Masyarakat Indramayu Rayakan Nadran, Tradisi Penuh Makna dan Warisan Leluhur

0
396

Persgema.com, INDRAMAYU — Berbagai elemen masyarakat dari berbagai latar belakang dan kalangan, seperti nelayan, pedagang, petani, anak muda hingga orang tua, turut andil dan antusias dalam prosesi ritual upacara adat Syukuran atau Selametan yang digelar di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, pada Minggu (25/06/2025). Acara ini diselenggarakan oleh KUD Misaya Mina, pemerintah desa setempat, serta para nelayan yang ada di daerah tersebut. Dalam masyarakat pesisir di Indramayu, acara ini lebih dikenal dengan istilah Nadran.

Mengacu pada situs resmi Kabupaten Indramayu, nadran adalah upacara adat bagi para nelayan di pesisir pantai utara Jawa. Dalam tradisi masyarakat, nadran juga dikenal sebagai Pesta Laut atau Sedekah Laut. Nadran adalah bentuk Syukuran dan Slametan yang dilakukan oleh semua komponen masyarakat atas hasil tangkapan ikan dalam melaut selama setahun penuh, dan mengharapkan adanya peningkatan rejeki, dengan tidak adanya aral melintang pada tahun mendatang.

Ritual upacara adat dalam prosesi nadran diawali dengan membuat replika perahu atau disebut kapalan yang dibuat oleh penyelenggara nadran. Setelah itu, para nelayan menyiapkan sesajian yang berisi kembang tujuh rupa, makanan khas daerah, serta kepala dan darah kerbau. Sesajian yang sudah disiapkan kemudian dikumpulkan pada replika kapal.

Selanjutnya, sesajian beserta replika kapal diarak bersama-sama secara beriringan menggunakan kapal-kapal nelayan—dari perahu kecil hingga perahu yang berukuran besar. Setibanya di tengah laut, sesaji dan kapalan tersebut dilarung sebagai simbol persembahan kepada laut, puncak dari seluruh rangkaian Nadran yang disambut dengan suka cita oleh masyarakat.

Kapalan—replika perahu yang digunakan dalam ritual Nadran. Dokumentasi oleh Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan Eretan Wetan.

Menjelang prosesi pelarungan, para pemilik perahu sibuk memperindah kapalnya. Berbagai ornamen seperti bendera warna-warni, buah nanas, makanan ringan pasar, hingga minuman kemasan seperti Coca-Cola dan Fanta digantungkan di badan kapal. Tak ketinggalan, di bagian haluan dan buritan perahu turut digantungkan tangkai tebu dan buah kelapa sebagai pelengkap simbolik.

 

Potret perahu nelayan yang ikut mengiringi dan mengarak sesajian. Dokumentasi pribadi

Bagi warga pesisir yang beprofesi sebagai nelayan atau yang mencari penghidupan di laut, nadran tidak hanya sekadar acara seremonial semata, tetapi nadran merupakan simbolisasi rasa syukur atas hasil tangkapan laut yang didapatkan selama setahun mencari penghidupan di tengah laut. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Ranito, salah satu nelayan yang telah melaut selama lebih dari 20 tahun.

“Nadran tidak hanya sebagai seremonial, tetapi juga sebagai syukuran atau selamatan oleh nelayan atas hasil tangkapan ikan yang didapat,” ujar Ranito.

Bagi masyarakat Desa Eretan Wetan, nadran tidak hanya sebagai prosesi upacara adat, tetapi juga dianggap sebagai pesta laut atau pesta rakyat. Oleh karena itu, dua minggu sebelum prosesi upacara ritual adat, desa sudah ramai dengan pasar malam yang terus berlangsung hingga beberapa hari setelah upacara adat diselenggarakan. Berbagai pertunjukan budaya, seperti organ tarling, wayang, dan kesenian sandiwara digelar bergantian mulai tiga hari sebelum acaraupacara diselenggarakan. Tahun ini, tradisi di Desa Eretan Wetan tersebut turut dimeriahkan dengan kegiatan baru, yaitu lomba futsal untuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dengan semangat gotong royong dan kecintaan pada warisan leluhur, nadran bukan hanya menjadi wadah pelestarian budaya, tetapi juga pengikat kebersamaan masyarakat pesisir. Di tengah arus modernisasi, pesta laut ini terus hidup sebagai bentuk kearifan lokal yang meneguhkan identitas dan harapan warga Eretan Wetan.

 

Penulis: Swandaru Aghni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here