Blokosuto Art Exhibition: Seni sebagai Jembatan Empati terhadap Konflik di Kampung Pecinan, Tambak Bayan, Surabaya

0
363

Persgema.com (9/6/24) — Mahasiswa Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan pameran seni bertajuk Blokosuto di Kampung Pecinan, Tambak Bayan, Surabaya, pada 7 Juni sampai 9 Juni 2024. Pameran ini merupakan tugas dari mata kuliah Manajemen Seni, Seni Media Baru, dan 2D Lukis. 

Blokosuto Art Exhibition mengangkat tema sentral tentang konflik yang terjadi di Kampung Pecinan, Tambak Bayan, Surabaya, sebuah kampung pecinan di Surabaya yang terancam oleh pembangunan gedung-gedung baru saat itu. Ide tema ini muncul dari pengalaman pribadi kurator pameran, Muhammad Naufal Kurnia, mahasiswa Prodi Seni Rupa Murni. Ia melihat kontras antara citra Kota Surabaya sebagai kota metropolitan yang megah dengan realita kehidupan di Tambak Bayan yang penuh dengan konflik dan ketidakadilan. 

“Kalau ide itu awalnya berangkat dari pengalaman pribadi saya, sih, Kak. Jadi, saya melihat Tambak Bayan pada awalnya itu, ya, sebagai daerah Surabaya pada umumnya. Namun, ketika saya ulik dan meneliti tempat ini, ternyata dugaan saya mengenai kota Surabaya yang mana ada orang yang ‘belum merdeka’ ketika negara ini sudah memproklamasikan suatu kemerdekaan. Dan pameran ini, menurut saya, sebagai bentuk pengupayaan rasa empati dari  mahasiswa UNESA Seni Rupa Murni angkatan 2022 kepada warga Tambak Bayan, agar sekiranya bisa memberikan edukasi ataupun hiburan mengenai kesenian. Kurang lebihnya seperti itu, sih, Kak,” ungkap Muhammad Naufal Kurnia selaku kurator pameran tersebut.

Selain tema yang menunjukkan rasa empati, karya-karya seni yang dipamerkan dalam Blokosuto banyak jenisnya. Mulai dari lukisan 2 dimensi, pertunjukkan seni, hingga video art. Meskipun beragam, karya-karya ini memiliki benang merah yang mengikatnya, yaitu penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Tambak Bayan akibat konflik yang terjadi. Melalui seni, Mahasiswa Seni Rupa Murni UNESA ingin memberikan edukasi dan hiburan kepada masyarakat serta membangun rasa empati dan solidaritas terhadap perjuangan warga kampung pecinan.

“Saya rasa benang merah yang paling kuat, ya, itu salah satunya, pengalaman penderitaan itu tadi. Dan dari situ temen-temen timbul (perasaan) bahwa kamu tidak sendiri, kita bisa melakukan suatu kebersamaan, dan kita bisa menyuarakan suatu perlawanan terhadap pihak Hotel V3 itu melalui jalan kesenian ini. Itu, sih,” ucap Naufal.

“Apalah arti kesenian, bila terpisah dari penderitaan lingkungan.” lanjutnya.

Pameran ini menjadi bukti nyata bahwa seni bukan hanya tentang keindahan estetika, tetapi juga dapat menjadi alat untuk menyuarakan kritik sosial dan membangun perubahan. Blokosuto adalah contoh bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat, serta bagaimana kekuatan seni dapat digunakan untuk mengangkat isu-isu penting dan mendorong perubahan sosial. 

Feri Anggriawan, ketua pelaksana Blokosuto, mengungkapkan, “Ini kan baru awal, ya, Blokosuto. Nah, rencananya dari teman-teman sendiri, ada niatan mau dilanjut, ya, alhamdulillah, sih, (Blokosuto selanjutnya).”

Harapannya, Blokosuto dapat terus berkembang dan menjadi platform yang lebih besar bagi para seniman untuk menunjukkan karya mereka dan menjangkau khalayak yang lebih luas. (Llt, Irm, Rst, Atl).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here