Resensi Novel “Cantik Itu Luka: Ketika Menjadi Cantik Adalah Sebuah Bencana”

0
526
Cover Buku Cantik itu Luka. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cantik_Itu_Luka

Pendahuluan

Eka Kurniawan telah mempublikasikan empat novel, empat kumpulan cerpen, dan satu esai selama karir penulisan gemilangnya. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa asing. Salah satu maha karyanya adalah novel Cantik Itu Luka yang mendapatkan penghargaan dari berbagai kalangan masyarakat, media, dan kritikus sastra. Pada tahun 2016, novel ini memenangkan penghargaan World Readers Award dan Best Translated Book Award (Fiction Longlist). Novel ini merupakan novel pertama karya Eka Kurniawan yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Novel ini memiliki genre romantis, sejarah dan realisme magis karena menggambarkan kisah sejarah kolonialisme di Indonesia.

Sinopsis

Saat akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalankan hingga ia memiliki tiga anak gadis yang semua parasnya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironis ia memberikan nama Si Cantik. Dewi Ayu yang berprofesi sebagai pelacur pada akhirnya memiliki anak dari pekerjaannya tersebut. Anak-anak Dewi Ayu, yakni Alamanda, Adinda dan Maya Dewi menurunkan kecantikan Dewi Ayu yang seorang campuran pribumi dengan orang Belanda. Ketiganya merupakan anak hasil dari pekerjaannya tanpa tahu siapa bapaknya. Berbeda dengan ketiga anaknya, pada saat hamil keempat, Dewi Ayu berdoa kepada Tuhan agar menjadikannya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan doa tersebut. Anak keempat yang diberi nama Cantik, adalah sosok dengan wajah monster.

Tak hanya sampai di situ, kisah tragis dialami anak Dewi Ayu yang paling bungsu, Si Cantik. Ketiga kakaknya menurunkan kecantikan dari ibunya, sedangkan si bungsu memiliki wajah buruk rupa sehingga ia harus mengurung diri di dalam rumah selama bertahun-tahun dan hanya menunggu pangeran datang menjemputnya.

Penutup 

Lewat novel tersebut, pembaca dapat menemukan pencampuran berbagai unsur, seperti sejarah, dongeng, fantasi, takhayul, legenda, yang dibalut humor satir serta berlatarkan masa pendudukan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, hingga rezim orde baru. Ditulis dengan metafora yang hiperbolis dan juga dihiasi unsur-unsur surealis, penulis menyajikan plot yang sangat menarik dengan alur yang sulit ditebak, memperlihatkan sikap tegas Dewi Ayu yang tidak mudah goyah pada prinsip hidupnya. Adanya alur maju dan mundur yang cukup rumit membuat pembaca perlu memahami benang merah keterkaitan antara cerita, penggunaan bahasa yang cukup berat, serta narasi dengan plot bercabang.

Penulis juga berani menggunakan kosakata yang cukup vulgar hingga menerapkan paham patriarki yang dapat memicu pro kontra di kalangan pembaca. Walaupun begitu, novel ini menyangkut berbagai hal serta memberikan banyak pengetahuan dan pesan moral. Novel ini juga mampu mematahkan spekulasi jika cantik bukan segalanya, cantik bukan lagi menjadi simbol kesempurnaan, cantik itu fana. Sebab cantik itu luka.

 

Highlight Slide kedua Oase:

Pada tahun 2016, novel Cantik Itu Luka memenangkan penghargaan World Readers Award dan Best Translated Book Award (Fiction Longlist). Novel ini merupakan novel pertama karya Eka Kurniawan yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Novel ini memiliki genre romantis, sejarah dan realisme magis karena menggambarkan kisah sejarah kolonialisme di Indonesia.

Saat akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalankan hingga ia memiliki tiga anak gadis yang semua parasnya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironis ia memberikan nama Si Cantik. Dewi Ayu berdoa kepada Tuhan agar menjadikannya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan doa tersebut. Anak keempat yang diberi nama Cantik, adalah sosok dengan wajah monster.

Novel ini mampu mematahkan spekulasi jika cantik bukan segalanya, cantik bukan lagi menjadi simbol kesempurnaan, cantik itu fana. Sebab cantik itu luka.

Penulis: Ardanti Dwi Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here