Resensi Novel “Animal Farm: Sebuah Satire Epik Tentang Babi, Politik, dan Negara yang Masih Relevan di Dunia Modern”

0
595

Pengenalan

Mendengar tentang peternakan tentunya hal yang terlintas di dalam kepala kita ialah berbagai hewan yang telah mengalami domestikasi guna menunjang kehidupan manusia, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Domestikasi yang sudah berjalan begitu lama menciptakan sebuah pemikiran di kepala kita dimana hewan hewan ternak memanglah diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sehingga, nyawa mereka tak lebih berharga dari sepiring rendang di etalase warung nasi padang. Namun, bagaimana jadinya jika para hewan ternak ini memulai revolusi? Sebuah revolusi untuk menegakkan hak hidup mereka, sebuah revolusi untuk mendapatkan kedaulatan mereka, dan sebuah revolusi yang dilakukan oleh sekumpulan kuda, domba, ayam, hingga babi. Hal inilah yang dikisahkan oleh George Orwell di dalam bukunya yang berjudul Animal Farm.

Di dalam buku ini, George Orwell berusaha menuliskan sebuah satire tentang kondisi politik di Uni Soviet Pasca terjadinya revolusi Rusia pada tahun 1917 hingga 1923 yang kala itu masih berdiri dengan digambarkan sebagai sebuah peternakan.  Digambarkan pula sebuah dualisme karakter pemimpin yang saling bertabrakan dan memperebutkan kekuasaan, yaitu Napoleon si babi yang tegas, keras, serta otoriter dan Snowball yang inovatif, bersemangat, dan seekor babi intelektual. Kedua karakter ini merupakan representasi dari Vladimir Lenin dan Leon Trotsky, dua tokoh penting yang terlibat di dalam revolusi Rusia kala itu. Serta, adapula tokoh yang bernama Jones, seorang manusia dan pemilik dari peternakan yang merupakan  representasi dari Tsar Nicholas II (Kaisar terakhir dari Kekaisaran rusia sebelum akhirnya terjadi revolusi). 

Sinopsis

Kisah ini diawali dengan kegiatan para hewan ternak untuk berkumpul dan membicarakan mengenai kehidupan peternakan. Di antara hewan ternak itu, terdapat satu babi tua yang bernama Old Major. Babi ini adalah hewan yang dipandang tinggi di peternakan. Kala itu, Old Major melakukan sebuah orasi yang menceritakan mengenai bagaimana sebenarnya para hewan di peternakan telah dikekang hidupnya oleh para manusia selama ini. Dalam mimpinya, Old Major melihat sebuah dunia ideal bagi para hewan ternak, dunia dimana tidak ada manusia. Berangkat dari hal ini, setelah Old Major meninggal para babi pun mengelaborasikan gagasan-gagasan Old Major hingga akhirnya mengerucut pada satu kesimpulan: hewan ternak harus memulai revolusi. Dengan dipimpin oleh Napoleon dan Snowball, para hewan ternak bekerja sama untuk menciptakan revolusi. Para babi, kuda, ayam, bebek, domba, dan burung memiliki 1 tujuan yang sama, merebut peternakan dari Jonas sang peternak. 

Para hewan ternak pun berhasil melakukan revolusi dan menjadi hewan yang merdeka tanpa penindasan dari Jones si peternak. Setelahnya, untuk memastikan kedaulatan para hewan tetap berjalan, para babi yang berperan sebagai intelektual dan politikus dalam sistem pemerintahan para hewan ternak menggagas sebuah aturan sebagai dasar hukum mereka. Adapun hal ini berisi 7 perintah, yaitu:

  1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh
  2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman
  3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian
  4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang
  5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol
  6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain
  7. Semua binatang setara. 

7 perintah ini nantinya disebut prinsip binatangisme. Prinsip binatangisme digunakan sebagai peraturan yang mengikat seluruh hewan dan bertujuan untuk menegaskan bahwa hewan tak boleh berperilaku seperti manusia. 

Dengan terjadinya revolusi dan diciptakannya hukum, maka kehidupan para hewan ternak yang telah merdeka ini harus tetap berjalan. Seluruh posisi pemerintahan peternakan hewan diisi oleh babi karena mereka memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi daripada hewan hewan lain. 

Namun, seiring waktu karena adanya dualisme kepemimpinan antara Napoleon dan Snowball yang saling berlawanan dalam hal pemikiran, maka menimbulkan pertentangan diantara keduanya yang berujung pada terjadinya konflik perebutan kekuasaan yang kotor. 

Penutup

Novel ini menjadi sebuah alegori sempurna untuk menggambarkan bagaimana sebuah rasa haus kekuasaan dapat merubah watak seseorang. Bahkan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan turut dilakukan, seperti diubahnya prinsip binatangisme hanya demi memenuhi ketamakan para pemimpin peternakan dan perlahan-lahan hewan yang membenci penindasan oleh manusia justru melakukan tindakan yang sama, seperti manusia ketika meraih kekuasaan. Hal ini senada dengan perkataan Lord Acton, seorang sejarawan masyhur dari Inggris yang berkata bahwa, “Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan absolut sudah pasti korup”.

Novel ini menjadi buku yang harus dibaca terutama di era saat ini. Meski sudah berusia lebih dari 50 tahun, novel ini mampu menggambarkan kondisi politik yang masih relevan dengan kondisi politik kontemporer. Hal ini sudah kita jumpai pada serangkaian  pelanggaran konstitusi yang terjadi selama setahun terakhir dengan bagaimana konstitusi diselewengkan guna melanggengkan kekuasaan yang ada saat ini. Sebuah karya epik yang mungkin akan hidup abadi, dan menjadi pengantar pesan bagi setiap generasi sehingga dapat menjadi khazanah pengetahuan bagi setiap individu untuk mengenali gaya kepemimpinan yang patut untuk dikutuk.

Penulis: Maulana Abdi Hanifa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here