Pilpres 2024 telah selesai, tetapi dinamika yang terjadi selama Pilpres 2024 adalah hal yang menarik untuk diteliti. Elegi pesta rakyat tahun ini merupakan hal yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat apalagi dengan berkembangnya teknologi dan media khususnya media sosial. Dalam dinamika politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, transformasi citra Prabowo Subianto sebagai seorang figur politik yang sebelumnya sering dikaitkan dengan kontroversi, otoriter, tegas, serta orang yang kaku, telah berhasil diubah persepsi publik melalui strategi media yang efektif dan kampanye yang terarah. Berdasarkan analisis data dari berbagai sumber media, terlihat jelas bagaimana pemberitaan positif dan aktivitas sosialnya berhasil menggeser citra keras dan kontroversial yang melekat padanya, menjadi sosok yang lebih humanis dan peduli pada masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji peran media dalam perubahan citra tersebut serta dampaknya terhadap elektabilitas Prabowo dalam Pilpres 2024.
Peran media dalam kancah politik Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Setiap gerakan, pernyataan, dan langkah politikus selalu diawasi, diliput, dan disebarkan oleh media, membentuk persepsi publik terhadap figur-figur tersebut. Salah satu contoh nyata adalah perubahan citra Prabowo Subianto menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dari seorang tokoh yang pernah dianggap kontroversial, Prabowo kini tampil dengan citra yang lebih positif, dan media memiliki andil besar dalam transformasi ini. Transformasi dari seorang yang kaku dengan tingkah lakunya berubah menjadi gemoy sehingga bisa menarik perhatian publik. Hal ini bisa kita lihat dari hasil quick count Prabowo-Gibran pada pemilihan presiden 2024. Tercatat dari beberapa lembaga survei, Prabowo-Gibran mendapatkan sekitar 57-59% suara. Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat bahwa pasangan ini memperoleh 57.45%, sementara Poltracking Indonesia mencatat perolehan 58.87%, dan Indikator Politik Indonesia menunjukkan angka 58.03%. Perolehan suara ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan Pilpres 2019, dimana Prabowo Subianto, yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno, hanya memperoleh sekitar 44.5% suara. Apalagi perlu diingat jika pemilihan presiden 2024 terdapat 3 kandidat yang maju sebagai calon presiden, tentu saja hal ini lebih banyak dibandingkan dengan pemilihan presiden 2019 yang hanya terdapat 2 kandidat.
Prabowo Subianto, sebagai mantan Danjen Kopassus dan Ketua Umum Partai Gerindra, telah menjadi sosok sentral dalam politik Indonesia selama beberapa dekade. Pada masa-masa awal karir politiknya, ia sering dikaitkan dengan berbagai kontroversi, termasuk isu pelanggaran HAM dan keterlibatannya dalam peristiwa Mei 1998. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, citra Prabowo telah mengalami perubahan signifikan. Prabowo yang dahulu dikenal garang dan keras kini tampil lebih lembut dan terbuka. Ia sering terlihat berbicara tentang perdamaian, persatuan, dan kesejahteraan rakyat. Media memainkan peran krusial dalam mempublikasikan sisi baru Prabowo ini, melalui liputan berita, wawancara eksklusif, dan program talkshow.
STRATEGI DAN PENGARUHNYA
Dalam kontestasi politik yang semakin dinamis dan kompleks, strategi kampanye menjadi penentu utama dalam meraih dukungan masyarakat. Memasuki Pilpres 2024, pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menghadirkan pendekatan kampanye yang inovatif dan adaptif, dengan memadukan pengalaman dan otoritas Prabowo sebagai figur militer dan politikus senior, serta energi dan keterhubungan generasi muda yang dimiliki Gibran. Melalui strategi ini, mereka tidak hanya menargetkan pemilih tradisional, tetapi juga berusaha menarik simpati generasi milenial dan Gen Z yang semakin berpengaruh dalam peta politik Indonesia.
Kampanye Prabowo-Gibran difokuskan pada isu-isu yang relevan dengan kebutuhan masyarakat luas, seperti penguatan ekonomi nasional, pembangunan infrastruktur yang merata, serta inovasi dalam pendidikan dan teknologi. Selain itu, pasangan ini juga memanfaatkan kekuatan media sosial dan teknologi digital untuk menjangkau pemilih muda, menjadikan mereka bagian integral dari perubahan yang ingin diwujudkan. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat citra mereka sebagai pasangan yang dinamis dan visioner, tetapi juga mengukuhkan posisi mereka sebagai pemimpin yang siap membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.
Penerapan target kampanye Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024 didasarkan pada strategi yang berfokus pada beberapa elemen kunci yang dirancang untuk memperkuat dukungan dari berbagai segmen pemilih. Berikut adalah beberapa penerapan target utama dalam kampanye mereka:
1. Segmentasi Pemilih Berdasarkan Usia
- Generasi Milenial dan Gen Z: Kampanye Prabowo-Gibran menargetkan pemilih muda dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital. Gibran, yang merupakan bagian dari generasi muda, memainkan peran penting dalam mendekati kelompok pemilih ini dengan pesan-pesan yang relevan dengan aspirasi mereka, seperti inovasi teknologi, kewirausahaan, dan pendidikan.
- Pemilih Tradisional: Prabowo terus menjaga basis pemilih tradisional yang selama ini mendukungnya, terutama di wilayah pedesaan dan kantong-kantong nasionalis. Melalui kampanye langsung dan program-program yang menekankan pada pembangunan infrastruktur dan kedaulatan pangan, pasangan ini berupaya mempertahankan dukungan dari kelompok ini.
2. Fokus Isu-Isu Ekonomi dan Kesejahteraan
- Ekonomi dan Lapangan Kerja: Salah satu fokus utama kampanye adalah penguatan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja. Prabowo-Gibran berjanji untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur yang merata dan mempercepat industrialisasi untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Mereka juga menargetkan pemilih yang terdampak oleh isu-isu ekonomi dengan janji-janji yang konkret mengenai stabilitas harga dan ketersediaan lapangan kerja.
- Kesejahteraan Sosial: Isu kesejahteraan sosial, termasuk akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan, menjadi prioritas dalam kampanye mereka. Program-program yang ditawarkan mencakup perluasan akses layanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan, yang diharapkan dapat menarik pemilih dari berbagai latar belakang ekonomi.
3. Pendekatan Nasionalisme dan Persatuan
- Pesan Persatuan: Kampanye Prabowo-Gibran juga menekankan pentingnya persatuan dan stabilitas nasional di tengah perbedaan yang ada. Mereka mengusung pesan nasionalisme yang inklusif, yang berusaha merangkul semua elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan etnis, agama, atau golongan.
- Keamanan dan Pertahanan: Sebagai mantan jenderal, Prabowo membawa isu keamanan nasional dan pertahanan sebagai salah satu poin penting dalam kampanyenya, yang diharapkan dapat menarik pemilih yang peduli pada stabilitas dan kedaulatan negara.
4. Kampanye Door-to-Door dan Tatap Muka
- Pendekatan Langsung: Meski memanfaatkan media sosial dan teknologi, Prabowo-Gibran tetap mengedepankan kampanye tatap muka dan door-to-door untuk memastikan bahwa pesan kampanye mereka sampai langsung ke pemilih. Ini dilakukan melalui kunjungan ke daerah-daerah dan dialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan keluhan dan aspirasi mereka secara langsung.
5. Koalisi dan Dukungan Politik
- Koalisi Partai Politik: Untuk memperkuat posisi mereka, Prabowo-Gibran bekerja sama dengan berbagai partai politik besar, yang membantu memperluas jangkauan dan basis dukungan mereka di seluruh Indonesia. Koalisi yang kuat ini memungkinkan mereka untuk menggalang dukungan dari berbagai elemen politik dan masyarakat.
Penerapan strategi ini menunjukkan upaya yang sistematis dan terstruktur untuk memenangkan pemilih dari berbagai kalangan, dengan pendekatan yang disesuaikan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing kelompok pemilih.
KESIMPULAN
Peran media dalam mengubah citra Prabowo Subianto menjelang Pilpres 2024 sangat signifikan. Melalui liputan positif, wawancara, program talkshow, dan media sosial, media berhasil membentuk persepsi publik yang lebih positif terhadap Prabowo. Namun, publik tetap harus kritis dan tidak hanya terpengaruh oleh citra yang ditampilkan, tetapi juga melihat rekam jejak dan substansi kebijakan yang ditawarkan. Pada akhirnya, peran media adalah memberikan informasi yang berimbang agar masyarakat dapat membuat keputusan yang tepat dalam memilih pemimpin mereka.
Penulis: Savira Fikolbi





