MENGAJAR ATAU DIAJAR? PLP DAN KENYATAAN YANG TAK PERNAH DIBICARAKAN

0
8

Ruang kelas seharusnya menjadi tempat mahasiswa PLP membuktikan diri sebagai calon pendidik. Namun, tidak sedikit yang justru merasa “tertelanjang” di depan kelas, menyadari bahwa apa yang dipelajari di kampus belum cukup untuk menjawab realitas di lapangan. Alih-alih tampil percaya diri, mereka diliputi keraguan ketika berdiri di hadapan siswa.

Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) kerap diposisikan sebagai jembatan antara teori dan praktik. Di sinilah mahasiswa kependidikan diharapkan menguji kemampuan mengajar, memahami dinamika sekolah, serta beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang nyata. Bagi mahasiswa kependidikan, PLP bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan langkah awal untuk benar-benar menjadi seorang guru.

Mahasiswa ditempatkan di sekolah yang relevan dengan program studinya. Bagi mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi ruang praktik yang dianggap paling sesuai. Secara logis, keselarasan ini seharusnya memudahkan mahasiswa dalam menyampaikan materi. Namun, pengalaman di lapangan tidak selalu seideal yang dibayangkan.

Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami situasi paradoksal ketika mulai mengajar. Beberapa materi yang diajarkan di SMK ternyata belum dipelajari secara mendalam di perkuliahan, bahkan ada yang belum pernah diajarkan sama sekali. Akibatnya, ketika siswa mengajukan pertanyaan, mahasiswa sering kali tidak dapat menjawab secara langsung. Dalam satu situasi, ketika seorang siswa bertanya, suasana kelas mendadak hening dan mahasiswa hanya terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban yang belum sepenuhnya meyakinkan.

Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang harus mempelajari materi semalam sebelum mengajar keesokan harinya. Buku dan sumber belajar dibuka kembali, bukan sekadar untuk memperdalam, tetapi untuk mengejar ketertinggalan. Dalam kondisi seperti ini, proses mengajar dan belajar berlangsung secara bersamaan, bukan karena dirancang demikian, melainkan karena keadaan yang memaksa.

Fenomena ini memperlihatkan adanya celah yang bersifat struktural: ketidaksinkronan antara kurikulum perkuliahan dengan kebutuhan nyata di sekolah. Kampus seolah berjalan dalam ruang akademiknya sendiri, sementara sekolah, terutama SMK bergerak cepat mengikuti kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Akibatnya, mahasiswa PLP terjebak di tengah-tengah, dipaksa menjadi “siap” oleh sistem yang belum sepenuhnya menyiapkan mereka.

Di sisi lain, pengalaman ini tetap memberikan pelajaran berharga. Mahasiswa dihadapkan langsung pada realitas bahwa menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang kesiapan, penguasaan, dan kemampuan beradaptasi. Dunia pendidikan di lapangan menuntut lebih dari sekadar teori. Ia menuntut kesiapan yang utuh.

Pada akhirnya, menjadi guru memang menuntut kesiapan untuk terus belajar. Namun, belajar karena tuntutan profesional berbeda dengan belajar karena sistem belum mampu mempersiapkan. Jika PLP ingin benar-benar menjadi pijakan awal bagi calon pendidik, maka yang perlu dibenahi bukan hanya kesiapan mahasiswa, tetapi juga keberanian sistem pendidikan untuk berbenah. Sebab, guru yang baik tidak lahir dari tuntutan semata, melainkan dari sistem yang benar-benar mempersiapkan.

“pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” – Ki Hajar Dewantara

Penulis : Adelia Damayanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here