Cerpen “Karena Kamu Temanku” Karya Irsyad Izzuddin Arrauf

0
244

Karena Kamu Temanku

Orang-orang berlalu-lalang. Seorang ibu menggendong anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Seorang bapak dengan setelan jas berjalan cepat. Pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Anak-anak kecil sibuk berlari sana-sini. Bahkan, seekor anjing yang mengikuti tali majikannya ikut mengisi momen kecil ini.

Ini adalah pusat kota dan aku sedang duduk di sebuah kedai kopi paling bergengsi di salah satu tempat terpadat di dunia. Namun, mereka tidak tahu. Tepat 10 tahun lalu, tempat ini berupa gedung yang sedang dibangun dengan ratusan tukang bangunan yang ramai dipekerjakan. Kini, kawasan itu telah disulap menjadi mall paling elit di ibu kota. Dan aku berada di sini sedang menyaksikan keramaian itu. Pikiranku mengingat sepotong episode yang terjadi pada masa lampau.

Mataku tiba-tiba melirik jam kayu antik yang terlihat kontras dengan kedai kafe yang disebut mewah itu. Tik-tok, jarum jam itu berdenting syahdu. Mataku mengedip pelan.

Hei, jika kamu bisa memutar kembali episodic memory-mu, apa yang hendak kaulakukan?

Pandanganku menerawang sekitar. Mulutku terbuka pelan, meracau sesuatu yang tidak jelas. Perlahan, aku merasakan penglihatanku semakin kabur. Seorang majikan ditarik mundur oleh tali yang mengikat anjingnya. Anak-anak saling mengejar belakang mereka. Sepasang anak sekolah dasar yang mesra. Remaja dengan setelan rapi berjalan mundur secara serampangan. Seorang gadis yang mengenakan sewek. Dan jarum jam yang tidak berputar searah jarum jam. Aku merasakan dunia seperti berputar..

Mataku memejam. Kepalaku seperti ditekan gaya gravitasi yang kuat. Lalu terhenti. Bola mataku kembali terbuka.

 Aku mendapati diriku berada di tempat itu. Tempat yang 10 tahun lalu merekam kenangan itu. Salah satu episode dalam hidupku terulang kembali.

***

Bangunan semen itu masih segar seperti dalam ingatanku. Aku yang asyik duduk di atas pipa-pipa besi. Para pekerja bangunan dengan seragam oranye dan topi kuning menyala. Serta cahaya siang yang menyengat kulit.

Saat itu kamu hadir dalam hidupku.

Seorang remaja laki-laki yang terlihat berusia tak lebih dari 13 tahun. Perawakan yang pendek, dan tubuh yang sedikit kurus, tetapi dengan pipi yang terlihat chubby. Orang itu tampak dari balik tembok semen olehku yang tinggi. Aku memanggilnya, “Hoi!”

Dia terlihat sedikit kikuk waktu aku memanggilnya, tapi tetap menghampiriku.

“Kamu siapa?” tanyanya lugu.

Kami pun menjadi teman. Aku ingat namanya Dion. Saat tahu ternyata kami satu sekolah, kami pun jadi sering menghabiskan waktu bersama. Kemana-mana bersama, dan apapun yang kami lakukan bersama. Meskipun aku tidak paham sebenarnya seberapa kedekatan kami ini.

Dion adalah orang yang sangat pintar, rajin beribadah, dan aktif berorganisasi. Berbanding terbalik denganku yang tidak pintar-pintar meski rajin, cukup berangkat salat tepat waktu, dan grogi untuk bicara dengan kakak kelas. Melihat hal itu, aku selalu merasa kagum dan iri saat bertemu dengan dia. Padahal kami berteman, tetapi mengapa aku tidak bisa menjadi seperti dia? 

Meski begitu, rasa kagumku padanya lebih besar. Aku yang awalnya tidak merasa canggung saat bersama dengannya, kini lebih seperti seorang fans yang bertemu dengan idolanya, yang tidak lain adalah temanku sendiri. Pernah saat kami sekelas, aku merasa sangat tertarik dengannya karena suatu alasan, tetapi dia malah menjahiliku di depan teman-teman sekelas. Aku merasa tidak terima dan marah saat itu. Alih-alih meminta maaf, dia hanya menunjukkan perasaan tidak enak padaku. Aku pun mengisi diary dengan umpatan-umpatan kepadanya selama seminggu penuh. Sejak itu, kami hampir tidak pernah  saling menyapa lagi saat tidak sengaja bertemu.

Berganti tahun, aku telah melupakan perasaan itu. Dan suatu saat kami tidak sengaja bertemu, aku memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu. “Hei,” sapaku.

“Oh. Hei, Yon.” Dia sedikit kikuk saat mengatakan itu. Tangannya menggaruk tengkuk. Tatapannya sedikit menatap ke arah lain.

Aku kemudian melenggang pergi. Aku tahu dia masih merasa tidak enak padaku. Tapi, aku ingin kami kembali berteman lagi. Apakah tidak boleh?

Pikirku begitu. Akan tetapi, sekarang dia terlihat mendekati diriku agar aku mau memaafkannya. Terkadang dia menghampiriku saat aku sedang bersama orang yang lain, jadi kami tidak akan canggung. Dia juga mulai mengajariku pelajaran yang tidak dapat kupahami. Selain itu, dia menyoraki aku yang berusaha menyesuaikan diri dengan teman-temanku saat berolahraga. Entah bagaimana, kami menjadi lebih “dekat” kembali.

Tahun ketiga Sekolah Menengah Pertama, aku sungguh menyukai hubungan pertemananku dengan Dion. Rasanya nyaman apabila ini terus berlanjut. Sampai suatu saat aku menyadari bahwa ini adalah tahun terakhir kami bersekolah. Pada akhirnya, kami harus berpisah.

Tidak mau, tidak mau! Memikirkannya saja aku tidak mau. 

Namun, apa mau dikata, aku tidak dapat menghapus pikiran buruk itu. Pada suatu momen saat kami sedang berada di kelas–fyi, aku sekelas dengan Dion pada semester kedua tahun pertama dan tahun ketiga penuh–Dion duduk di sampingku. Aku ingat saat itu pelajaran tambahan bahasa Inggris, guru yang mengajar adalah seorang pria berumur 20 tahunan yang keren dan menjadi idola dari murid-murid perempuan. Ketika suasana kelas sangat riuh dengan teriakan para monyet–maksudku murid-murid perempuan, Dion sedikit berbisik di telingaku. “Kamu tidak ikutan teriak-teriak?” 

Ekspresiku bak menunjukkan baru saja mendengar Dion bertingkah norak seperti jamet. Dion hanya cekikan. “Lagian, ngapain sih aku harus gitu?” tanyaku sebal.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Dion malah berkata, “Aku senang Yona tidak seperti cewek pada umumnya.”

Mendengar hal itu, entah kenapa telingaku terasa memanas. Aku hendak menyangkalnya, tetapi kemudian dia melanjutkan, “Eh, Yon, teknik kimia.”

Karena kuping saya yang agak budek, spontan aku bertanya, “Hah?”

Aku terbiasa menggunakan kata itu setiap saat hendak memahami sesuatu. Aku mengulanginya sampai tiga kali. Pada kali ketiga, aku memotong sendiri ucapanku yang sudah re-connect. “Oh, jurusan kuliah? Aku belum mikir, Dion.”

“Ya, makanya dipikirin.” 

“Kan itu masih lama, jadi–”

“Yakin masih lama? Bisa jadi kita ga akan ketemu lagi lho.”

Aku menciut mendengar hal itu. (Bisa jadi) kita ga akan bertemu lagi. Sehingga, tanpa sadar aku berteriak, “Kamu mau SMA mana sih?”

Seisi kelas pun menengok ke bangku kami berada. Dion menepuk jidatnya. Karena mendengar teriakanku kepada Dion, juga ekspresiku yang sedikit sedih, seisi kelas pun meneriaki kami dengan “cieee.”

Setelah itu aku langsung keluar dari kelas dengan membawa tasku dan membanting pintu kelas.

Aku benar-benar menghindari segala kontak dengan Dion selepas kejadian itu. Aku tahu dari teman-temanku bahwa Dion terus mencariku. Apalah aku, aku tak punya keberanian untuk menghadapinya secara langsung. 

Hingga suatu hari, Dion mengejarku yang melarikan diri darinya. Aku berlari ke parkiran sekolah, kemudian mengendap-ngendap pergi ke gerbang sekolah. Ketahuan, kejar-kejaran hebat pun terjadi sampai jalan raya. Aku menerobos tanpa mempedulikan saat itu masih lampu hijau. Aku berhasil melewati jalan raya dengan selamat. Saat aku hendak berbalik, dari jarak sejauh 100 meter sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang menuju kemari. Dion yang tengah berada di jalan raya tak dapat menghindari tubrukan hebat itu. 

Segera, suasana pun berubah menjadi berkabung. Dion dipapah beberapa orang laki-laki.  Aku menghampiri Dion yang sekarat. “Dion!” panggilku.

Dion membuka matanya pelan. “Yo..na?” Aku mengiyakan.

Dion tersenyum dengan bibir yang robek. Ia memanggilku. Aku mendengarkannya dengan air mata bercucuran yang tumpah di seragamnya.

“Aku senang bisa mengenalmu dalam hidupku.”

Setelah mengatakan itu, Dion pun jatuh pingsan. Dan aku pun menjerit dalam hati. Untuk terakhir kalinya, aku tidak ingin menyangkalnya. Aku tersenyum menilik dirinya yang telah membisu. 

“Aku juga senang bisa mengenalmu dalam hidupku.”

***

Senyumanku itu tulus. Air mataku juga tulus. Perkataanku itu sangat tulus. 

Aku tersenyum kegirangan mendengar semua hal itu.

 

Aku senang mendengar hal itu darimu,  karena itu berarti aku penting dalam hidupmu

Aku senang karena kamu mengakuiku sebagai temanmu.

Karena kamu temanku, aku senang apabila kamu mengutarakan perasaanmu itu padaku.

Karena kamu temanku, izinkan aku untuk melihatmu mengulangi kesekian kali episode ini.

 

Jadi, untuk apa aku mengubah alur episodic memory-ku yang terindah ini? Mungkin saja aku takkan bisa mendengarkan pernyataan tulus itu dari mulutnya langsung. Mungkin saja perlu waktu bertahun-tahun. Karena itu, biarlah seperti ini.

Aku tersenyum pada jam kayu antik di seberang jalan yang sedang diangkut oleh sebuah mobil pick up. Tik-tok, jarum jam itu kembali berdentang. Aku mengedipkan mataku. Salah satu episodic memory-ku telah selesai diputar ulang.

 

Penulis: Irsyad Izzuddin Arrauf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here