900 Kamis Berlalu: Aksi Kamisan Surabaya Suarakan Tuntutan Keadilan Lewat Mimbar Bebas dan Seni

0
90
Dokumentasi Aksi Kamisan di Surabaya

Surabaya, 5 Maret 2026 — Aksi Kamisan Surabaya kembali digelar untuk yang ke-900 kalinya di Taman Apsari, tepat di depan Kantor Gubernur Grahadi, Surabaya, Jawa Timur.  Peringatan ini menandai perjalanan panjang gerakan masyarakat sipil yang selama hampir dua dekade menuntut penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Dalam peringatan ke-900 ini, kegiatan diisi dengan sejumlah rangkaian acara seperti mimbar bebas, pertunjukan teater, paduan suara, hingga lapak baca gratis. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai komunitas sipil, mahasiswa, serta masyarakat yang hadir untuk menyuarakan tuntutan keadilan.

Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Surabaya ke-900, Annisa Eka, mengatakan bahwa aksi ini menjadi simbol keberlanjutan gerakan yang telah berlangsung sejak 2007 di Surabaya. Meski telah berjalan hampir dua dekade, isu yang diperjuangkan tetap sama, yakni menuntut penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

“Isunya masih sama, semangatnya juga masih sama,” ujar Eka.

Dalam berbagai aksi Kamisan, peserta menyuarakan penyelesaian sejumlah kasus pelanggaran HAM berat yang hingga kini belum menemukan kejelasan hukum. Beberapa di antaranya meliputi tragedi kekerasan 1965, penembakan misterius (Petrus) pada 1980-an, Tragedi Talangsari 1989, Tragedi Trisakti dan Semanggi 1998–1999. Selain itu, pembunuhan masyarakat sipil oleh aparat keamanan, dan berbagai konflik di sejumlah daerah juga  menjadi perhatian dalam tuntutan aksi tersebut.

Aksi Kamisan pertama kali digelar di Jakarta pada 18 Januari 2007 oleh keluarga korban pelanggaran HAM berat bersama para aktivis hak asasi manusia. Aksi tersebut dilakukan secara rutin setiap hari Kamis di depan Istana Negara dengan mengenakan pakaian hitam serta membawa payung hitam sebagai simbol duka dan perlawanan terhadap impunitas. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya.

Pada Aksi Kamisan  ke-900 ini, kegiatan tidak hanya diisi dengan orasi serta mimbar bebas, tetapi juga melibatkan komunitas seni dan masyarakat luas.  Selain mimbar bebas, aksi ini menampilkan pertunjukan teater dari komunitas Teater Penggalih. Salah satu pemerannya, Dominikus Enrico atau yang akrab disapa Mas Breng, mengatakan bahwa pertunjukan tersebut terinspirasi dari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini.

“Teater sore hari ini menggambarkan kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini. Intinya, menegakkan keadilan kadang harus bertumpah darah,” jelasnya.

Menurutnya, pertunjukan teater dipilih sebagai cara untuk menyampaikan pesan yang berbeda dari Aksi Kamisan pada umumnya yang lebih banyak diisi dengan orasi.

Selain pertunjukan seni, kegiatan ini juga diramaikan dengan lapak baca gratis yang menyediakan berbagai buku bagi peserta aksi. Salah satu partisipan, Benni, mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, mengatakan bahwa keikutsertaannya didorong oleh keinginan untuk menjaga idealisme sebagai anak muda sekaligus berkontribusi dalam gerakan sosial.

“Sebagai anak muda yang masih memiliki idealisme, saya dan kawan-kawan ingin turut berkontribusi dan meramaikan aksi ini,” ujarnya.

Bersama rekannya, ia membuka lapak buku di area aksi sebagai upaya mendorong literasi di ruang publik sekaligus menyoroti berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat.

Peringatan Aksi Kamisan ke-900 ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang gerakan masyarakat sipil dalam menuntut penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Melalui berbagai bentuk ekspresi, mulai dari orasi hingga seni pertunjukan, peserta berharap agar keadilan terus disuarakan dan tidak dilupakan.

Penulis :Chantika Yuliana Intan Purwanti, Nabila All Anjari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here