Pada 6 Mei lalu, Silampukau, band folk asli Surabaya merilis album baru bertajuk Stambul Arkipelagia. Setelah 10 tahun tidak menelurkan apa-apa. Stambul Arkipelagia adalah oase bagi para penggemar yang haus akan karya dari band ini.
Namun, alih-alih menggambarkan Kota Surabaya seperti pada album sebelumnya yakni Dosa, Kota, & Kenangan, kali ini Silampukau memberi nuansa fiksi tentang sebuah negara imajiner bernama Arkipelagia. Pada lirik-liriknya kita akan menemukan aroma distopia yang digarap secara subtil dan cerdik. Hal ini sungguh berbeda dari album sebelumnya yang memotret sudut-sudut Surabaya dengan kacamata realisme.
“Pada masa-masa seperti ini, harga untuk bertahan di realisme-sebagaimana yang kami lakukan pada album yang lalu-menjadi terlalu tinggi. Jadi, selain berupaya untuk menjadi antitesis dari karya kami sendiri, anggap saja karya fiksi ini sebagai benteng terakhir kami untuk menjaga kesehatan jiwa,” urai Kharis Junandharu tentang mengapa memilih distopia sebagai tema album terbaru.
Album Stambul Arkipelagia dirilis secara bertahap. Pada 6 Mei 2025 kemarin, Silampukau hanya merilis sepertiga lagunya untuk album ini. Hal ini membuat salah satu penggemar penasaran dan tidak sabar.
“Padahal saya sudah sangat penasaran seperti apa lagu-lagu Silampukau pada album barunya kali ini. Pas tahu Silampukau merilis albumnya 6 Mei kemarin, saya langsung cek di salah satu platform, eh ternyata belum semua lagu yang dirilis, penasaran saya tidak jadi tuntas,” ucap Bintang Purnama Putra, salah satu penggemar Silampukau.
Perilisan berkala ini memang disengaja oleh Silampukau untuk memberikan efek tertentu bagi para penggemar.
Memang sengaja sepertiga awal dulu yang dirilis. Biar gereget-nya dapet. Kayak nonton series. Kita nikmati pelan-pelan, bareng-bareng,” ujar Kharis Junandharu saat ditanya tentang alasan mengapa strategi ini dipilih.
Penulis: Satria Al-Fauzi Ramadhan





