Jejak Mataram dalam Balutan Karya: Gelar Cipta ‘Mahatrakala’ Tampilkan Ragam Busana dalam Panggung yang Lebih Setara

0
253

Persgema.com, SURABAYA – Dalam upaya merepresentasikan lingkup waktu kebudayaan masyarakat wilayah Mataraman, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2021 Universitas Negeri Surabaya menggelar acara tahunan Gelar Cipta Karya ke-36 sebagai puncak mata kuliah Cipta Karya Busana. Peragaan busana ini digelar di runway terbuka, Halaman Gedung Rektorat Kampus Lidah Wetan UNESA, pada Sabtu (14/06/2025).

Gelar Cipta Karya tahun ini mengusung tema “MAHATRAKALA” yang diambil dari kata Maha yang berarti besar, Mataraman sebagai salah satu dari empat kultur kebudayaan terbesar di Jawa Timur, serta Kala yang berarti masa atau ruang waktu. Selain mengangkat warisan budaya, gelaran ini juga mendorong praktik inklusif, khususnya dalam akses komunikasi.

Sebanyak 225 koleksi busana hasil rancangan 75 mahasiswa dipresentasikan dalam pergelaran ini, terbagi ke dalam 6 studio di bawah naungan Fashionesa. Studio pertama, Askaramoksa, menggambarkan kehidupan Dewi Kilisuci yang berujung pada pertapaan abadi. Studio kedua, Rakasura, mengangkat cerita Totok Kerot. Studio ketiga, Kresnayana, mencerminkan relief Candi Penataran melalui motif cakra palah. Studio keempat, Thril Jaranenda, merepresentasikan tarian kesenian yang mencerminkan gerakan cepat, tangkas, dan lincah. Studio kelima, Jathil Manggalayudha, menampilkan kuda putih sebagai salah satu prasyarat bagi Dewi Songgolangit. Sementara studio keenam, Klono Sewandono, menggambarkan persembahan seni megah kepada Dewi Songgolangit sebagai upaya untuk mempersuntingnya.

Ketua Umum Gelar Cipta Karya, Aisyah Febi Alamanda Hurrin, menyampaikan lebih lanjut bahwa Mahatrakala mengangkat budaya dari ketiga daerah di Mataraman, meliputi wilayah Blitar, Kediri, dan Ponorogo. “Konsep Mataraman ini berfokus pada tiga lingkup budaya yang mengangkat peninggalan atau situs budaya, relief, dan cerita rakyat sebagai sumber ide dari tiga daerah tersebut,” ujarnya.

Dosen pembimbing, Dr. Sn. Inty Nahar, S.Pd., M.Ds., menuturkan bahwa Gelar Cipta Karya ini mengangkat kearifan budaya lokal Jawa Timur melalui interpretasi visual dari tiga daerah yang dirancang untuk mencerminkan nilai historis dan identitas daerah.

“Dengan Kediri sebagai kota sejarah yang pernah menjadi pusat peradaban Kerajaan Kediri, kami tampilkan dalam motif dengan detail ragam hias arca yang sangat penuh warna. Blitar yang merupakan tanah kelahiran sang proklamator, kami hadirkan dalam gaya busana yang menggambarkan semangat nasionalisme dan warisan Majapahit. Dan Ponorogo dengan kesenian Reognya yang mendunia, kami tuangkan dalam siluet teatrikal, ornamen bulu merak, dan topeng barong yang diolah menjadi elemen yang kuat namun elegan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan karya yang dipersembahkan dalam pergelaran ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan riset, diskusi, eksperimen, dan dedikasi. Setiap motif yang ditampilkan menjadi bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Jawa Timur. Ia berharap Gelar Cipta Karya Busana tidak hanya menjadi panggung kreasi, tetapi juga ruang edukasi untuk terus menghidupkan warisan budaya melalui busana, karya, dan peran generasi muda kreatif Indonesia.

Persembahan Karya Busana Studio Kresnayana

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd., M.Kes., juga turut menilai Gelar Cipta Karya tahun ini bukan sekadar ajang unjuk busana, melainkan ruang ekspresi gagasan yang merefleksikan kolaborasi, kreativitas, dan kontribusi nyata sivitas akademika terhadap budaya lokal. Ia menyebut tema “Mahatrakala” sebagai cerminan semangat Asta Cipta dan Dikti Berdampak yang mendorong karya mahasiswa tampil dalam skala yang lebih luas dan bermakna.

“Acara ini adalah panggung gagasan yang menyuarakan identitas nilai budaya, keberagaman, dan keberanian ekspresi. Inilah manifestasi nyata dari kampus yang berdampak, tidak hanya kebebasan ruang belajar, tetapi juga menghadirkan dampak positif yang terukur serta menuntaskan daya cipta para akademik,” ujarnya.

Tidak hanya menunjukkan karya visual, komitmen terhadap aksesibilitas juga tercermin dari kehadiran interpreter bahasa isyarat yang mendampingi sesi sambutan dan narasi acara. Peran interpreter ini menjadi bagian penting dalam memastikan informasi tersampaikan kepada teman Tuli sehingga tetap dapat mengikuti dan memahami keseluruhan acara. Inisiatif ini menjadi langkah konkret menuju kegiatan yang lebih setara dan ramah terhadap keberagaman.

Selain mengedepankan keberagaman, acara ini juga membuka peluang untuk mengenalkan kekayaan budaya lokal ke kancah internasional melalui kehadiran Vice President UNESCO WISDP, Jacobus Root. Dalam pernyataannya, ia mengaku terkesan dengan keseluruhan pergelaran, mulai dari kekuatan visual hingga penjelasan naratif yang menyertai setiap karya.

“Pertunjukan ini luar biasa. Saya merasa terhormat dapat menonton pertunjukan ini. Dengan penampilan karya yang sangat fantastis, dan pemberian penjelasan yang menarik dari setiap produk karya yang ditampilkan, saya yakin bahwa kreasi ini merupakan warisan dunia,” tuturnya.

Dengan begitu, Gelar Cipta Karya Busana tidak sekadar bentuk estetika, melainkan juga menjadi media ekspresi, komunikasi, dan pelestarian budaya. Setiap karya yang ditampilkan merefleksikan tidak hanya keterampilan teknis dalam menjahit dan mendesain, tetapi juga hasil riset budaya, pemahaman sejarah, dan nilai-nilai lokal yang diramu dalam visual elegan dan modern.

 

Penulis: Rizkyta Delima Wijayanti & Aisyah Rahmania P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here