Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, jari-jemari remaja akrab dengan layar ponsel, menjelajahi Instagram, TikTok, YouTube, dan Twitter. Mereka membagikan foto, video, opini, dan cerita pribadi, seolah-olah dunia harus tahu siapa mereka dan apa yang mereka alami.
Banyak yang memaknai fenomena ini sebagai bentuk ekspresi diri kebebasan yang sebelumnya mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Lewat media sosial, remaja bisa menunjukkan bakat, memperjuangkan isu, dan menemukan komunitas yang serupa dengan dirinya. Kita bisa melihat remaja yang menari dengan penuh semangat, menyanyi dengan suara emas, atau berbicara lantang tentang isu sosial. Media sosial, dalam hal ini, bisa menjadi ruang emansipasi.
Namun, tidak semua yang tampak sebagai ekspresi diri benar-benar lahir dari kesadaran dan kebebasan. Kita perlu bertanya lebih kritis: Apakah semua yang dibagikan remaja adalah ekspresi sejati, atau justru bentuk eksploitasi diri yang dibungkus algoritma? Di sinilah persoalan menjadi rumit.
Media sosial melahirkan budaya performatif, di mana hampir segala hal menjadi pertunjukan. Remaja merasa perlu menampilkan versi terbaik dari dirinya demi mendapat validasi sosial dalam bentuk likes, comments, dan views. Tidak jarang, demi engagement, mereka rela tampil “berbeda”, sensasional, bahkan memamerkan hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi.
Inilah yang disebut sebagai eksploitasi diri, yaitu saat seseorang secara sadar atau tidak, menjadikan dirinya objek untuk ditonton dan dinilai demi keuntungan sosial atau digital. Konten tentang luka batin, konflik keluarga, hingga masalah kesehatan mental sering kali dikemas menjadi “konten menarik” untuk konsumsi publik. Padahal, tidak semua perasaan layak dipertontonkan, dan tidak semua pengalaman harus dijadikan tontonan.
Kemudian timbul Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan? Apakah remaja yang membagikan kisahnya mendapat pemulihan atau justru terjebak dalam tekanan untuk terus tampil?
Ironisnya, dalam dunia media sosial, remaja bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga komoditas. Setiap klik, komentar, dan unggahan mereka terekam oleh sistem. Data pribadi dianalisis, dijual, dan dimanfaatkan untuk kepentingan iklan atau bahkan manipulasi opini publik. Mereka menganggap sedang “mengekspresikan diri”, padahal mereka tengah memberikan informasi gratis kepada perusahaan besar.
Inilah bentuk lain dari eksploitasi yang lebih halus, bahkan tak kasat mata. Kita hidup dalam sistem digital kapitalistik, di mana perhatian menjadi komoditas paling berharga. Semakin sering seorang remaja tampil dan mendapat perhatian, semakin besar kemungkinan dirinya dieksploitasi oleh sistem itu sendiri.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial membuat banyak remaja mengalami stres, cemas, dan krisis identitas. Mereka mulai menilai dirinya dari komentar orang lain, dari jumlah like, dan dari algoritma. Perlahan, mereka lupa siapa dirinya sebenarnya di luar dunia maya.
Tidak sedikit remaja yang mengalami gangguan citra tubuh, kecemasan sosial, hingga depresi akibat media sosial. Ironisnya, dalam masyarakat kita, masih sedikit ruang aman untuk mendiskusikan ini secara terbuka. Orang dewasa sering kali menyalahkan remaja karena “kecanduan HP”, tanpa memahami bagaimana sistem digital itu sendiri memang dirancang untuk membuat penggunanya kecanduan.
Namun tentu saja, media sosial bukanlah musuh sepenuhnya. Ia bisa menjadi alat pembebasan, jika digunakan dengan sadar. Remaja bisa menjadikannya ruang belajar, ruang berbagi nilai, bahkan ruang perlawanan terhadap ketidakadilan. Tapi itu hanya mungkin terjadi jika ada kesadaran kritis kesadaran tentang bagaimana media bekerja, siapa yang diuntungkan, dan di mana batas antara ekspresi dan eksploitasi. Remaja perlu didampingi untuk mengelola identitas digitalnya secara sehat. Mereka perlu tahu bahwa tidak semua hal harus dibagikan, dan bahwa menjaga privasi adalah bentuk perlindungan diri. Kita juga perlu membangun ekosistem digital yang lebih etis yang tidak hanya mengedepankan viralitas, tetapi juga kebermaknaan.
Penulis: Nada Syaqilah, redaktur Bahasa.





