Cerpen “Penolakan Seorang Arjuna” Karya Priyo Jatmiko

0
280

Sepi, lorong besar itu lenggang, tak seorangpun di sana. Sementara Juna berdiri di ujung lorong, ia melihat jam tangannya, pukul enam lebih tiga puluh masih terlalu pagi untuk datang ke sini. Ia memilih duduk sembari menunggu waktu. Ia duduk tepat di depan ruangan yang menjadi tujuannya datang kemari, ruangan dengan pintu berwarna coklat di ujung ruangan. Ia sudah beberapa kali datang kesini, tentunya tak sendirian.

Seorang perawat nampak keluar dari salah satu ruangan, mendorong troli berisi puluhan perlengkapan. Juna nampak mengenali perawat tersebut. Ia yang selalu berdiri di pojok ruangan saat ia berkonsultasi dengan dokter, dimana ia selalu menyimpan tangannya di dalam saku jas miliknya. Perawat tersebut lewat di depan Juna. Hanya lewat, tidak menyapa maupun sekedar tersenyum, Juna menoleh.

“Perawat itu tidak ramah,” ucapnya.

“Hanya perasaanmu saja, mungkin ia hanya lelah. Ia sudah bekerja sepagi ini,” jawab Nala.

“Entahlah,” ujarnya.

Juna kembali melihat jam, pukul tujuh kurang sepuluh, nampaknya sebentar lagi dokter Arya akan segera tiba. Juna kembali memandang ke sekeliling ruangan. Tanpa sadar bahwa di sampingnya, hanya berjarak beberapa bangku duduk beberapa orang disana, seorang gadis muda dengan tatapan kosong, serta sepasang pria dan wanita, mungkin orang tuanya. Juna nampak kebingungan. Ia tidak merasa seseorang lewat di depannya, tapi ia tak mau ambil pusing.

Dari seberang lorong, masuk seorang pria. Pria tersebut menggunakan kemeja putih dan celana panjang berwarna abu-abu sembari membawa tas di tangan kanan nya. Itu dokter Arya, pria paruh baya dengan penampilan rapi tersebut adalah alasan Juna datang kemari. Begitu melihat juna, pria tersebut nampak tersenyum ramah, kemudian berjalan menghampiri Juna.

“Selamat pagi Pak Arjuna. Bagaimana kabarnya? Anda selalu saja datang lebih awal,” ucapnya ramah.

“Baik, dokter. Bukan masalah yang besar, istri saya selalu memaksa agar saya datang lebih pagi. Tidak baik membuat dokter menunggu katanya,” balas Juna sembari merangkulkan tangannya ke samping, membuat dokter Arya tersenyum melihatnya.

“Karena bapak sudah ada disini, kenapa kita tidak mulai sesi konsultasinya?” ujar dokter Arya.

“Ah, tentu saja dok. Ayo, Nala,” balas Juna.

“Maaf bapak, tapi kali ini nampaknya bapak dan saya akan berbicara empat mata. Saya harap bapak bisa memakluminya,” ucap dokter Arya yang membuat Juna kebingungan. Tak biasanya dokter Arya meminta berbicara empat mata. Ia memandang ke samping.

“Tak apa-apa, semua akan baik baik saja. Aku akan menunggu di sini. Dengarkan perkataan dokter dengan baik, okey?” ucap Nala.

“Berjanjilah untuk menungguku disini, berjanjilah,” ucap Juna. Tubuhnya nampak sedikit gemetar.

“Ayolah, sayang. Ini hanya sesi konsultasi singkat, tidak akan terjadi apa apa,” jawab Nala.

“Tidak, berjanjilah, berjanjilah. Berjanjilah untuk menungguku,”

“Baiklah, aku berjanji. Semua akan baik-baik saja, Juna. Jangan buat dokter menunggu,” balas Nala. 

Melihat hal itu, dokter Arya memandang ke arah perawat wanita di sebelahnya, mengelengkan kepalanya perlahan dengan senyum aneh di wajahnya. Sementara perawat tersebut hanya menganguk pelan dan berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan.

“Mari bapak, sesi konsultasi akan segera dimulai. Tenang saja, ini tak akan lama,” ucap dokter Arya mengingatkan.

Seolah berat untuk melangkah Juna menatap sekeliling ruangan. Beberapa perawat nampak sudah hilir mudik dan dua orang yang mengantar gadis dengan tatapan kosong tadi nampak sedang berbisik satu sama lain. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas. Juna menghela nafas sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ruangan itu masih sama seperti sebelumnya, persis seperti apa yang terakhir kali ia ingat. Ruangan lima kali tiga, berwarna putih gading, dengan karpet coklat yang menutupi dua pertiga lantai. Sofa biru tua dengan dua buah bantal tempat biasa ia duduk juga masih berada di tempat yang sama. Sementara kursi coklat muda tempat dokter Arya duduk juga masih disana, bersebelahan dengan meja bundar kecil berwarna hitam dengan empat kaki kakinya. Sementara itu, di pojok ruangan, di atas kursi kecil berwarna coklat, perawat wanita itu duduk membelakangi jendela besar tanpa tirai. Masih dengan tangannya yang berada dalam saku jasnya.

Ruangan ini cukup sepi untuk ukuran ruangan seorang dokter. Tak ada jam maupun buku, hanya beberapa perabotan, seperti lampu dan pot bunga kecil di atas meja di depan jendela, serta pendingin ruangan yang membuat seisi ruangan terasa dingin bahkan ketika terdapat jendela sebesar itu.

Dokter Arya duduk di kursinya. Ia mempersilahkan Juna duduk di sofa biru tua. Mereka sempat berbasa basi beberapa saat. Dokter Arya menawarkan minuman tapi ditolak oleh Juna. Juna nampaknya tidak ingin berada terlalu lama disini. Kaki nya bergetar ringan, sementara matanya bergerak cepat memandang ke seisi ruangan.

“Apa ada yang salah? Nampaknya anda cukup tidak nyaman,” tanya dokter Arya ketika melihat tingkah Juna yang nampak aneh.

“Tidak, tidak ada masalah. Bisakah kita langsung mulai sesi konsultasinya, dok?” jawab Juna.

“Tentu saja,” balas dokter Arya dengan ramah.

“Bagaimana kabar bapak selama satu minggu ini? Apa ada perubahan yang bapak rasakan?” lanjut dokter Arya.

“Tidak, masih sama seperti sebelumnya. Saya masih mengalami kesulitan tidur dan terkadang saya tidak fokus dengan lingkungan sekitar saya, seperti waktu berjalan dengan cepat,” jawab Juna.

Dokter Arya kembali menatap Juna untuk kesekian kalinya. Ia menuliskan beberapa hal ke dalam buku kecilnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara di pojok sana, perawat wanita tersebut hanya diam menatap mereka berdua dengan seksama.

“Bagaimana dengan obat yang saya berikan?” tanya dokter Arya. 

“Saya tetap meminumnya seperti yang anda sarankan dan tidak ada perubahan yang saya rasakan,” jawab Juna.

Seolah tidak terkejut mendengar hal tersebut, dokter Arya hanya mengangguk kembali kemudian menuliskan beberapa hal ke dalam buku kecilnya. Entah apa yang ia tuliskan.

“Jadi, bagaimana, dok? Apakah ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit saya?” tanya Juna.

“Tentu saja ada. Bapak akan secepatnya sembuh,” ucap dokter Arya tersenyum hangat.

“Syukurlah, saya sudah benar-benar lelah dengan semua ini, dok. Tiap malam, saya selalu gelisah dan merasa bahwa seolah-olah ada yang aneh dalam hidup saya dan terkadang saat saya terbangun dari tidur, saya selalu merasa pusing dan kebingungan. Bahkan, disatu waktu, saya merasa bahwa saya tidak ingat apa yang saya lakukan seharian,” ujar Juna. Mendengar itu, dokter Arya kembali menuliskan sesuatu. 

“Lalu, bagaimana dengan buku diary yang saya sarankan?“ tanya dokter Arya.

“Saya sudah menuliskan kegiatan sehari-hari saya seperti yang dokter sarankan,” jawab Juna.

“Kalau begitu, bolehkah saya melihatnya? Apakah bapak keberatan?” 

“Ah, tentu saja. Tidak masalah sama sekali,” jawab Juna sembari menyodorkan sebuah buku diary kecil yang ia simpan di saku jasnya.

Dokter Arya membaca buku diary yang ditulis oleh Juna. Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk membaca seluruh isi buku tersebut. Nampak ia tersenyum getir tiap kali membalik halaman buku tersebut.

“Nampaknya kegiatan anda sehari-hari lebih sering dihabiskan di dalam rumah,” ujar dokter Arya

“Saya memang lebih senang menghabiskan hari-hari saya di dalam rumah bersama istri saya, dok. Itu lebih menyenangkan bagi saya pribadi,” jawab Juna. Ia tersenyum bahagia saat mengatakan hal tersebut, seolah-olah ia bangga.

Mendengar jawaban itu, dokter Arya menutup buku diary Juna dan mengembalikannya. Ia juga memasukkan buku kecil miliknya ke dalam saku jasnya. Ia menatap ke arah jendela cukup lama, lalu berpaling ke arah perawat wanita di pojok ruangan. Ia menggelengkan kepala seolah mencoba memberitahu sesuatu.

“Jadi, bagaimana, dok? Kapan saya bisa memulai pengobatannya?” ucap Juna.

“Secepatnya, bapak. Dengan metode pengobatan yang baru, saya yakin bapak akan segera sembuh,” jawab dokter Arya sembari tersenyum hangat.

“Tapi, proses pengobatan akan dilakukan oleh dokter yang lebih ahli daripada saya. Bisa dikatakan ini adalah sesi pertemuan terakhir kita, Pak Arjuna. Setelah ini, anda akan berkonsultasi dengan dokter yang lebih baik,” lanjut dokter Arya, masih dengan senyum hangatnya. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Dokter Arya tak kuasa menatap Juna lebih lama. Ia menundukkan kepalanya, melihat sepatu kulit hitamnya.

“Benarkah? Tapi, kenapa bukan anda, dok? Apakah penyakit saya separah itu?” tanya Juna khawatir. Mendengar itu, dokter Arya kembali tersenyum, senyum yang aneh.

“Tidak, semua baik baik saja. Hanya saja kita harus menyerahkan sesuatu ke ahlinya, bukan?” balas dokter Arya. 

Dokter Arya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tas yang ia letakkan di meja depan jendela. Ia nampak mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah kertas kecil berwarna putih. Ia menyerahkan kertas itu kepada Juna yang sontak membuatnya kebingungan begitu membacanya.

“Dokter Rizal? Psikolog? Apa maksudnya ini, dok?” tanya Juna kebingungan.

“Beliau adalah dokter yang akan menangani anda kedepannya. Alamat dan nomor yang bisa dihubungi sudah tertera di belakang kartu nama tersebut. Anda cukup menelpon dan memperkenalkan diri, saya sudah memberitahu dokter Rizal tentang anda. Jadi, mulai besok anda bisa berkonsultasi dengan dokter Rizal. Ia teman baik saya selama di universitas dan juga seorang dokter yang hebat,” jawab dokter Arya.

“Tapi, kenapa harus psikolog? Saya tidak merasa mengalami gangguan jiwa. Saya hanya kesulitan untuk tidur,” Juna kembali bertanya.

“Tidak selamanya seorang psikolog menangani seorang pasien dengan gangguan jiwa, bapak. Dokter Rizal adalah dokter spesialis dalam menangani kasus seperti bapak. Jadi, semuanya akan baik-baik saja,” ujar dokter Arya

Nampaknya Juna masih belum bisa menerima fakta tersebut. Raut wajahnya masih menimbulkan kebingungan. Tapi, ia lebih memilih untuk melakukan apa yang dokter Arya sarankan. Akhirnya, ia beranjak dari sofa biru tua tersebut, berjabat tangan dengan dokter Arya dan melangkah ke arah pintu keluar. Tak lupa, dokter Arya memberitahu agar Juna meminum obat yang telah ia berikan.

Juna meninggalkan ruangan lima kali tiga tersebut. Begitu berada di luar ruangan, ia melihat ke sekelilingnya seolah mencari sesuatu. Ia mulai nampak sedikit panik hingga akhirnya sesuatu mengagetkannya.

“Apa semua baik-baik saja?” ucap Nala.

Aish, kau membuatku kaget,” balas Juna.

“Hehe, maaf. Aku barusan pergi membasuh wajahku. Jadi, bagaimana dengan konsultasinya?” tanya Nala.

“Dokter Arya bilang bahwa aku akan berkonsultasi dengan dokter lain yang lebih ahli,” ucap Juna sembari mengeluarkan kartu nama yang diberikan dokter Arya.

“Baguslah, dokter Arya pasti tahu yang terbaik. Jadi, tidak perlu khawatir,” ucap Nala.

“Terserahlah. Ngomong-ngomong, kenapa kita tidak makan? Kita belum sarapan sejak tadi pagi, mungkin nasi rawon?” tanya Juna.

“Boleh, ide yang bagus. Aku juga sudah lapar,” balas Nala.

Akhirnya Juna berjalan meninggalkan lorong yang dulu lenggang, kini sudah ramai. Beberapa orang nampak saling berbisik satu sama lain. Sementara para perawat berlalu lalang tanpa memperdulikan sekitar dan di ujung lorong, nampak gadis dengan pandangan kosong tadi kini berdiri di depan ruangan dokter Arya.

Sementara itu, di ruangan lima kali tiga, dokter Arya nampak murung. Ia menghela nafas panjang.

“Bagaimana, dok?” tanya perawat yang selama ini diam di pojok ruangan.

“Pemuda yang malang,” jawab dokter Arya dengan nada sedih.

“Apakah anda benar-benar menyarankannya untuk pergi menemui dokter Rizal, dok?” tanya perawat tersebut. Ia mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi sebuah cairan dari kantong nya, benda yang selama ini ia pegang di dalam kantongnya

“Aku kenal pemuda itu. Dia adalah putra salah satu sahabatku di universitas. Ia memiliki nasib yang malang, dibuang oleh keluarganya dan istrinya meninggal saat mereka baru saja menikah. Tak cukup disitu, ia mencoba bunuh diri dan berakhir koma. Saat ia terbangun…” dokter Arya berhenti, suaranya tercekat.

“Aku tak ingin menjadi orang yang memberitahunya. Aku tidak cukup berani,” jawab dokter Arya. Raut wajahnya berubah total, matanya mulai sembab. Ia menunduk, memegang diary yang telah ditulis Juna sebelumnya. Air mata menetes, membasahi buku diary bersampul hijau muda bermotif bunga. 

“Ya Tuhan, berikanlah pemuda itu sedikit ketabahan hati untuk setidaknya dapat menerima takdir yang Engkau berikan,” 

***

Namanya Arjuna, seorang pemuda tampan. Seperti namanya yang lahir di kota yang konon diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Namun takdir seorang Arjuna nampaknya tidak ditulis saat Tuhan sedang tersenyum.

Arjuna menolak untuk melupakan. Sebagaimana cintanya tak pernah merelakan, seorang Arjuna menolak menerima takdir, menolak menerima garis yang sudah ditetapkan Tuhan.

Sebagaimana takdir dan cinta, namanya Arjuna, dan Arjuna selalu menolak untuk melupakan cintanya.

 

Penulis: Priyo Jatmiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here