Bulan di Dasar Telaga
Jembatan bambu reyot tambak biru
Tertiup angin tak menggoyahkan langkahku
Dedaunan jatuh dari ranting-ranting lapuk
Telah gugur perasaaan abu-abu
Ikut mati di tengah labirin diksi
Semerbak bunga juwita membelah udara
Dengan luka duri bugenvil masih membekas
Serta sorot mata sayu yang terjaga
Diiringi irama cakra besi sedang berlari-lari
Kala petang, siluet panorama terlukis elok
Memancarkan mimpi pada kursi tua rimpuh
Menggemakan jeritan nadi kampung halaman
Badai berganti pelangi
Tak patah bagai pasang surutnya ombak
Bintang bergantung di langit-langit
Menyambut dinginnya pekat malam
Secangkir kopi sejuta titik pena
Semangkuk mie sejuta harap
Ditemani pantulan redup cahaya bulan
Pada dasar telaga kini perlahan terang
Penulis: Melly Yunitasyari





