SOLIDARITAS LINTAS ISU: AKSI DAMAI MAHASISWA PAPUA DI SURABAYA PERINGATI 62 TAHUN NEW YORK AGREEMENT

0
386

Persgema.com ‒ Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP), serta Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua menggelar aksi damai memperingati 62 tahun penandatanganan Perjanjian New York pada Jumat (16/8/2024) di depan Gedung Grahadi Surabaya. Perjanjian New York yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962 merupakan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda mengenai pengalihan kekuasaan di Papua yang dimediasi oleh Amerika Serikat tanpa melibatkan rakyat asli Papua. Dalam aksi memperingati New York Agreement itu, isu-isu yang diangkat antara lain, penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat, konflik agraria, perampasan tanah adat, kasus HAM, pembukaan ruang demokrasi, dan pengungsian 17 ribu warga sipil di tujuh kabupaten konflik bersenjata antara TPNPB dan TNI/Polri di Papua Barat. Tak hanya isu-isu di tanah Papua, massa aksi juga menyoroti konflik agraria yang juga terjadi di Jawa Timur, antara lain penggusuran warga di bendungan kali Jagir, Proyek Strategis Nasional di Kenjeran, petani Pakel, dan isu-isu turunan lainnya. Menurut Hengky, selaku Sekretaris Aliansi Mahasiswa Papua, sikap dan perjuangan mahasiswa Papua dalam momentum aksi merupakan suatu bentuk solidaritas terhadap siapapun yang merasakan penindasan, baik bagi rakyat Papua, Indonesia, dan Internasional. “Perjuangan mahasiswa Papua bukan musuh terhadap ras, suku, budaya, tetapi (yang menjadi) musuh orang Papua adalah sistem yang menindas siapapun di dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, seharusnya rakyat Indonesia, masyarakat sipil, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani, dan kaum nelayan bersolidaritas dengan bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua,” jelas Hengky. Menurutnya, nilai tertinggi adalah kemanusiaan. Oleh karena itu, Hengky berharap melalui aksi ini, rakyat Indonesia mendukung dan bersolidaritas untuk memberantas rasisme, serta menjunjung pilar-pilar demokrasi sebagai suatu bentuk upaya cinta terhadap sesama manusia, utamanya rakyat Papua Barat yang sedang memperjuangkan haknya untuk menentukan nasib sendiri. Sama seperti aksi-aksi sebelumnya, aksi kali ini berjalan damai, meskipun Hengky menyebutkan ada upaya provokasi dari beberapa oknum polisi, preman, dan ormas reaksioner. “Namun, kemudian yang menjadi kendala adalah media online/elektronik yang sulit datang ke titik aksi untuk meliput,” ujar Hengky.

Pewarta: Nadiva Ariandy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here