.

Penulis: Chika Dian Nurcahyani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here