Hari Kartini: Sebuah Perayaan Tanpa Esensi Nyata

0
210

Setiap tanggal 21 April, bangsa ini bersolek atas nama Kartini. Di sekolah-sekolah, anak-anak perempuan dipakaikan kebaya, sanggul, dan selendang, lalu dipamerkan dalam lomba-lomba yang disebut sebagai “peringatan Hari Kartini.” Di kantor-kantor, para ASN mengenakan busana adat, berfoto bersama, lalu pulang.

Sementara itu di kampus, tempat para pemikir dan kaum terpelajar berkumpul. Himpunan mahasiswa berlomba-lomba menggelar acara bertema perempuan. Ada lomba busana daerah, seminar bertema “Perempuan Inspiratif”, atau sekadar mengunggah poster Kartini dengan caption penuh harapan soal emansipasi. Tapi setelah hari itu lewat, adakah yang benar-benar berubah? Apakah kita, sebagai mahasiswa, benar-benar merayakan Hari Kartini?

Hari Kartini hari ini telah kehilangan esensinya. Ia menjelma menjadi rutinitas kosong, sekadar seremoni tahunan. Hari Kartini kini hanya menjadi simbol, sementara substansi utamanya dilupakan. Perjuangan Kartini dikecilkan menjadi kebaya, caption media sosial, dan foto-foto estetik. Padahal Kartini yang sejati jauh dari estetika. Ia bukan simbol keanggunan atau kecantikan, ia adalah simbol kegelisahan, pemberontakan, dan keberanian berpikir.

Karena kalau Hari Kartini hanya dirayakan dengan kebaya dan unggahan media sosial, masih pantaskah ia disebut sebagai Hari Perempuan?
Dan ironisnya, mahasiswa yang katanya agen perubahan, kini justru menjadi pihak yang paling sering terjebak dalam romantisme tanpa aksi tersebut. Tiap 21 April, kita bicara soal emansipasi, tapi tetap diam saat ada kekerasan seksual di kampus. Kita menyebut Kartini inspiratif, tapi menertawakan perempuan yang vokal. Kita merayakan perempuan berprestasi, tapi tetap menganggap “wanita pintar itu menyebalkan.”
Emansipasi bukan soal hari peringatan. Bukan pula soal seminar sehari atau lomba konten Instagram. Emansipasi adalah kerja panjang membongkar budaya patriarki, menuntut ruang aman, dan memperjuangkan keadilan.
Dan tugas kita sebagai mahasiswa bukan sekadar ikut lomba. Tugas kita adalah menghidupkan kembali semangat kritis Kartini dalam pikiran dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kampus.
Kartini tidak butuh perayaan. Ia butuh dilanjutkan dalam pemikiran, dalam tindakan, dan dalam keberanian kita sebagai mahasiswa.

Penulis : Priyo Jatmiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here