Suarakan Kesetaraan dan Perlindungan Kelompok Rentan: Aksi Puncak Peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 Kepung Grahadi

0
149
(dokumentasi pribadi)

SURABAYA – Seruan massa menggema di sepanjang Jalan Basuki Rahmat hingga Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu 9 Maret 2026. Berbagai elemen masyarakat mulai dari buruh, mahasiswa, dan berbagai organisasi masyarakat lain melakukan long march menuju Gedung Negara Grahadi dalam aksi puncak peringatan International Women’s Day (IWD) 2026. Poster-poster tuntutan diangkat di atas kepala untuk menuntut keadilan.

International Women’s Day (IWD) tahun ini memiliki tema “Ayo Rek! Saling Jogo Saling Nguatno”, tema ini dipilih untuk menunjukkan kepedulian pada hak-hak perempuan dan kelompok rentan lain, serta sebagai bentuk semangat untuk saling menjaga dan menguatkan satu sama lain. Selain long march, mimbar bebas dan penampilan teatrikal menjadi bagian dari rangkaian aksi ini.

Dalam aksi ini, massa membawa 23 tuntutan yang mencakup berbagai isu, mulai dari perlindungan terhadap pembela hak asasi manusia, penghentian kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan, hingga desakan reformasi kebijakan di sektor ketenagakerjaan, pendidikan, lingkungan, dan militerisme.

Sebagian tuntutan juga menyoroti perlindungan bagi buruh perempuan, pengesahan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), serta penghentian berbagai bentuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Berbagai tuntutan dalam aksi kali ini disusun berdasarkan berbagai permasalahan yang masih sering dialami oleh perempuan dan kelompok rentan.

Joseph—koordinator aksi—menyampaikan bahwa dari banyaknya tuntutan, ada beberapa isu utama dalam aksi ini, yaitu menuntut kesetaraan hak-hak perempuan dan juga menuntut pemenuhan hak-hak buruh yang belum dijalankan oleh perusahaan. “Isu utamanya yaitu tentang feminisme yang menuntut kesetaraan hak perempuan, dan juga isu untuk menaikkan THR buruh dan pembayaran gaji kepada 1.400 buruh perusahaan,” ungkapnya.

Joseph juga menjelaskan mengapa isu yang diangkat dalam IWD 2026 tidak hanya berfokus kepada perempuan, “Kita di sini sebagai implementasi kekuatan perempuan yang tidak mengenal gender, dan membawa semangat kesetaraan dan perlawanan, oleh karena itu kita juga mengangkat isu-isu lain yang sama pentingnya untuk diperjuangkan,” ungkapnya. Setelah aksi ini dilakukan, ia berharap agar masyarakat Indonesia dapat lebih terbuka dalam memandang perempuan, dan berharap bahwa birokrasi segera merealisasikan berbagai tuntutan yang dibawakan pada aksi puncak peringatan IWD 2026 ini.

Eka Hernawati yang merupakan pengurus FSPMI dan merupakan salah satu massa aksi menyampaikan perhatian dan rasa prihatinnya terhadap buruh perempuan yang masih sering diabaikan hak-hak dasarnya oleh perusahaan, seperti cuti haid dan cuti hamil.

“Saya di sini bersama FSPMI menyuarakan tentang pemenuhan hak-hak dasar buruh perempuan oleh perusahaan, seperti cuti haid dan hamil. Karena banyak dari perusahaan yang masih tidak memberikan hak itu, padahal itu sudah tertulis di undang-undang dan merupakan hak dari buruh perempuan,” ungkap Eka.

Tidak hanya permasalahan hak dasar, menurut Eka, buruh perempuan juga kerap kali mengalami tindak kekerasan seksual di lingkungan perusahaan. Ia menjelaskan jika belum lama ini ia dan FSPMI mengadvokasi buruh perempuan di Jepara yang mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah satu pengusaha. Eka menegaskan agar buruh perempuan tidak takut untuk melapor dan meminta perlindungan ketika ia mengalami tindak kekerasan seksual di lingkungan perusahaan agar pelaku bisa dihukum dan mendapatkan efek jera. Ia juga menambahkan tentang pentingnya buruh perempuan untuk ikut berserikat agar ia bisa mendapatkan perlindungan ketika mendapatkan permasalahan.

Di bawah awan mendung kota Surabaya, dan di tengah kerumunan massa aksi yang membawa berbagai macam poster dengan slogan yang beragam, terdapat penampilan teatrikal dari salah satu organisasi mahasiswa. Melalui gerakan tubuh dan properti simbolis, teatrikal itu mencoba menerjemahkan penderitaan dan kekuatan perempuan dalam bahasa visual.

(penampilan teatrikal, dokumentasi pribadi)

Muhammad Taqy yang merupakan salah satu pemeran teatrikal menjelaskan jika penampilan yang ia lakukan menggambarkan kekuatan dari perempuan yang selama ini sering diabaikan, “Pertunjukkan ini menggambarkan jika perempuan juga memiliki kekuatan untuk berjuang dan melawan, meskipun cara-cara yang dipakai tidak selalu secara fisik seperti yang dilakukan laki-laki, contohnya kita bisa melihat perjuangan yang telah dilakukan oleh Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa di zaman yang kian represif dan pembungkaman yang kian masif, aksi melalui media seni perlu untuk dilakukan karena sebagai cara merawat api perlawanan, “Kita berdiri di sini dan menampilkan teatrikal ini adalah untuk tetap dan terus menyalakan api perlawanan”, menurut Taqy.

(berbagai poster yang dibawa massa, dokumentasi pribadi)

Aksi International Women’s Day 2026 di Surabaya bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi berbagai suara yang selama ini kerap dipinggirkan untuk saling bertemu, saling menguatkan, dan menyuarakan harapan akan perubahan. Dari long march, mimbar bebas, hingga ekspresi seni melalui teatrikal, seluruh rangkaian aksi ini menegaskan bahwa perjuangan atas kesetaraan, keadilan, dan perlindungan bagi perempuan serta kelompok rentan masih terus berlangsung. Di tengah massa yang memenuhi jalanan kota, pesan yang dibawa tetap sama, bahwa hak, martabat, dan ruang aman bagi setiap orang adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan bersama.

Penulis:
1. Devina Eka Salsabilla
2. Lexvi Fernando Hose

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here