Seribu Tahun Menanti: Elegi Keadilan di Negeri Viral
Keadilan!
Kau ada di mana?
Tersembunyi di balik tagar?
Atau menunggu di antara berjuta view?
Aku melihatmu tertatih-tatih
Di jalan-jalan sunyi negeri ini
Menanti untuk dipanggil
Oleh jari-jari netizen yang gelisah
Penegakan kau penuh gejolak
Berjalan lambat bak kura-kura
Viral! Trending!
Seakan kau baru hidup, keadilan
Aku tak bisa tidur, keadilan
Karena setiap malam aku mendengar
Rintihan mereka yang terlupa
Yang suaranya tak pernah mencapai timeline
Wahai negeriku!
Sampai kapan kita akan jadi budak sensasi?
Membiarkan keadilan menjadi badut jalanan
Yang harus menghibur untuk mendapat receh perhatian
Aku muak!
Muak dengan hukum yang pura-pura buta
Yang hanya melihat ketika kamera menyala
Yang hanya bergerak ketika hashtag membara
Kalau saja aku bisa, aku ingin mencabik-cabik langit
Meneriakkan pada semesta bahwa keadilan bukan barang dagangan viral!
Tapi aku hanya seonggok daging dan tulang yang hanya berteriak dalam sunyiÂ
Meratapi keadilan yang sekarat di tengah hiruk-pikuk dunia maya
Menanti selama seribu tahun untuk kau berdiri tegak, keadilan
Hari pertama, aku menunggu keadilan
Hari ke-100, aku masih menunggu keadilan
Hari ke-1000, aku lelah menunggu keadilan
Hari ke-1001, aku masih disini
Mungkin suatu hari nanti, entah kapan, entah bagaimana
Keadilan akan datang tanpa perlu viral
No viral, no justice bukan pilihan
Keadilan untuk semua menjadi kewajiban
Sampai saat itu tiba
Aku akan terus menulis
Aku akan terus menunggu
Aku akan terus berharap
Penulis: Rendy Maulana Yaqin





