Persgema.com, Surabaya – Sistem Informasi Akademik Terpadu (Siakadu) milik Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang terintegrasi dalam portal SSO UNESA, diretas dan sempat menampilkan pamflet promosi judi online (judol) di halaman akses mahasiswa pada Jumat (25/4/2025). Insiden ini memicu pertanyaan di kalangan mahasiswa mengenai keamanan data digital kampus.
Kejadian ini tidak hanya membuat mahasiswa kesulitan dalam mengakses layanan akademik, namun juga diikuti oleh laporan dari mahasiswa di berbagai jurusan mengenai panggilan dan pesan mencurigakan dari nomor tidak dikenal, utamanya dengan awalan 0888.

“Saya pikir awalnya hanya gangguan biasa, tapi kemudian dapat telepon dari nomor 0888. Lalu teman-teman saya juga cerita hal yang sama, saya nggak angkat karena takut, tapi banyak yang bilang itu penipuan.” ujar mahasiswa berinisial P.
Sementara itu, kesaksian lain datang dari salah satu mahasiswi yang mengaku mengangkat telpon dari nomor tersebut.
“Kemarin aku sempat angkat telepon dari nomor itu, dan si penelepon ini ngakunya seorang polisi. Katanya aku diduga terlibat pencucian uang dan akan ditahan untuk penyelidikan. Dia nyuruh aku transfer uang lewat ATM, sambil nyebutin NIK dan alamatku. Karena panik, aku hampir percaya, tapi akhirnya aku matikan teleponnya. Setelah tanya ke teman-teman, ternyata mereka juga dapat telepon serupa.” ujar mahasiswi dari fakultas FMIPA tersebut.
Hal ini mengundang pertanyaan tentang bagaimana kejadian dapat terjadi secara serempak dan terkesan sistematis. Tim Pers Gema Unesa telah melakukan investigasi singkat terhadap beberapa mahasiswa yang menjadi korban dari nomor 0888 melalui wawancara guna menggali informasi lebih lanjut mengenai asal mula insiden.
Berdasarkan wawancara dengan sejumlah korban, mereka mengaku nomor yang ditelepon adalah nomor yang mereka daftarkan ke database mahasiswa. Insiden ini terjadi beberapa hari setelah laman Siakadu diretas, memperkuat dugaan bahwa dua peristiwa tersebut saling berkaitan.

Selaras dengan hal tersebut, insiden penipuan diduga dapat terjadi akibat kebocoran data setelah diretasnya Sistem Informasi Akademik Terpadu (Siakadu) UNESA. Penelponan massal yang menyasar nomor mahasiswa yang sebelumnya terdaftar dalam database kampus, memunculkan kekhawatiran atas kemungkinan penyalahgunaan data pribadi.
Selain itu, modus penipuan juga dilakukan dengan pola yang sama secara massal, yakni mengatasnamakan pihak kepolisian dan menyebutkan data pribadi korban untuk dapat meraih kepercayaan dan menjebak korban. Dengan adanya pola pendekatan yang serupa tersebut, beberapa pihak menduga bahwa aksi penipuan ini dilakukan secara terstruktur oleh pihak tertentu.
Hingga saat ini, belum terdapat pernyataan resmi oleh pihak kampus terkait insiden yang terjadi. Namun, laporan terkait dugaan penipuan masih terus masuk ke redaksi. Belum terdapat kejelasan mengenai sejauh mana data mahasiswa telah terekspos atau digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ketiadaan informasi mengenai perlindungan data pengguna, jalannya investigasi, dan langkah pencegahan dari kampus turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa.
Sementara itu, laman SSO UNESA saat ini telah kembali normal dan dapat diakses seperti biasa. Namun, hingga kini belum ada penjelasan publik mengenai penyebab gangguan, pihak yang bertanggung jawab, maupun langkah penanganan yang bisa dilakukan. Ketiadaan komunikasi krisis dan transparansi dari pengelola sistem kampus memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa mengenai keamanan data pribadi mereka di tangan lembaga pendidikan. Terlebih, data yang tersimpan tidak hanya mencakup nama dan NIM, tetapi juga alamat, kontak pribadi, hingga rekam akademik.
Insiden ini menyoroti pentingnya respons terbuka dari pihak kampus, termasuk menyampaikan kronologi dan fakta teknis kepada civitas akademika, meningkatkan sistem keamanan digital secara menyeluruh, serta melibatkan ahli keamanan siber independen dalam audit terbuka. Transparansi perlu dijaga untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap pengelolaan data di lingkungan kampus.
Mahasiswa dan seluruh civitas UNESA juga diimbau untuk tidak merespons pesan mencurigakan, segera mengganti kata sandi akun kampus, dan melapor ke pihak berwenang jika mengalami indikasi penyalahgunaan data pribadi.
Pihak kampus perlu mengambil langkah penanganan yang menyeluruh dan melakukan penelusuran atas insiden ini, guna mencegah dampak yang lebih luas serta memastikan perlindungan data mahasiswa ke depannya.
Keamanan data tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga melibatkan kepercayaan publik dan akuntabilitas lembaga. Oleh karena itu, keterbukaan informasi menjadi langkah penting untuk menanggulangi dampak lanjutan dari insiden ini.
Penulis: Priyo Jatmiko
Editor: Alya





