Persgema.com – Ribuan mahasiswa memadati lapangan rektorat Universitas Negeri Surabaya pada Sabtu (8/2/2025) dalam Festival Mobilitas Akademik untuk melakukan upacara pelepasan mahasiswa mobilitas akademik sekaligus pemecahan rekor MURI sebagai perguruan tinggi negeri dengan karya inovatif mahasiswa mobilitas akademik terbanyak. Namun, di balik pencapaian prestisius tersebut, terdapat fakta lain di mana banyak mahasiswa yang terlibat dalam Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) justru menghadapi serangkaian hambatan administratif dan teknis yang mengindikasikan kurangnya kesiapan kampus dalam menjalankan program ini secara efektif.
Pendaftaran PLP dilakukan melalui Sistem Informasi Mobilitas Akademik dan Pengelolaan Praktek Lapangan (SIM ELLA) pada 30 Januari – 6 Februari 2025. Proses ini dilakukan secara war dan diikuti lebih dari 4000 peserta yang merupakan mahasiswa S1 Program Studi Kependidikan. Hal ini menjadikan ribuan mahasiswa tersebut harus bersaing dalam hitungan detik demi mendapatkan kuota di sekolah mitra yang terbatas, yakni hanya 3-5 orang per sekolah.
Dalam proses ini, pihak kampus terlihat kurang memperhatikan jumlah peserta PLP dengan kuota yang disediakan sehingga memicu kebingungan antara mahasiswa dengan dosen pembimbing lapangan (DPL). Hal ini disampaikan oleh Nana (nama samaran), salah satu mahasiswa prodi Geografi, “Di Geografi ini cuma ada 21 sekolah mitra di antara 3 kota yang jumlahnya sekitar 105 sekolah mitra, sedangkan mahasiswa geografi itu ada sekitar 118. Jadi, kurang dong kuota di sekolahnya karena satu sekolah mitra itu menyediakan 5 kuota,” ungkapnya.
Menyikapi hal tersebut, Rusly selaku penanggung jawab PLP menyampaikan melalui Nana bahwa kuota sekolah mitra akan ditambah. Namun, hal ini membuat beberapa mahasiswa yang belum sempat mendaftar kehilangan kesempatan untuk memilih secara mandiri.
Dalam Sosialisasi Asistensi Mengajar dan PLP pada 21 Januari 2025, Rusly, Penanggung Jawab PLP, mengumumkan bahwa pendaftaran akan dibuka pada 30 Januari pukul 07.00 WIB. Namun, terjadi perbedaan realitas di lapangan, di mana situs pendaftaran mengalami gangguan teknis dan harus diundur sebanyak tiga kali. Bahkan setelah beberapa kali penjadwalan ulang, sistem masih tidak bisa diakses, hingga akhirnya pendaftaran dipindahkan ke hari berikutnya, yaitu 31 Januari 2025. Hal tersebut menjadikan banyak mahasiswa merasa kecewa atas ketidakpastian yang terjadi.
Imel, salah satu peserta PLP, menuturkan kekecewaannya atas ketidakefektifan alur pendaftaran sehingga dianggap membuang-buang waktu.
“War PLP yang harusnya di jam 7 pagi diundur sampai besoknya, itu bener-bener buang waktu sih, kenapa gak langsung dikasih pemberitahuan kalo diundur besoknya? soalnya kan kita juga gak nganggur ya, jadinya banyak kerjaanku yang aku anggurin karena nunggu war PLP,” ujarnya.
Sistem informasi yang diharapkan dapat mendukung kelancaran program justru berpotensi menghambat jalannya program. Kejadian ini dinilai sebagai indikasi buruknya infrastruktur digital yang dimiliki kampus, serta ketidaksiapan panitia dalam mengantisipasi kendala teknis yang sangat mungkin terjadi dalam sistem berbasis daring.
Selain hambatan pada proses pendaftaran, koordinasi antara kampus dan sekolah mitra juga menjadi sorotan. Di mana pihak universitas dinilai oleh mahasiswa belum cukup baik dalam melakukan koordinasi dengan sekolah mitra karena adanya ketidakpastian dan ketidakakuratan informasi yang diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat.
Salah seorang guru di salah satu sekolah mitra PLP Unesa, mengungkapkan bahwa informasi yang diberikan oleh pihak kampus sangat mendadak dan tidak konsisten. “Informasi awal, mahasiswa PLP Unesa akan turun lapangan di tanggal 10 sehingga di tanggal itu akan ada pembukaan PLP di sekolah kami. Namun, sampai tanggal 8 Februari 2025, belum ada surat turun dari Unesa. Dan pada saat minggu malam, pihak Unesa memberikan info jika pembukaan akan di undur tanggal 11 dikarenakan pembina PLP ada keperluan,” terangnya.
Tidak hanya itu, mahasiswa yang telah datang ke sekolah mitra juga harus dihadapkan masalah akibat dari kelalaian kampus.
Devan (nama samaran), salah satu peserta PLP Unesa, mengungkapkan bahwa ia sempat mengalami kendala ketika mengunjungi sekolah mitra pada tanggal 10 Februari 2025. Hal ini dikarenakan sekolah mitra menyatakan bahwa belum adanya surat atau pemberitahuan yang diterima oleh pihak sekolah terkait PLP Unesa.
Pelaksanaan PLP membutuhkan pengantar melalui surat keterangan yang dibuat oleh pihak universitas yang diberikan kepada Cabang Dinas Pendidikan setempat untuk disampaikan kepada pihak kepala sekolah mitra PLP. Namun, pihak kampus mengaku belum membuat surat tersebut untuk disampaikan kepada sekolah mitra.
“Kemarin DPL bilang mohon maaf atas kesalahan pihak kampus karena belum koordinasi dengan kepsek dan menyampaikan permasalahan tersebut kepada pihak sekolah sekaligus mempertahankan apakah bersedia menerima mahasiswa PLP di sekolah tersebut. Alhamdulillah, DPL sudah menyelesaikan menyelesaikan masalahnya dan saya bisa tetap diterima di sekolah tersebut. Namun, untuk surat-menyuratnya menyusul,” ungkap Devan.
Menyikapi berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pendaftaran PLP, pihak universitas diharapkan dapat lebih memperhatikan dan melakukan perbaikan melalui evaluasi dari pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya sehingga bisa lebih maksimal. Hal ini termasuk dalam peningkatan kualitas website untuk menghindari terjadinya error dan peningkatan koordinasi antara dosen pembimbing lapangan (DPL), universitas, mahasiswa, dan mitra dalam upaya meningkatkan kelancaran program.
“Kalau misalkan tidak bisa memperbaiki web, setidaknya di jadwal warnya, yaitu menjadi antar fakultas. Kita juga nggak perlu khawatir untuk tidak mendapatkan sekolah karena warnya tiap prodi, bukan tiap fakultas. Jadi, kalau misalkan di jadwal hari per hari itu beda fakultas, itu juga akan mengurangi resiko website yang down,” ujar salah satu mahasiswa PLP yang turut memberikan saran. (alya, jtmko)





