Adiksi Menonton Video Pendek di Media Sosial Terhadap Penurunan Tingkat Konsentrasi

0
281

Popularitas media sosial saat ini memang tidak perlu diragukan. Media sosial terus belomba-lomba untuk mengikuti perkembangan dunia digital dengan berbgaai macam fitur yang ditawarkan. Media Sosial sudah seperti makanan wajib bagi keseharian masyarakat kita. Ketergantungan terhadap media sosial begitu melekat, seperti “penyakit” yang ada dalam diri. Banyak yang sengaja membuang waktunya hanya untuk berselancar sepanjang hari di media sosial.

Tulisan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari pengalaman penulis dan lingkungan di sekitarnya, baik lingkup nyata maupun di media sosial. Video pendek juga sering disebut sebagai Short Term, salah satu bentuk media yang mampu menarik banyak peminatnya. Short Term dapat dijumpai di aplikasi TikTok, Instagram Reels, dan Youtube Short. Beragam aplikasi tersebut pasti sudah tidak asing di telinga, karena sebagian besar masyarakat menggunakan aplikasi tersebut dalam kesehariannya.

Tidak bisa dipungkiri, konten video pendek pada dasarnya ditujukan untuk pemenuhan kepentingan yang memudahkan penggunanya dalam memperoleh informasi di media sosial. Dalam pengaplikasiannya, konten video pendek di media sosial membawa dampak yang linear dengan tujuan pembuatannya. Dengan durasi 15-60 detik, pengguna bisa langsung memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cepat. Visualisasi konten yang eye-catching, serta isi konten fresh dan kreatif, mampu membuat penontonnya untuk betah berlama-lama.

Banyaknya media sosial yang memilih bentuk media Short Term dalam aplikasinya ternyata mampu membawa permasalahan yang cukup serius. Yang awalnya hanya untuk kepentingan penyampaian informasi supaya lebih cepat, kreatif, dan menarik, ternyata mampu membawa dampak yang lebih jauh dalam diri penggunanya jika dikonsumsi secara terus menerus. Adiksi terhadap konsumsi video pendek mampu membuat seseorang mengalami penurunan tingkat fokus dan lebih sulit untuk konsentrasi terhadap hal-hal yang berlawanan dengan short term.

Tentu, itu bukan hal yang diinginkan saat menikmati video pendek di media sosial. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sudah terpapar hal tersebut. Mohd Asif melakukan penelitian terhadap 200 mahasiswa, dalam jurnalnya yang berjudul “Examining the Influence of Short Videos on Attention Span and its Relationship with Academic Performance (2024)”, dikatakan bahwa video pendek yang sering dikonsumsi sehari-hari ternyata mengandung Cognitive Overload dan Instant Gratifications. Kedua hal tersebut bertentangan dengan kebutuhan belajar yang diperlukan dalam diri seseorang, yakni Cognitive Ease dan Delayed Gratifications. Dikatakan juga, konsumsi video pendek yang tinggi dapat berdampak buruk pada prestasi akademik karena berkurangnya rentang perhatian.

Cognitive overload merupakan kondisi dimana seseorang menerima terlalu banyak informasi sekaligus, hal tersebut menyebabkan kapasitas otak atau pikiran kewalahan untuk mengolah informasi tersebut yang mengakibatkan terganggunya proses pengambilan keputusan. Sedangkan, Instant gratification merupakan fenomena psikologi yang mengacu pada keinginan manusia untuk mendapatkan kepuasan secara segera tanpa harus menunggu. Kedua hal ini sangat berkaitan erat dengan banyaknya informasi yang disuguhkan di media sosial. Penyebabnya adalah meningkatnya jumlah informasi yang beredar saat ini.

Salah satu dampak yang sering dialami dari terlalu sering mengonsumsi video pendek adalah kurangnya fokus saat proses pembelajaran. Hal ini tentu bisa berdampak serius, terkhusus mahasiswa karena penyerapan proses penyampaian informasi akan lebih lama dicerna. Membaca buku yang awalnya biasa saja, tapi secara lambat laun merasa durasi yang diperlukan terlalu lama untuk menyelesaikan satu buku. Menonton film berdurasi 2 jam ataupun menonton video berdurasi lama di YouTube juga akan terasa sangat lama dan cepat bosan, sehingga memilih untuk menggunakan fitur speed (kecepatan) sehingga video berjalan lebih cepat dari durasi aslinya.

Jika terus berlanjut dalam fenomena ini, masyarakat secara tidak sadar akan tergerus oleh perkembangan media sosial yang justru merugikan mereka sendiri. Bermain media sosial tentu diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan untuk memperoleh informasi. Namun, tentu saja tetap dalam kadar yang sesuai. Pengguna media sosial juga harus mempunyai batas kesadaran, agar tidak mengalami hal yang justru balik merugikan diri sendiri.

Referensi:

https://www.researchgate.net/publication/380348721_Examining_the_Influence_of_Short_Video s_on_Attention_Span_and_its_Relationship_with_Academic_Performance

https://medium.com/pengajar-belajar/cognitive-overload-theory-268d0efca516

https://bppmpsikomedia.psikologi.ugm.ac.id/glopsyrium/instant-gratification-alasan-kenapa-k amu-susah-bahagia/

Penulis: Fitri Puspitaningrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here