Persgema.com – Kerumunan demonstran memadati jalan depan Gedung Grahadi, Surabaya. Berteriak dengan sound system yang dimuat di atas mobil pick-up seraya bendera dari berbagai serikat berkibar di sisi-sisi mobil komando pada Kamis, 1 Mei 2024.
Pada hari itulah mengabadikan sebuah landscape mengenai betapa runyamnya sebuah sistem yang tidak berpihak pada para buruh. Berbagai golongan, mulai dari rakyat yang ingin membeli makan saja kebingungan, para buruh yang tidak sejahtera lantaran upah dan biaya hidup tidak seimbang, hingga para mahasiswa yang nantinya juga akan menjadi buruh. Merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh para buruh, mereka berbondong-bondong turun ke jalan untuk menyalurkan aspirasi dan keresahan pada sistem buruk yang telah bercokol –bahkan bisa dinilai telah mengakar— pada negara. Aksi demonstrasi tersebut dinamai dengan May Day. Hari buruh.
Dalam kerumunan yang berdesakan di bawah terik matahari, kami mendekati seorang pejuang hak. Ia bernama Yulius Magai, Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Kemudian kami menanyakan perihal apa yang sedang mereka perjuangkan.
Pentolan AMP, Yulius, menyebutkan jika kawan-kawan AMP berdiri dan tetap dalam barisan demonstran untuk memperjuangkan hak-hak dari kampung halamannya. Perjuangan itu memiliki sejarah yang panjang, sejak deklarasi Papua sebagai bangsa yang merdeka 1 Desember 1961 silam hingga pasca perang dunia kedua.
Ia bercerita tentang proses klaim paksa atau aneksasi atas tanah Papua yang bertepatan dengan May Day.
“Hari ini, tanggal 1 Mei, bertepatan dengan May Day, kami melaksanakan momentum hari Aneksasi Bangsa Papua. Dimana Indonesia memasukan Papua ke NKRI secara paksa. Sedangkan, dalam kacamata warga Indonesia hari ini ialah hari integrasi Papua,” ucapnya.
Yulius, menambahkan cerita perihal operasi militer yang ada di Papua. Secara historis, operasi militer di Papua dimulai sejak 1963 hingga hari ini. Dalam operasi militer tersebut, masyarakat Papua benar-benar tidak mendapatkan hak sebagai manusia.
“Setelah 1 Mei 1963, operasi militer digencarkan ke West Papua hingga hari ini. Itulah yang dilakukan oleh Indonesia atas West Papua. Hingga pelanggaran-pelanggaran HAM dan lain-lain,” kata Yulius.
Berbagai persoalan, rentetan peristiwa kelam, serta perampasan hak dan pelanggaran HAM memupuk rasa traumatik bagi kawan-kawan Papua. Pemuda sekaligus ketua AMP pun dengan tegas menyatakan jika, “Dari kejadian tersebut kami melihat bahwa akar persoalan ialah kami Ingin merdeka secara hak politik. Artinya orang Papua berhak menentukan nasib sendiri. Dilakukan secara mekanisme Internasional bisa menentukan hak nasib sendiri yaitu Papua Merdeka. Itulah tuntutan kami pada May Day kali ini,”
May Day menjadi muara bagi kawan-kawan AMP untuk saling melawan segala bentuk penindasan di muka bumi. Yulius memandang jika kawan-kawan buruh juga mengalami penindasan dari kapitalisme. Lantaran segala hal yang termaktub dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tidak benar-benar diimplementasikan.
“Tapi kita lihat bahwa buruh tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Ini juga yang dilakukan oleh sistem kapitalis-imperialis yang kemudian melakukan penindasan kepada Indonesia dan Papua,” kata Yulius.
Berbagai bentuk penindasan yang dirasakan oleh kawan-kawan Papua. Mulai dari aspek kesehatan bahkan pendidikan. Langkah konkret kawan-kawan Papua untuk meminimalisir buta huruf di Papua ialah melalui gerakan sekolah alternatif.
“Dari kawan-kawan yang selesai dari AMP, kemudian ke Papua membentuk sekolah alternatif Papua. Sekolah ini diinisiasi oleh kawan-kawan gerakan melakukan pendidikan gratis pada anak-anak usia 7 sampai 8 tahun di beberapa kota di Papua, salah satunya Jayapura,”
“Keadaan kesehatan di Papua ialah gizi buruk. Itu di Timika dampak dari eksploitasi sumber daya alam dan limbah-limbah yang tidak dikelola secara baik oleh pemerintah,” ucapnya.
Setelah berbincang-bincang dan diiringi lagu ‘Kebenaran Akan Terus Hidup’, Yulius menuturkan jika, “Perjuangan kami tidak hanya satu atau dua hari. Perjuangan kami akan terus berlipat ganda. Perjuangan kami adalah untuk melawan penindasan, kapitalisme dan imperialisme di Papua, Indonesia, bahkan Internasional.”
Seperti itulah sebuah pernyataan dari akhir perbincangan kami di tengah kerumunan dan gemuruh massa aksi yang tak tau berapa banyak deras keringat-keringat perjuangan yang terserap pada pakaian mereka. (Zky)


